Istimewa


Baru saja menemukan tulisan ini di folder pribadi. Berbulan-bulan tersimpan sampai saya lupa menerbitkannya di blog. Curahan hati yang tersurat beberapa hari saat persiapan exit dari Riyadh ke Indonesia medio Desember 2013.

Membacanya lagi saat ini seperti relaksasi tersendiri di sela-sela kesibukan mengurus sekolah. Izinkanlah saya bernostalgia dengan Saudi Arabia. Terlalu banyak hal yang luput tercatat dari Negara yang membuat saya jatuh cinta itu.

***

“Waktu cepat berputar bagi mereka yang berbahagia”. Saya sangat setuju dengan ungkapan ini.

Malam ini saya dan suami baru saja keliling sebagian Kota Riyadh. Di antara agendanya adalah mencari oleh-oleh untuk keluarga dan kawan-kawan dekat di Jakarta, Jogja, dan Balikpapan. Tetiba saya tersadar, dua tahun berlalu begitu cepat. Insya Allah beberapa hari lagi kami akan terbang ke Indonesia.

Salah satu tempat yang kami kunjungi sore ini adalah Suuq Diirah (Pasar Dirah), tempat kulakan parfum favorit Suami. Iya, selain menjalani perannya sebagai mahasiswa, suami juga suka nyambi jualan parfum. Maghribnya kami shalat di Masjid Jami’ tak jauh dari pasar itu. Bangunan keduanya masih satu kompleks.

Masjid ini tempat Syekh Bin Baz rahimahullah biasa menyampaikan duruus. Imam Maghrib tadi adalah Syekh Abdul Aziz Aalu Syaikh hafizhahullah. Beliau adalah mufti ‘aam (semacam ketua majelis ulama) Kerajaan Arab Saudi. Di masjid ini beliau menjabat sebagai imam tetap sekaligus pengajar sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Syekh Bin Baz dulu.

Lepas shalat saya harus bersabar menunggu suami datang. Rupanya beliau tadi masih menemui syekh untuk bertanya beberapa masalah atau menyampaikan titipan pertanyaan orang. Badan saya sampai menggigil karena lama menunggu di luar mushalla perempuan. Salah saya juga, sudah tahu musim dingin masih nekat meninggalkan mantel.

Kami harus balik lagi ke suuq untuk menyelesaikan transaksi yang tertunda. Tadi tokonya harus tutup karena sudah adzan maghrib. Sebagaimana aturan yang berlaku di Negara ini, semua toko harus tutup setiap waktu shalat tiba. Aih, suasana ini pasti akan bikin saya kangen berat dengan Riyadh.

Ketika menyusuri emperan toko-toko yang menghubungkan masjid dan pasar, air mata saya langsung meleleh. Melihat jalan-jalan di sekitar situ, orang-orang lalu-lalang, plang-plang toko dengan aksara Arab, semua memunculkan memori hidup saya selama dua tahun di kota ini.

Niqab saya basah tersapu air mata. Suami saya berjalan cepat-cepat di depan tak menyadari tangisan senyap saya (bahkan ketika mengedit tulisan ini mata saya banjir lagi).

Saya sedih membayangkan jika Allah takdirkan ini waktu terakhir saya di sini. Padahal saya betul-betul ingin kembali lagi ke negeri ini. Selaiknya impian mayoritas orang yang pernah melukis hari-hari bahagianya di sini, saya pun ingin kembali.

Benar, Indonesia memang membuat saya rindu berat khususnya keluarga. Namun meninggalkan Saudi pun terasa sama beratnya.

Bilang saya berlebihan. Tapi saya cinta negeri ini. Dulu saya pikir, Jogja tak ‘kan tergantikan. Beberapa bulan lalu saya berani bilang ke suami, “aku cinta Riyadh”. Sungguhlah benar Allah itu Maha membolak-balikan hati hamba-hambaNya.

Jauh-jauh hari ketika tahu saya sedih, suami selalu berucap, “harusnya tak perlu sedih, insya Allah kita pulang untuk mewujudkan cita-cita mulia”. Ucapan beliau rupanya belum mampu menghibur kesedihan saya.

Sekarang saya paham, mengapa kawan-kawan seperjuangan di Riyadh yang hengkangduluan itu juga dilanda melankoli final exit di masa-masa akhirnya di Saudi.

Pun saya mafhum, mengapa banyak saudari-saudari saya muslimah di Indonesia (termasuk saya dulu) bermimpi ingin menjejakkan kaki di negeri ini.

Saya merasakan sendiri betapa realita yang saya jalani di sini jauh lebih indah dari bayangan saya dahulu ketika masih di Indonesia. Hamdan laka ya Rabb…

Dengan menjadi muslimah saya merasa sangat dimuliakan di sini.

Seperti apa bentuk pemuliaannya dan nikmat menjadi muslimah di sini? Berikut ini beberapa contohnya.

#1. No more naik motor sendirian

Selain karena motor juga jarang ditemui di sini, seorang perempuan dengan penampilan seperti saya akan terlihat aneh jika jalan-jalan sendiri tanpa didampingi mahram. Alhamdulillah suami benar-benar jadi suami siaga (siap antar jaga) di sini. Kajian, jalan-jalan, belanja, makan di luar, semuanya saya nikmati bersama suami.

#2. Stop! Ada akhawat nyebrang

Berkali-kali saya mengalami sendiri dan menyaksikan di jalanan yang super ramai, ketika ada perempuan yang hendak menyeberang jalan, mobil-mobil otomatis berhenti memberinya kesempatan untuk menyeberang. Biasanya di Indonesia saya yang berlindung di samping tubuh suami. Tapi di sini terbalik. Hehe

#3. Perempuan? Silakan maju duluan

Masya Allah, ini jadi nikmat tersendiri juga untuk kaum wanita di sini. Di loket pembelian tiket bis atau saat masuk ruang tunggu terminal, yang namanya perempuan biasanya didahulukan. Di dalam bis antar-kota pun, penumpang perempuan selalu dapat seat di barisan depan bersama suami dan anak-anaknya.

Pada kasus safar umrah misalnya, penumpang-penumpang yang membawa keluarga selalu dipisahkan dari penumpang bujangan (baik bujang karena belum menikah atau karena meninggalkan anak-istri di negaranya) di bis tersendiri.

#3. Bilik Privasi di restoran

Pernah lihat bilik-bilik khas warung internet alias warnet? Kira-kira begitulah gambaran biliknya. Bedanya, bilik-bilik restoran di sini tersedia dalam beraneka ukuran, menyesuaikan jumlah anggota keluarga. Saya dan suami pastinya selalu memilih bilik terkecil, dengan kapasitas maksimal untuk 4 orang (dua kursi sisanya belum pernah terisi, hehe). Dengan adanya bilik-bilik tertutup ini saya bisa nyaman menikmati makanan tanpa memakai cadar.

#4. Female section.

Mereka yang pernah tinggal di Saudi pasti tahu fakta yang satu ini. Di bank, resto-resto cepat saji, atau kran-kran air Zam-zam di Masjidil Haram, tempat antrean perempuan dibuat terpisah dengan laki-laki.

#5. Mushalla wanita.

Khusus yang satu ini, sebenarnya ingin saya tulis di postingan tersendiri. Cuma saya tak bisa memastikan waktunya. Intinya, mushalla wanita di sini dirancang sedemikian rupa agar jamaah wanita merasa aman dan nyaman ketika beraktivitas di dalamnya.

#6. Sopir wajib berpendamping

Walau tidak berlaku untuk semua sopir, tapi umumnya sopir bis untuk kampus-kampus perempuan, madrasah banaat, serta madrasah TK mewajibkan sopirnya membawa pendamping alias mahram.

Dulu sewaktu masih jadi penumpang setia bis Darudz Dzikr, sopir bisnya juga selalu didampingi istrinya. Kalau istrinya absen, digantikan anak perempuannya yang sudah dewasa.

Saya pun punya teman yang suaminya pernah bertugas mengantar-jemput seorang mahasiswi Saudi untuk pulang-pergi kuliah. Kawan saya ini selalu mendampingi suaminya dalam tugas antar-jemput tersebut.

Tentunya aturan ini sangat baik karena menghindarkan seseorang dari perbuatan khalwat atau ikhtilath yang memang dilarang dalam syariat Islam.

#7. No more panggilan “ninjaaa!!”

Lha,bagaimana mau ngolok ninja atau yang sebangsanya ke muslimah bercadar, orang di sini mayoritas wanitanya bercadar. Lagipula, kata ninja sepertinya tidak dipahami maknanya di sini.

#8. Jadwal khusus keluarga

Satu lagi hal umum di Saudi adalah pemberlakuan jadwal kunjungan khusus untuk keluarga di lokasi-lokasi rekreasi, semisal kebun binatang, museum, atau di taman-taman besar yang berbayar. Hari-hari berkunjung untuk family dibedakan dengan jadwal men only. Jadi tindakan ini bisa meminimalisir kemungkinan berdesak-desakan dengan laki-laki di tempat-tempat tersebut.

#9. Halaqah dzikir bertebaran.

Saya baru menemukan kajian-kajian syaikhaat bertebaran di sini. Tidak seperti di Indonesia yang kajiannya lebih didominasi ustadz-ustadz. Di dekat rumah saya saja ada beberapa kajian rutin diisi oleh mu’allimaat. Kitab-kitab yang dibahas pun beragam (dan berat menurut saya untuk dibahas perempuan) mulai dari kitab Asmaa’ wa Shifaat, ‘Umdatul Ahkaam dan Shahih Bukhari.

Model kajiannya setipe dengan kajian para masyaikh. Ada satu thaalibah membacakan matannya, syaikhah atau mu’allimah yang menjelaskan matannya. Saya sampai takjub dibuatnya. Qaddarallaah karena jadwal kajiannya bentrok dengan jadwal kajian suami, akhirnya saya mengalah.

#10. Bonus-bonus lain.

Yang ini tak terhitung saking banyaknya. Jari-jari tangan saya sudah pegal juga untuk menuliskannya di sini.

Semoga kita semua dimudahkan ke Negeri Dua Tanah Suci.

Segera.

Tanpa menunggu lama.

Sepinggan, Balikpapan 28/8/1435 H

Verawaty Lihawa

Menyuruh-Melarang-Marah


Mengenai tiga hal ini, selama tahap persiapan sekolah, saya sering melakukan “riset” kecil bagaimana reaksinya jika dilakukan pada anak-anak usia dini. Obyek “risetnya” tentu saja anak-anak teman pengajar.

Contoh kasus menyuruh

ASY (6 th) baru saja menyelesaikan sarapannya. Pagi itu kami makan nasi kuning berjamaah di kantor. IS (salah satu pegawai sekolah), saya, dan ASY beranjak sama-sama ke kran untuk cuci tangan. Akhirnya terjadilah percakapan kurang lebih seperti ini.

IS: Kok cepat-cepat cuci tangannya, sayang? Ayo pakai sabun! Tangannya masih bau ikan lho.

ASY: Enggak mau, ah.

IS: Nanti bau lho tangannya..

ASY: Enggak apa-apa.

Saya (langsung menimpal): Eh, anak shalihah mau tahu bagaimana caranya biar tangan kita wangi?

ASY: Mauu. Gimana?

Saya (sambil cuci tangan): Ini lho, kayak ‘ammah. Tangannya dicuci pakai sabun. Hmmm, wangiii.

ASY pun langsung mencuci lagi tangannya dengan sabun. IS dan saya saling lirik tersenyum.

 

 

De Castarica JE3-2, Balikpapan, 23 Sya’ban 1435 H

Verawaty Lihawa 

Pekerjaan Baru


Belakangan ini sebagian besar waktu dan perhatian saya tersita dengan urusan persiapan sekolah yang sedang kami rintis. Saya diamanahi untuk jadi Kepala Paud di Lembaga Pendidikan Cahaya Ilmu. Lembaga ini berada di bawah pengawasan Yayasan Ath-thoifah Al-Manshuroh Balikpapan.

Bagaimana rasanya jadi Kepala Sekolah? Beraaaat. Bukan hanya kerjanya yang berat. Tanggung jawabnya juga besar. Percayalah, saya benar-benar tidak berlebihan.

Untuk pekerjaan ini saya dituntut untuk banyak belajar.

Maka mulailah saya berpetualang dalam bacaan-bacaan bertemakan tahap perkembangan anak, 8 kurikuler domain, 3 jenis permainan, 11 sistem tubuh manusia, jenis-jenis kecerdasan, yang semuanya hal baru bagi saya. Sungguh menantang!

Belum lagi program belajar diniyah untuk tim pengajar. Sejauh ini, program persiapan tim pengajar baru tahap belajar tahsin dan sedikit Bahasa Arab. Hapalan (Al-qur’an, hadits2, dan doa2) juga dipacu untuk harus dikuasai sebelum masuk tahun ajaran baru.

Untuk hapalan Al-qur’an diprioritaskan surat-surat yang akan diajarkan nanti ke anak-anak. Kawan-kawan di Tim alhamdulillah sudah hapal semua. Tinggal memantapkan makharijul hurufnya.

Alhamdulillah pernah merasakan suasana menghapal di Wisma Raudhatul Ilmi dulu. Jadi saya bisa mengadopsi model kartu kontrol hapalan wisma untuk digunakan tim pengajar.

Tim PAUD sendiri terdiri dari 7 akhawat. Hanya satu yang belum menikah. Sisanya Ibu Rumah Tangga semua. Bahkan salah satunya sedang hamil muda. Semuanya berpengalaman mengajar di TK. Usia kami pun rata-rata sepantaran. Jadi lumayan nyambung ketika terlibat dalam banyak diskusi. Saya terharu bahagia melihat semangat mereka semua. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Semoga Allah kokohkan persaudaraan kami semata karenaNya dan dimudahkan masing-masing kami mengemban amanah besar ini dengan kesabaran dan keihkalasan tiada habisnya.

Eh, ceritanya mau diakhiri tapi tiba-tiba teringat ucapan Ummu Fida ketika sharing dengan Tim PAUD Cahaya Ilmu. FYI, Ummu Fida ini adalah Kepala PAUD Ihyaus Sunnah Tasikmalaya. Sekitar dua pekan lalu beliau mengisi daurah di Sekolah Ibnu Umar Balikpapan. Di kesempatan diskusi itu, Ummu Fida sempat melontarkan ucapan, orang-orang yang bekerja di lembaga pendidikan itu adalah orang nekat. Mengapa? Mereka paham bahwa pendidikan anak itu sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Tapi mereka nekat mau mengambil alih sebagian tanggung jawab tersebut.

“Jadi, Ummu Ruumaan ini juga orang nekat , dan dia dibantu oleh kawan-kawan yang nekat pula.” Kami pun spontan tersenyum lebar.

 

 

Balikpapan Regency de Costarica JE3/2

Verawaty Lihawa

Sapa Sejenak


Ahlaaan…

Sejak pulang ke Indonesia, hidup rasanya heboh” betul setiap hari. Alhamdulillah sudah hampir empat bulan kami di Balikpapan. Kegiatan di sini lumayan menyita waktu, alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Pada kondisi-kondisi tertentu masih merindukan Saudi. Di sini, kembali ke realita, sodarah-sodarah. Musik hampir di setiap tempat ada. Sudah di dalam rumah aja telinga ini enggak selamat dari musik. Allaahul Musta’aan. Gimana mo nambah hapalan niiih. Kalau soal apa-apa mahal di Balikpapan, enggak perlu dibahas lah ya. Tapi segini-gininya Balikpapan dan secinta-cintanya kami tinggal di Saudi, insya Allah kami bahagia bisa kembali ke sini. Bisa dekat dengan keluarga. Bisa berdakwah ke mereka juga.

Teringat nasihat si Kakang Suami, “Saudi itu tempatnya ngisi amunisi ilmu. Tempat “berperang” kita itu ya di Indonesia.” Jadi untuk teman-teman yang masih merasakan nikmat tinggal di Negeri 2 Tanah Suci, ayo semangaaaat ngisi amunisi ilmu.

Akhirul kalam, kami, sebagaimana saudara-saudara ahlussunnah lainnya, masih punya impian untuk bisa hidup di Saudi (lagi). Aaahhh, kami kangen Haramain.

Razaqanallaahu wa iyyaakum ziyaarata baytihil muharram ‘aajilan ghaira aajil.

 

@ Lt.2 Masjid Imam An-nasa’i, Balikpapan

Verawaty Lihawa

Indahnya Persaudaraan di Jalan Allah

card edit

card edit

Tiba-tiba saya menemukan kartu ini. kartu yang saya terima hampir sebulan yang lalu. Kartu yang manis dari kawan-kawan sekelas saya di Madrasah Daarudz Dzikr. Baris-baris katanya membuat saya tak mampu menahan air mata ketika membacanya.

card1 edit

Untuk Saudari kami, Verawaty.

Kami memohon kepada Allah, agar Dia memberkahimu senantiasa.

Melimpahkan untukmu kebaikan di dunia dan akhirat.

Aamiin…

Insya Allah kita akan berkumpul di jannah, di bawah naungan Allah.

Aamiin…

Fii aamaanillaah,

#Saudari-saudarimu dari kelas Mustawaa Raabi’#

——————————————

Pagi itu memang hari terakhir saya ke Daar. Dan kawan-kawan saya ini ternyata telah menyiapkan haflah mufaaja’ah (surprise party) untuk perpisahan saya. Ah, terharunya.

Hampir semua mu’allimaat hadir di kelas. Mereka, satu per satu, mendoakan saya. Mengalungkan nasihat dan wasiat indah ke hati saya.

Dua tahun kami bersama di sekolah tercinta. Dari berbagai penjuru negeri, Allah kirim mereka untuk menghiasi lembaran hidup saya selama di Negeri Dua Tanah Suci.

أحبكن في الله يا أخواتي

أستودعكن الله الذي لا تضيع ودائعه

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 12 Shaffar 1435 H

Verawaty Lihawa

Shalawat

edit3

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Kecelakaan atas seorang hamba yang namaku disebut di sisinya lantas dia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. At-Tirmizi no. 3545 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Kami’ no. 3510)

edit3
Wadi Namar, Riyadh

Ketika menjalani kehidupan awal di Riyadh dan mulai berasimilasi dengan masyarakatnya, ada satu kebiasaan mereka yang membuat saya terkesan. Di beberapa kesempatan, semisal kajian di masjid, halaqah tahfidz, atau di kelas Bahasa Arab, kebiasaan mayoritas yang hadir di situ adalah, mereka senantiasa mengucapkan shalawat ketika nama Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam disebut.* Suatu kebiasaan yang jarang saya dapati di negeri tercinta.

Awalnya saya berasumsi, perilaku ini hanya tersebar di kalangan mutadayyiniin (agamis/relijius). Dugaan saya ternyata keliru. Di tempat kerja saya dulu, yang mengharuskan untuk bersingungan dengan madam-madam Saudi, saya pun menemukan kebiasaan yang baik ini dari mereka.

Misalnya ketika ada madam yang nanya, “apa pelajaran yang diajarkan ke khaadimah (Asisten Rumah Tangga)?” Pas saya jawab tentang sunnah-sunnah Nabi sehari-hari, si madam ini refleks mengucapkan ‘shallallaahu ‘alaihi wasallam” ketika saya menyebut kata “Nabi”.

Jangan dikira madam-madam ini semuanya belajar agama, lho ya. Di antara mereka ada juga yang awam, hanya bermodalkan harapan bisa meraih pahala, dengan mengirimkan khaadimah mereka untuk belajar dan menghapal Al-Qur’an di maktab dakwah tempat saya kerja.

Dan, masya Allah! Takjubnya saya menyaksikan Mbak-mbak TKW itu, tatkala dibacakan kepada mereka hadits Nabi, lalu sampai pada kalimat “Beliau atau Rasulullah atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda”, mereka lantas berucap “shallallaahu ‘alaihi wasallam” dengan suara lirih serempak. Padahal di kelas belum dapat materi tentang keutamaan shalawat, lho.

Tertular majikan?

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 15 Muharram 1435 H

Verawaty Lihawa 

—————————————

* Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56)
Imam Al-Bukhari berkata, “Abul Aliyah berkata, “Shalawat Allah Ta’ala kepada beliau adalah pujian-Nya kepada beliau di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat (kepada beliau) adalah bermakna doa (mereka untuk beliau).”

* Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشَرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya 10 kali”. (HR. Muslim: 384).

Tautan: al-atsariyyah.com

#ArabicDiary: Shalih

shalih

 

Dalam Bahasa Arab, kata “shaalih” (صالح) memiliki beberapa makna. Di antaranya:

#1. “Shaalih” bermakna “munaasib” (مناسب). Artinya, cocok atau sesuai.

Contoh kalimat: هذا البيت صالح للسكن

– Hadza’l baitu shaalihun lis sakn

– “Rumah ini cocok untuk ditinggali.”

#2. “Shaalih” bermakna “jayyid” dan “naafi'” antonimnya “Faasid” (جيد و نافع عكس فاسد). Artinya, bagus, berguna, dan kebalikan dari kata “rusak”.

Contoh kalimat: مازال هذا الطعام صالحا في الثلاجة بعد أسبوع

 – Maa zaala hadza’th tha’aamu shaalihan fi’ts tsalaajah ba’da usbuu’.

– “Makanan ini masih segar setelah 1 minggu di kulkas”

#3. “Shaalih” bermakna “mustaqiim” (مستقيم). “Mustaqiim” di sini maksudnya, senantiasa mengerjakan perkara yang diperintahkan (يؤدي ما أمر به)

Contoh kalimat: كان أبو سعيد رجلا صالحا 

– Kaana Abuu Sa’iidin rajulan shaalihan

– “Abu Sa’id adalah lelaki yang shalih.”

***

Nah, ada yang mau coba bikin kalimat dengan kata “shaalih” berdasarkan makna-makna yang sudah dijelaskan di atas? Atau mau bagi-bagi faidah? Ditunggu di kolom komentar ya.

Semoga bermanfaat dan jangan segan untuk mengoreksi jika salah. Baarakallaahu fiikum.

*Faidah kitab Bahasa Arab Mustawaa Raabi’, terbitan Madrasah Daarudz Dzikr, Riyadh.

** Gambar ditaut dari sini.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Muharram 1435 H.

Verawaty Lihawa

Rahasia Dahsyat Istighfar

Pic was taken by me

Pic was taken by me
Pic was taken by Verawaty Lihawa

Saudara-saudariku, seorang laki-laki pernah menemui Syaikh Bin Baz rahimahullahu ta’ala dan berkata kepada beliau, “Wahai Syaikh, sudah 7 tahun aku belum juga dikaruniai anak.”

Tidaklah Syaikh mewasiatkan kepadanya kecuali dengan satu kalimat saja, “Perbanyaklah istighfar.”

Sungguh, setelah setahun berlalu, lelaki ini datang lagi kepada Syaikh Bin Baz untuk mengabarkan kepada beliau, bahwa istrinya sedang hamil.

***

Hasan al-Bashri rahimahullahu ta’ala pernah didatangi seorang laki-laki. Orang tersebut mengadu kepada al-Hasan, “Langit belum juga menurunkan hujan.”

Berkata al-Hasan: “Perbanyaklah istighfar.”

Lalu datang lagi seorang yang lain untuk mengadukan kefakirannya.

“Perbanyaklah istighfar,” ucap Hasan al-Bashri.

Kemudian datang lagi seorang yang lain dan berkata kepada al-Hasan, “Istriku mandul tidak bisa memiliki anak”

“Perbanyaklah istighfar,” jawab al-Hasan.

Mendengar jawaban-jawaban Hasan al-Bashri kepada setiap yang mengadukan kondisinya, orang-orang di tempat itu pun bertanya kepada beliau rahimahullah, “Apakah engkau selalu mengucapkan ‘perbanyaklah istighfar’ kepada setiap orang yang datang (mengadu) kepadamu?”

Hasan al-Bashri lantas berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian membaca firman Allah subhaanahu wa ta’ala, 

                              فقُلْتُ اسْتغْفِرُوا ربّكُمْ إِنّهُ كان غفّارا يُرْسِلِ السّماء عليْكُمْ مِدْرارا ويُمْدِدْكُمْ بِأمْوالٍ وبنِين ويجْعلْ لكُمْ جنّاتٍ ويجْعلْ لكُمْ أنْهارا

“Maka aku katakan kepada mereka; ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’” (Q.S. Nuh: 10-12)

Allahu akbar! Saudara-saudariku, semua ini barulah kenikmatan dunia. Maka bagaimana lagi dengan yang di akhirat? Tidakkah cukup bagi kita, bahwa istighfar itu mampu menghindarkan seorang muslim dari adzab?

Sesungguhnya ada dua hal yang membuat seseorang selamat dari adzab Allah.

Pertama, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yakni kehadiran Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di antara suatu kaum).  Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka” (Q.S. Al-Anfal: 33).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma tentang ayat ini. “Allah tidak akan mengadzab penduduk suatu negeri sampai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman keluar dari negeri tersebut.” Kedua, istighfar (yaitu, orang-orang yang senantiasa memohon ampun kepada Allah). Firman Allah subhaanahu wa ta’ala,

وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (Q.S. Al-Anfal: 33).

***

Maka mulai kini, jangan pernah kalian tinggalkan istighfar, wahai saudara-saudariku yang mulia. Karena untuk yang demikian itu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طوبى لمن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً 

“Berbahagialah mereka yang mendapati lembaran-lembaran amalnya dipenuhi dengan istighfar yang banyak.” (H.r. Ibnu Majah, An-Nasa’i, dan Ath-Thabrani.)

Tak perlu kita malu dan ragu untuk membiasakan lisan beristighfar, saudara-saudariku. Mulailah dari diri kita sendiri, tanpa harus dilihat orang lain. Ucapkanlah, “astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.”

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya.

*Diterjemahkan dari video berbahasa Arab, kiriman dari seorang kawan Nigeria hafizhahallaah, dengan tambahan seperlunya.

** Referensi:

– Al-Qur’an Al-Karim cetakan Madinah

– http://islamweb.net

Diselesaikan di Riyadh, KSA, 2 Muharram 1435 H / 6 November 2013

Verawaty Lihawa  

Dia yang Akhirnya Memikatku

Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab.
Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan  nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).

Saya termasuk orang yang senang belajar bahasa. Dahulu, keinginan saya adalah bisa menguasai banyak bahasa; bahasa daerah maupun mancanegara.

Senang rasanya bisa mengenal beberapa bahasa, walaupun ekspektasi saya di atas tak tercapai.

Bagi setiap individu, termasuk saya tentunya, proses belajar bahasa itu dimulai dari lingkungan keluarga dekat. Bahasa pertama saya sudah pasti bahasa kedua orang tua saya, Bahasa Gorontalo. Keluarga besar saya memang berdarah Gorontalo asli.

Bahasa kedua yang saya kenal adalah Bahasa Bolango. Bahasa ini digunakan masyarakat Molibagu, suatu ibukota kabupaten yang terletak di selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Waktu itu, Papa saya kebetulan dimutasi ke Molibagu, Ibukota Kecamatan Bolaang Uki. Maka mulailah kami sekeluarga mengakrabi Bahasa Bolango tersebut. Saya mulai bersinggungan dengan bahasa ini sejak duduk di bangku kelas 3 SD  sampai kelas 2 SMP

Berhubung teman-teman sepermainan saya di Molibagu berbicara dengan Bahasa Bolango (tepatnya Melayu-Bolango), mau-tidak mau, saya pun latah bertutur dengan bahasa tersebut. Namanya juga masih bocah, kemampuan menyerap bahasa bisa dibilang masih cemerlang. Alhamdulillah tak ada kesulitan dalam beradaptasi dengan bahasa ini. Hanya saja imbasnya, saya perlahan meninggalkan kebiasaan bertutur dengan Bahasa Melayu-Gorontalo.

Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang riang. Pic was taken by Vicky Kembara. Foto-foto lainnya bisa dilihat di http://www.panoramio.com/user/1462290?comment_page=2&photo_page=1
Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang penuh keriangan.
Gambar milik Vicky Kembara

Saya mengakrabi lagi Bahasa Melayu-Gorontalo ketika pindah SMP ke Kotamadya Gorontalo. Sampai tamat SMA, saya tetap setia dengan bahasa ini. Mulai saat itu pula, saya membiasakan lisan bertutur dengan Bahasa Gorontalo asli, ketika mengobrol dengan orang tua.

Perlu diketahui, Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo itu beda ya. Kalau Melayu-Gorontalo, mudah sekali ditangkap artinya oleh orang-orang yang tidak berbahasa Melayu-Gorntalo. Adapun Bahasa Gorontalo, atau “bahasa planet” kata teman-teman kos saya di Jogja, tidak semua orang bisa paham. Kebanyakan hanya orang-orang tua saja yang masih setia menggunakan bahasa ini. Yang muda-muda, sayangnya, hanya sampai level Melayu-Gorontalo, meski mereka juga paham Bahasa Gorontalo. 

Kalau mau tahu perbedaan pengunaan Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo, ini dia contohnya.

* Saya somo pigi ka Jakarta (Melayu-Gorontalo)

 Artinya: Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

* Watiya ma mona’o de Jakarta  (Gorontalo) ———————> CMIIW

Artinya:  Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

Beda jauh kaaan?

Bahasa selanjutnya (baca bahasa asing pertama) yang saya pelajari adalah Bahasa Inggris.  Bahasa ini baru saya pelajari di bangku awal SMP. Saya lumayan tergila-gila waktu itu dengan Bahasa Inggris. Sampai beberapa curhatan saya di diary, saya tulis dengan Bahasa Inggris. Makin kecanduan lagi gara-gara keseringan nonton sala satu saluran TV luar negeri.

Selang kemudian, akhirnya saya sadari, bahwa kanal yang sering saya tonton dulu itu, enggak pantas banget untuk anak SMP (bahkan untuk semua usia, kalau mau pakai prinsip saya sekarang). Sayangnya, waktu tahap “kecanduan” Bahasa Inggris itu, Papa saya tidak sanggup membiayai kursus Bahasa Inggris. Waktu itu tahun 1998, pas banget krisis moneter, kan ya? Lagian, mana bisalah mau kursus, orang di kecamatan saya juga tak ada satupun lembaga kursus Bahasa Inggris. *dijitak massa* Ada sih, les-les gitu, tapi yang ikut mayoritas anak SMA (kawan-kawan kakak saya). Saya kan maluuuuuu, kakak! Pengajarnya juga guru Bahasa Inggris kakak saya di SMA-nya dia.

Sampai sekarang saya tak pernah mencicipi yang namanya les Bahasa Inggris ala lembaga kursus gitu. Kasian amat yak? Eh, tapi pas kuliah, sempatlah satu semester ikut mata kuliah Bahasa Inggris. Makanya, kemampuan Bahasa Inggris saya sampai sekarang, ya segitu-gitu aja. Sampai di level kindergarten ajalah pokoknya.

Tahun 2002, saya berlayar ke Jogja. Kota impian saya sejak di bangku akhir SMA. Kota yang memenuhi lembar-lembar diary saya ketika masih berseragam putih-abu-abu. “Aku haru harus kuliah di sana, pokoknya” begitu salah satu potongan isi buku harian saya. Alhamdulillah, ternyata saya betulan juga terdampar di kota penuh kenangan dan saya cinta itu. *lirik mamas “teman serumah”*

Di Jogja inilah, petualangan saya beradapatasi dengan Bahasa Jawa dimulai. Bahasa yang benar-benar asing buat saya. Proses belajarnya, saya bilang, benar-benar dicekoki paksa. Bayangin aja, di kampus, teman-teman saya yang orang Jawa anti banget berbahasa Indonesia. Saya pikir, mereka itu susah, apa males ya, ngomong berbahasa Indonesia. Tiap ativitas diskusi tugas kelompok, teman-teman Javanese ini, mestiiiii selalu berbahasa Jawa. Saya awal-awal sempat stres dengan masalah bahasa Jawa ini.

Lama-lama, karena punya konco dekat sekos asli Ngawi, yang logat Jawanya medok pake banget, saya jadi banyak paham Bahasa Jawa. Tentunya Bahasa Jawa khas Jawa Timur yang aksennya beda jauh dengan Jogja. Tahu kan, Bahasa Jawa a la Jogja yang halus itu? Akhirnya makin ketagihan berbahasa Jawa pas ikut salah satu UKM di kampus. Soalnya 99% penduduk UKM itu berbahasa Jawa. Tapi Bahasa Jawa saya juga masih yang cetek gitulah. Paling enggak, masih bisa dipakai untuk ngobrol dengan teman-teman Jogja yang ketemu di Riyadh. Jawa Kromo? Jauuuuuhh… 

Di bangku kuliah, saya sempat juga “mencicipi” beberapa program bahasa yang rutin per semester diadakan tetangga fakultas saya (Fakultas Ilmu Budaya), semisal kelas Bahasa Spanyol, Italia, dan Prancis. Sekarang, jangan tanya deh, kemampuan saya di tiga bahasa ini. M.I.N.U.S. (tuh, sampe di-bold dan underlined, lho). Namanya juga mencicipi. Khusus Bahasa Spanyol, sebenarnya sempat juga diseriusin. Soalnya, dulu cita-citanya pengen ke Spanyol. Alhamdulillah enggak kesampaian, malah diganti ke negeri yang lebih baik. *Sujud syukur*

Suatu siang, pas mau cari makan bareng sahabat tercinta, kami lihat mas-mas bercelana cingkrang (istilah celana di atas mata kaki), baru aja nempelin poster info kursus Bahasa Arab di papan informasi, dekat warung makan favorit. Mendekatlah kami ke poster itu.

“Ikut yuk Mba kursus Bahasa Arab yang ini. Asik loh, Bahasa Arab itu.” ajak si Sahabat.

“Enggak ah. Kamu aja yang ikut sana. Kan kamu udah pernah belajar, jadi udah bisa. Aku mau kursus yang lain aja dulu,” jawab saya dodol.

Padahal apa hubungannya coba? Harusnya kan kebalik ya? Saya mestinya yang paling berhak ikut tuh, karena pengetahuan Bahasa Arab saya NOL. Tapi tetap aja, saya belum terpikat sama sekali. Bingung juga, sih, waktu itu. Yang terlintas di kepala,  “Duh, Bahasa Arab ini nanti kepakai di kerjaan apa ya?”.  Maaak…sempitnya pikiran saya.

Lalu, apa kabarnya kelas macam-macam bahasa yang saya cicipi di tetangga fakultas setelah itu? Berhubung, mulai semester berapa gitu, kelas bahasanya sudah berbayar, akhirnya, saya dadah2 bye-bye deh, sama pelajaran-pelajaran itu. Ah, modal gratisan memang saya ini.

Tahun 2008, tahun di mana saya memulai hidup baru yang lebih bermakna (baca masa awal mengenal manhaj as–Salaf as-Shaalih), adalah masa pertama saya belajar Bahasa Arab. Ya, bahasa yang saya tolak mentah-mentah waktu diajak Sahabat untuk mempelajarinya. Bedanya, kali ini saya yang bersemangat. asli tak ada paksaan.

Saya harus mulai belajar sesuatu yang bermanfaat untuk akhirat saya, sebagai bayaran atas waktu yang terbuang percuma di tahun-tahun kemarin. Bahasa Arab bahasa Al-Qur’an, yess? Sudah pasti berhubungan dengan perkara akhirat.

Pagi-pagi, habis salat subuh, dengan perasaan gembira yang tak terlukiskan, saya dan sahabat saya menyusuri Jalan kaliurang KM.5,6 menuju Pogung Kidul, lokasi belajar Bahasa Arab kami ketika itu.

Kitab yang kami pakai judulnya “Al-Muyassar Fii ‘Ilmin Nahwi”. Dari judulnya sudah tahu dong, kalo kitab ini membahas ilmu nahwu. Daaaan…muka saya yang tadinya cerah ceria, mendadak jadi “bingung-face” dengan kening yang harus sering berkerut-kerut, saking tak pahamnya.

Materinya rasanya beraaaaaat bagi saya. Bersyukur Ibu Guru (semoga Allah menjaganya) sabar sekali, mau mengulang-ulang penjelasan. Kejutannya, di antara 4 atau 5 orang yang ikut pelajaran pagi itu, saya aja satu-satunya yang sekali pun belum pernah belajar Bahasa Arab. Kawan-kawan saya ini lulusan pesantren, gituh. Mungkin mereka sempat juga melirik-lirik jengkel ke saya, karena banyak bab yang saya minta untuk diterangkan berkali-kali. Sementara mereka sudah pengen cepat-cepat ganti bab.

Tapi asli, biar dikata judulnya Al-Muyassar (yang dimudahkan), saya merasa materinya itu susah sekali untuk level sangat pemula semacam saya. Qadarullah, belajarnya enggak tamat karena ustadzahnya sibuk ngurus-ngurus pernikahannya. Jazaahallaahu khairaa.

Singkat cerita, dari saat pertama belajar Bahasa Arab itu, proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini. Sejak mengetahui keutamaan dan urgensi Bahasa Arab, saya berusaha memaksa diri, untuk tidak patah semangat mempelajarinya. Yah, walau diakui rasa bosan itu tetap banyak melanda.

Alhamdulillah, rasanya ada sedikit peningkatan dalam bahasa Arab, jika dibandingkan dengan diri saya yang dulu. Walau belum bisa dibilang mahir, hebat, pakar, jago, dan sejenisnya, paling tidak (bifadhlillah), ada perubahan.

Apalagi setelah diberi nikmat bisa hidup di negara yang bahasa tuturnya adalah Bahasa Arab. Di sini, kegiatan belajar Bahasa Arab itu tersaji di mana-mana. Dari TV, radio, kajian di masjid-masjid, toko-toko, pun di sekolah-sekolah. Mata dan telinga kita jadi terbiasa dengan kalimat-kalimat Bahasa Arab.

Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab. Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan  nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).
Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab.
Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).

Kesimpulannya, di antara sedikit bahasa yang pernah bersinggungan dengan hidup saya, Bahasa Arab inilah yang bisa dibilang CANDU. Candunya hanya bisa dirasakan orang-orang yang juga jatuh cinta dengan bahasa ini. Enggak percaya? Coba deh, kenalan mulai sekarang!

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Q.S. Yusuf: 2)

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 20 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Menikmati Indahnya Telaga Wadi Hanifah

edit3

Mumpung masih di Riyadh, bagi-bagi cerita rihlah dulu, aaahh. Cerita ini udah basi banget sebenarnya. Sekitar setahun lebih kalau enggak salah.

Sebagaimana kebiasaan saya dan suami selama di Riyadh, kalau rihlah hampir enggak pernah berdua. Mesti pikniknya selalu berombongan dengan kawan-kawan Indonesia lainnya. Rasanya seru aja gitu. Sekalian mempererat ukhuwah dengan teman-teman yang memang jarang-jarang ketemu, karena-mungkin-rumahnya jauhan.

Nah, rihlah ke Wadi Hanifah ini pun demikian. Waktu itu berangkatnya dengan tiga keluarga lainnya; keluarga Mba Maryam Ummu Ukasyah, Mba Dela Ummu Aisyah, sama Maya Ummu Rumaisha. Kami menumpang mobil Ummu Aisyah atau Ummu Rumaisha (saya agak lupa), karena suami belum punya mobil waktu itu.

edit2

Sampai di Wadi Hanifah, mata saya cuma bisa menatap takjub. Subhaanallaah! Pemandangannya bagus banget. Namanya juga tinggal di daerah padang pasir, pasti takjub plus norak sangat bisa lihat panorama yang ada air-airnya gini.

edit3

Soal Wadi (lembah) Hanifah ( وادي حنيفة ) ini, menurut Mbah Wiki, ia adalah lembah di wilayah Najd (sekarang bernama Riyadh) yang memanjang sekitar 120 km (75 mil) dari utara ke selatan, memotong Kota Riyadh, yang dikenal sebagai Ibukota Arab Saudi.

Nama lembah ini diambil dari suku Arab kuno, Bani Hanifah, suku paling terpandang yang mendiami wilayah lembah tersebut pada awal datangnya Islam. Sebelum berubah nama menjadi Wadi Hanifah, lembah ini lebih dikenal dengan al- ‘Irdh (العرض). Di sepanjang lembah, berlokasi beberapa kota dan desa, di antaranya Uyaynah, Jubailah, Irqah, Diriyyah, dan Ha’ir.

edit4

Namanya juga piknik keluarga, kegiatannya sudah pasti tak jauh-jauh dari yang namanya ngobrol, ngawasin anak-anak main, bakar-bakar ikan, lalu…makan bareng di tepi telaga sambil mandangin jernih airnya. Masya Allah! Ibu-ibunya, sih, duduk-duduk cantik aja sambil menata makanan dan ngobrol-ngobrol, dari masalah seputar anak, kegiatan sekolah, sampai resep masakan. Bapak-bapak kebagian tugas bakar ikan sambil ngejar anak-anaknya lari-larian, yang enggak takut pengen nyebur ke telaga. *lol*

edit5

Enaknya piknik di Riyadh, atau di Saudi umumnya, perempuan-perempuan bercadar enggak perlu merasa rikuh atau enggak pede untuk gelar tikar di tempat terbuka. Soalnya yang datang ke lokasi-lokasi piknik itu biasanya berkeluarga, juga wanita-wanitanya mayoritas bercadar. Kadang satu grup itu isinya ada kakek-nenek sampe anak-cucu. Khusus di Wadi Hanifah, kegiatan piknik keluarga selalu ada acara bakar ikan dan memancing (bagi yang hobi mancing).

Jujur aja (curcol nih), di Indonesia saya masih harus mikir-mikir kalau ke tempat piknik. Soal saya pakai cadar, sih, saya pede (pake berat) aja dong. Yang jadi masalah, tempat-tempat rihlah di Indonesia itu biasanya dihiasi muda-mudi yang lagi pacaran. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah. Saya jadi ilfil aja gitu kalau piknik malah lihat pemandangan maksiat gini. Wal’iyaadzu billaah.

Kembali ke Wadi Hanifah. Tempat ini benar-benar well recommended untuk jadi tujuan piknik, jika anda kebetulan main ke Riyadh, atau berdomisili di Riyadh tapi belum pernah piknik ke mana-mana. Tempat dan toiletnya bersih. Sayangnya, saya enggak ingat, apakah di situ ada masjid atau tidak. Mungkin ada tapi agak jauh. Karena dulu, bapak-bapak itu harus naik mobil pas mau shalat ashar ke masjid. Ibu-ibu cukup gelarin sajadah di sekitar telaga dan shalat di situ.

Poin pentingnya, masuk Wadi Hanifah itu gratisss. Tinggal bawa bekal makanan sendiri dari rumah untuk dinikmati di sana. Enak kaaaan?

Tertarik ke Wadi Hanifah? Silakan bagi Anda yang di Riyadh untuk klik petanya di sini ya.

فاستمتعوا برحلتكم في وادى حنيفة (so, enjoy your picnic at Wadi Hanifa). 

* All pics were taken and edited by Verawaty Lihawa.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 20 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Berharap UndanganNYA Lagi

Galon Zamzam, salah satu printilan Masjidil Haram yang bikin jamaah haji dan umroh kangen.

Atap Masjidil Haram di waktu sepi jamaah.
Salah satu sudut atap Masjidil Haram di waktu sepi jamaah.

Musim haji akhirnya berakhir. Menyisakan kerinduan teramat dalam di hati.

Qadarullah, saya dan suami tak jadi pergi haji tahun ini. Bukan hanya karena biaya haji meroket tinggi tahun ini. Tapi aturan baru dari Pemerintah Arab Saudi yang membikin nyali ciut untuk nekat ke Tanah Suci.

Di Arab Saudi berlaku larangan bagi warganya untuk pergi haji tanpa tashrih (semisal surat izin haji). Aturan ini sebenarnya sudah diberlakukan bertahun-tahun. Meski toh realitanya, saban tahun masih banyak juga jamaah yang bisa lenggang kangkung, pergi tanpa berbekal tashrih. Di Saudi, orang-orang semisal ini biasa diistilahkan dengan haji koboi.

Tahun ini, Arab Saudi rupanya tak main-main. Beberapa bulan sebelum haji sudah beredar kabar di berbagai situs, bahkan di situs resmi haji Saudi, calon jemaah haji Arab Saudi yang berangkat tanpa tashrih akan dikenakan hukuman. Untuk warga asli Saudi, sih, saya kurang tahu apa hukumannya. Mungkin dipenjara. Nah, khusus bagi penduduk ajnabi (asing) seperti kami ini  nih, hukumannya sukses bikin kami takut sampai level tinggi.

Apa hukumannya? Simpel kok, cuma dideportasi langsung, plus dilarang masuk negara Arab Saudi selama 10 tahun. *nyengir kuda*  Suami dengan mantap langsung membatalkan rencana haji begitu tahu risikonya bakalan seperti di atas.

Lha, memangnya Ella dan suami tadinya mau nekat pergi tanpa tashrih? Owh, tentu tidak, kakak, adek, Mba2! Dari dulu kami mengambil pendapat, bahwa berangkat haji tanpa tasrih termasuk melanggar aturan pemerintah, walau hajinya itu sendiri sah.

Terus? Jadi kemarin itu kami punya tiga jalan alternatif untuk berhaji. Pertama, kami pergi sebagai jamaah haji mandiri. Memberikan sejumlah uang tertentu kepada pihak berwenang untuk mendapatkan tashrih. Tapi berhubung biaya haji tahun ini naik sampai 2x lipat, akhirnya kami coret alternatif ini dari list. Enggak sanggup Buuuu, bayar sampe ribuan real. Jelas aja kami tak mau bela-belain bayar, karena ini hanya jadi haji sunnah buat kami.  Kalaupun uangnya tersedia, ada kebutuhan yang lebih penting. Bulan depan, insya Allah, kami akan angkat kaki dari Negeri Padang Pasir ini. Pastilah kebutuhan fulus untuk bayar-bayar biaya pulang, takkan terelakkan. Tiket, sih, kata Suami, akan ditanggung kampus tercinta Beliau. Tapi biaya cargo barang-barang dari Riyadh ke Indonesia, siapa lagi yang mo nanggung kalau bukan kami, eh Suami? *abaikan paragraf ini yang terkesan curcol  ya*

Oke, sekarang alternatif kedua. Sebenarnya Suami ditawari untuk bekerja (sambil bisa berhaji) di Masjidil Haram selama hari-hari haji, untuk bantu Syaikh. Siapa nama Syaikhnya saya juga enggak ingat. Sayangnya, syaratnya enggak boleh bawa istri. Tentunya sebagai Suami sayang istri (uhuk-uhuk), Beliau jadinya urung berangkat. Mungkin enggak tega membayangkan saya di rumah tak bisa tidur berhari-hari karena pingin banget ikut berhaji.

Ketiga, dan ini alternatif terakhir. Ada teman yang punya hamlah (biro perjalanan) haji menawarkan kepada suami untuk jadi pembimbing haji di hamlahnya. Bonusnya, saya juga boleh dibawa untuk jadi pendamping. Masalahnya, Suami tahu hamlah ini sering bermasalah pada tashrih. Banyak jamaah mereka di tahun-tahun sebelumnya diberangkatkan tanpa tashrih.

Walau nanti si pembimbing bisa dapat tashrih, sementara hamlahnya masih nekat bawa rombongan tanpa tashrih, imbasnya nanti jadi enggak bagus buat si pembimbing itu sendiri. Kalau ketahuan, pembimbingnya juga akan kena sanksi, yaitu MASUK PENJARA. Wal’iyaadzu billaah.

Kalau begini, akhirnya tinggal banyak-banyakin berdoa. Semoga tahun-tahun berikutnya, meski kami sudah kembali berdomisil di Indonesia, kami tetap diundang ke sana  lagi untuk jadi tamuNya. Aamiin…

edit5
Suasana tenda di Mina di luar musim haji. Sepi yaa…
Galon Zamzam, salah satu printilan Masjidil Haram yang bikin jamaah haji dan umroh kangen.
Galon Zamzam, salah satu printilan Masjidil Haram yang bikin kangen  jamaah haji.

Ummul Hamam, RIyadh, KSA, 13 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa 

Menjadi Muslim “Mubaarakan ayna maa kaana” (Kisah #1)

edit5

Dalam Surah Maryam ayat 31, termaktub di sana ucapan Isa ‘alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ .

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”

Dalam Tafsir Jalalain, maksud potongan ayat ini adalah, Dia menjadikan diriku orang yang banyak memberi manfaat kepada manusia. Ungkapan ini merupakan berita tentang kedudukan yang telah dipastikan baginya (Isa ‘alaihissalam).

Syaikh Muhammad al-Khudhariy, Dosen Ilmu Tafsir di King Saud University, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, belum lama ini menyampaikan muhaadharah, yang intinya adalah, bagaimana menjadi seorang muslim yang penuh berkah (baca memberi manfaat kepada manusia) di mana saja dia berada. 

Syaikh lalu bertutur, “Aku memiliki seorang murid, bernama Aiman. Aiman ini berprofesi sebagai dokter di King Khalid University Hospital, Riyadh. Dia menamatkan pendidikan spesialisnya di Kanada. Suatu kali, Aiman bercerita kepadaku tentang dua rekan kerjanya di Kanada.”

Mari kita simak kisah Aiman.

Di Kanada, aku mengenal dua dokter muslim yang akhirnya menjadi rekan dekatku di rumah sakit (mungkin maksudnya tempat Aiman co-as, pen.). Satu hari, aku mengundang keduanya untuk datang ke rumah. Di sela-sela obrolan, aku tiba-tiba tertarik untuk bertanya kisah keislaman mereka berdua.

Dokter pertama pun memulai ceritanya.

Ketika aku lewat di sebuah jalan, kulihat seorang laki-laki negro, badannya tinggi besar, sedang membagi-bagikan beberapa buku kepada setiap pengunjung yang melewatinya. “Bacalah!”, begitu kira-kira pesannya kepada setiap orang yang mendapatkan buku tersebut.

Perasaan tak suka menyelinap dalam hatiku. Aneh saja melihat orang seperti itu membagi-bagikan sebuah buku tebal kepada setiap orang yang lewat. Apalagi kemudian kuketahui bahwa buku itu adalah Al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba buku tersebut sampai juga di tanganku saat itu. Yang pasti, aku sama sekali tak berminat membacanya. Ketika melewati tong sampah, kumasukkan buku tersebut ke dalamnya, lalu segera berlalu dari situ.

Setibanya di rumah, aku pun menyalakan TV. Dan tebak, ternyata laki-laki negro tinggi besar itu, wajahnya muncul di kotak ajaib tersebut. Sepertinya stasiun TV sedang meliput aktivitasnya. Pikiranku sontak melayang ke buku tebal yang tadi kubuang ke tong sampah. Hatiku berkata, “Ah, kan dia hanya menyuruh membaca. Apa salahnya kalau cuma membaca. Toh dia tidak meminta apa-apa.” Kemudian, aku pun bertekad untuk mendapatkan buku itu kembali.
Sekarang aku sudah capek dan mengantuk. Aku pikir, besok pagi saja aku kembali ke tong sampah tadi. Ya, harus pagi-pagi, sebelum truk pengangkut sampah mendahuluiku.

Esok subuhnya, aku bergegas kembali ke tong tersebut. Aku berharap truk sampah belum mengangkutnya. Namun harapanku sia-sia. Aku menemukan tong itu sudah kosong.

“Hmm, mungkin besok aku harus ke sini lagi dan meminta mushaf Al-Qur’an seperti yang kemarin diberikannya,” bisikku dalam hati.

Sayang, ternyata aku tak menemukan lelaki tersebut keesokan harinya. Tiga hari berikutnya, sepekan, sampai berlalu sebulan, aku terus mencarinya di sekitar jalan tersebut, namun tetap tak mendapatinya.

Hingga tiga bulan berikutnya, Allah akhirnya mempertemukanku dengannya. Aku melihatnya di jalan tempat dia tiga bulan lalu membagikan mushaf Al-Qur’an. Lantas aku mendekatinya dan menyapanya. “Tiga bulan lalu kau pernah memberiku sebuah buku. Aku telah menghilangkan buku itu. Bolehkan aku mendapatkannya lagi?” Tentu saja aku tidak bilang bahwa buku itu sudah kubuang ke tong sampah.

“Boleh. Tapi aku tak membawanya sekarang. Hari ini tugasku membagikan selebaran-selebaran ini,” katanya. “Tapi aku benar-benar ingin buku itu lagi,” jawabku.

“Kalau kau mau, ikutlah ke rumahku. Aku akan memberikannya kepadamu. Tapi kau harus tunggu hingga selebaran ini habis,” balasnya.

Kusambut ajakannya dengan sukacita. Tiga bulan mencarinya, rasanya sayang kalau harus kehilangan kesempatan ini lagi. Aku pun menunggunya hingga selesai dari kegiatannya. Kemudian kami menuju rumahnya dan dia pun memberikan sebuah mushaf sebagai hadiah untukku. Bahagianya diriku sewaktu menerimanya. Perjuangan akhirnya berbuah hasil.

Sesampainya di rumah, aku pun membacanya. Kadang aku sampai lupa makan karena asik berkutat dengannya. Hanya butuh sepekan buku itu (terjemahannya, pen.) selesai kubaca. Dadaku sesak. Sesak oleh keimanan yang terasa memenuhi seluruh rongga jiwaku. Aku pun segera mencari nomor telepon Islamic Center terdekat untuk membantuku masuk Islam. Mereka pun mengundangku datang, dan akhirnya aku pun masuk Islam. Allahu akbar!

Dokter pertama mengakhiri ceritanya.

Dokter kedua kemudian berkata, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya?” 

“Ya,” kata dokter pertama,

“”Aku juga masuk Islam dengan jalan si Abdul Majid itu,” timpal Dokter kedua.

Dua dokter ini hanyalah dua di antara sekian banyak orang yang masuk Islam setelah mendapatkan kitab-kitab dari Abdul Majid. Intinya, dengan izin Allah, Abdul Majid telah berhasil mengislamkan banyak orang melalui usahanya.

Kisah Aiman selesai. Kita kembali ke cerita Syaikh al-Khudhariy.

Sekitar tahun 2005, aku berangkat ke tanah Suci untuk membimbing jamaah haji. Tak jauh dari tenda tempatku bertugas, terlihat seorang lelaki negro sedang berdebat dengan petugas untuk bisa masuk ke dalam tenda. Si Petugas tampak kehabisan akal, karena lelaki tersebut sepertinya tak bisa berbahasa Arab. Aku pun berlalu ke tenda. Pemandangan seperti tadi lumrah terjadi ketika haji.

Ketika tiba waktu untuk menuju Muzdalifah, kami masuk ke dalam bus. Karena bus berjalan lambat akibat macet, penat rasanya terlalu lama duduk di dalamnya. Maka kami pun keluar untuk istirahat sejenak. Kami duduk di padang terbuka sambil membuat halaqoh. Aku menyampaikan ceramah di depan jamaah. Waktu itu jamaahnya tidak terlalu banyak. Kami duduk melingkar. Agak terkejut aku mendapati lelaki negro yang kulihat siang tadi kini duduk di hadapanku, bersiap mendengarkan ceramah. Rupanya dia berhasil menembus kawasan tenda. Kala kutanya, ternyata dia jamaah dari Kanada yang kehilangan rombongannya. Mendengar kata Kanada dan perawakannya, aku teringat cerita Aiman. Aku pun menceritakannya di depan mereka.

Di akhir cerita, kala kukutip perkataan dokter kedua, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya? Aku juga masuk Islam melalui dia”, di sudut mataku, kulihat si lelaki negro itu tertunduk menangis. Aku meminta salah satu jamaah yang mengerti bahasa Inggris untuk bertanya siapa namanya. Dia pun menjawab, “Nama saya Abdul Majid.”

Masya Allah, tokoh sentral cerita Aiman ada di hadapanku. Dengan perasaan riang kutanyai dia yang saat itu masih terisak-isak, “Wahai Abdul Majid, apakah kau tahu di luar sana banyak sekali orang yang masuk Islam dengan sebab mushaf dan buku-buku yang engkau bagikan?”

“Aku tidak tahu, Syaikh. Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menangis.

Bersambung insya Allah.

edit5

* Berdasarkan cerita Muflih Safitra (Mahasiswa S2 KSU) yang hadir dalam muhaadharah Syaikh al-Khudhariy di hadapan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, Riyadh.

Mungkin Abdul Majid ini adalah muslim yang mubaarak. Dia memberikan manfaat kepada orang lain melalui hal kecil yang dia lakukan. Dia tidak tahu bahwa saat ini, di tempat ini, kita membicarakan kebaikan-kebaikannya. 

34 Amalan yang Bisa Anda Laksanakan Pada 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Menara al-Masjid al-Haram

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah (berjihad di jalan Allah)?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.
—————————————————————————————————–
Mengingat besarnya keutamaan ibadah-ibadah pada 10 haru pertama Bulan Dzulhijjah, maka seyogianya sebagai seorang muslim, kita pun bersemangat dan berlomba-lomba dalam mengisi waktu-waktu tersebut dengan berbagai ketaatan.
Berikut ini beberapa amalan yang bisa kita laksanakan dalam mengisi 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah. Kita memohon kemudahan dari Allah dan niat ikhlas dalam beramal.
1. Shalat di awal waktu.
2. Melaksanakan shalat sunnah rawatib
3. Membaca dzikir-dzikir setelah shalat wajib
4. Membaca Al Qur’an, minimal 3 juz per hari.
5. Melaksanakan puasa sunnah, baik puasa Daud, puasa Senin-Kamis, atau puasa hari arafah).
6. Berbakti kepada kedua orang tua. 
7. Shalat malam walau hanya 2 rakaat.
8. Shalat witir walau hanya 1 rakaat.
9. Bersedekah walau dengan sebutir kurma atau uang 1 real (di Indonesia bisa disesuaikan, pent.)
10. Menyingkirkan gangguan dari jalan (duri, beling, dsj) 
11. Bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
12. Membaca dzikir-dzikir yang dituntunkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, semisal dzikir pagi-petang, dzikir sebelum tidur, dll.
13. Menjenguk orang sakit. 
14. Menghadiri majelis ilmu
15. Mengunjungi kerabat dekat
16. Bersilaturahim, minimal lewat SMS.
17. Bersegera untuk shalat Jum’at
18. Meninggal ghibah (bergosip atau ngerumpi) dan namimah (praktik adu domba). 
19. Menangis karena rasa takut kepada Allah. 
20. Berkurban di hari ‘ied.
21. Menebarkan sunnah di kalangan manusia (bisa melalui sarana social media).
22. Memberi minum orang yang membutuhkan (bahkan kepada hewan yang kehausan).
23. Menyayangi dan menyantuni kaum papa. 
24. Shalat dhuha.
25. Memperbanyak doa.
26. Berakhlak baik kepada makhlukNya.
27. Memaafkan manusia yang melakukan kesalahan.
28. “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” 
29. Menghadirkan niat yang baik dalam segala urusan.
30. Memuliakan tetangga dan memperbagus hubungan dengan orang-orang sekitar.
31. Bersikap tawadhu’ dan tidak bersikap sombong di hadapan manusia.
32. Bersikap lembut ketika berbicara dengan orang lain
33. Bersabar atas gangguan manusia.
34. Bertaubat kepada Allah dari segala kesalahan.

Menara al-Masjid al-Haram
Menara al-Masjid al-Haram.
-Photo was taken by Verawaty Lihawa-

* Diterjemahkan dari salah satu pesan Whatsapp seorang kawan, dengan penambahan seperlunya.

** Teks asli berbahasa Arab. 

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 5 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Husnul Khatimah: Buah Bakti Kepada Ibu

edit4

Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Setiap jiwa akan merasakan mati. Setiap ajal telah tertulis. Dan perpindahan kita dari dunia ini menuju negeri akhirat adalah sesuatu yang pasti.

Betapa banyak berita kematian yang telah sering kita dengar? Si Fulan mati, si Fulanah mati, tetangga dekat kita mati, teman kita mati. Saya, dan juga Anda, pasti akan mati. Suatu saat, kita yang di sini juga akan menjadi berita di antara sekian banyak berita kematian.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 27).

Aku pernah menyampaikan khutbah Jumat di salah satu masjid. Ketika khutbah selesai, aku pun turun dan memulai rakaat pertama. Lalu bangkit dan memulai rakaat kedua. Ketika sampai pada surat al-Fatihah, yaitu pada firman Allah ‘Azza wa Jalla, iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in (hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan),”  tiba-tiba jatuhlah seorang laki-laki di tengah masjid tersebut.

Aku pun menyempurnakan shalat, lalu salam. Setelah salam aku langsung mengambil mikrofon. Saat itu posisi laki-laki tersebut berada cukup jauh dari tempatku. Dia tergeletak di tengah masjid. Sementara masjid itu besar.

Melalui mikrofon tersebut, kukatakan pada para jamaah yang sedang ramai memadati laki-laki yang jatuh tadi,  “tolong menjauh darinya, biarkan dia. Beri dia udara, beri dia udara. Biarkan udara masuk, wahai saudara-saudaraku.” Aku terus saja berkata begini dan begitu.

Segera kuajak beberapa jamaah untuk membawa lelaki tersebut ke klinik terdekat. Petugas klinik pun langsung membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD).

Selepas memeriksa si lelaki tersebut, dokter di klinik itu berkata, “sesungguhnya lelaki ini telah wafat  ketika jatuh di masjid tadi.”

Dia meninggal di hari Jumat, wahai saudaraku. Sementara dia masih dalam kondisi berwudhu. Dalam keadaan mandi. Juga meninggal dalam keadaan berdiri di antara dua tangan Allah.

Aku meminta nomor salah satu kerabat si mayit, dari salah seorang ikhwan (yang ada di masjid).

Lelaki yang meninggal itu bernama Muhammad (semoga Allah merahmatinya, menerima amalan-amalannya, dan memperberat timbangan kebaikannya).

Aku lalu menghubungi nomor saudaranya, Khalid, dan berbicara kepadanya, “Wahai Khalid, dengan nama Allah, aku meminta kepadamu. Lelaki ini sudah jauh-jauh datang ke masjid ini untuk shalat Jumat bersamaku. Jadi aku mohon, tak ada yang boleh memandikannya kecuali aku.” Maka, aku pun bersungguh-sungguh memandikan jenazah tersebut.”

Setelah memandikannya, langsung kupanggil Khalid ke sampingku. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Khalid, dengan nama Allah aku bertanya padamu. Amalan apakah yang paling sering dia lakukan sampai dia meninggal dalam keadaan yang baik seperti ini?”

Jawab Khalid, “Wahai Syaikh, kami memiliki beberapa saudara laki-laki dan saudari perempuan. Akan tetapi, si Muhammad inilah yang paling berbakti kepada orang tua kami, terutama kepada Ibu kami.”

Dialah yang paling banyak menjenguk Ibu dan nyaris tak pernah meninggalkannya. Dia pula yang selalu mengmastikan setiap barang-barang keperluan Ibu, dan semua hal yang Beliau butuhkan. Mulai dari sampo, sabun, minyak wangi, bakhur (dupa khas Arab), qahwah (kopi Arab). Semuanya diperiksa dan tak ada yang terluput. Dia amat berbakti kepada ibu. Sehingga Ibu kami pun paling banyak mendoakan kebaikan untuknya.”

Maka kukatakan pada Khalid, “mungkin sebab inilah yang memperberat timbangan kebaikannya”.

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu-Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan“ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

* Diterjemahkan dengan perubahan bahasa seperlunya, dari kisah yang dibawakan Syaikh Qasim Bin Muhammad al-Fadha’il , pada potongan video muhadharah Beliau  hafizhahullaah.

edit4

Ummul Hamam, Riyadh, KSA 1 Dzulhijjah 1434 H (menjelang tidur)

Verawaty Lihawa

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amalan-amalan yang Disyari’atkan di Dalamnya

edit4

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

وروى ابن حبان رحمه الله في صحيحه عن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفضل الأيام يوم عرفة.

“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

الصوم لي وأنا أجزي به ، انه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

“Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [al-Baqarah/2 : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaqun ‘Alaihi].

8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain :

فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

edit4

Sumber: almanhaj.or.id

Sejatinya Pengingat

edit5

Kamis pagi kemarin, saya dikabari, bahwa Bapak F, calon tetangga yang sedianya akan menempati lantai atas flat kami meninggal. Beliau (semoga Allah merahmatinya), sempat masuk Rumah Sakit dulu untuk operasi jantung, pada hari Sabtu, pekan lalu. Padahal, menurut kawan saya, beliau Jumat malamnya masih sempat hadir di pengajian rutin Bapak-bapak, yang kebetulan bertempat di rumah kawan saya tadi.

Kematian memang sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Siapa sangka Bapak F, yang [mungkin] sebelum menjelang kematiannya, sedang berbahagia sebab permohonannya untuk mendatangkan Istri dan anaknya dari Tanah Air setelah haji dikabulkan. Beliau bahkan sudah mendapatkan rumah yang akan beliau tinggali bersama Istri dan anaknya di Riyadh.

Istri dan anaknya pun bisa jadi sudah tak sabar menunggu momen berkumpul kembali dengan Bapak F di negeri gurun pasir ini. Namun, siapa sangka takdir Allah berkata lain.

Benar, kematian selalu mewariskan kesedihan bagi kerabat yang ditinggalkan. Tapi dialah sejatinya pengingat bagi yang masih hidup, bahwa kedatangannya tak pernah mengenal ruang dan waktu. Dialah gerbang kehidupan yang kekal; kekal dalam kenikmatan atau dalam kesengsaraan.

Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yangmenipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

edit5

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 29 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

Resep Bahagia

--Wadi Hanifah--
Photo was taken by Verawaty Lihawa

“Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal; dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.” [ Al Hasan al-Bashri ]

Dari artikel ‘Resep Hidup Bahagia — Muslim.Or.Id’

--Wadi Hanifah-- Photo was taken by Verawaty Lihawa

Jadi Navigator


Pagi tadi ketika mengantar saya ke madrasah, mobil suami melewati jalur yang tidak biasa kami lalui. Ceritanya mau coba-coba jalur baru. Suami sih awalnya sempat ragu. Kenapa? Iya, soalnya saya yang jadi navigatornya.*nyengir lebar*

Lha, kok bisa saya yang enggak hapal jalan-jalan di Riyadh ini bisa jadi navigator? Gimana enggak, wong itu jalur yang selalu saya lewati bareng bis madrasah setiap 3 kali sepekan, selama dua semester. Ya, suami tahu banget-lah reputasi buruk saya dalam pernavigasian ini selama di Riyadh. Baca GPS saja nyerah.

Tak disangka lewat jalurnya bis madrasah ini ternyata lebih cepat. Jika lewat jalur sebelumnya butuh sekitar 30 sampai 40 menit, kali ini cukup butuh 20 menitan saja. Reaksi suami? Tentu senang banget dong. Sampai Beliau komentar kira-kira begini, “Wah, hebat nih, si Dinda. TUMBEN (sengaja di-bold gitu, biar jelas bahwa saya di sini benar-benar buta nama jalan, selain jalan Ummul Hamam pastinya. *dampak dua tahun enggak nge-bolang sendiri pakai motor* ;D) banget dia masih hapal jalan.” Padahal 1 semester kemarin saya sempat absen dari sekolah.

Faidah cerita 

* Membiasakan sesuatu akan membuat hal tersebut selalu melekat dalam ingatan. Ini bisa juga kita terapkan dalam menghapal Al Quran. Membiasakan diri menghapal dan memurajaah hapalan Al Qur’an secara kontinyu akan membuat hapalan tersebut menempel di otak.

* Suami-Istri sesekali (atau sering-sering?) juga saling memuji atas “prestasi” yang dilakukan pasangannya, meski dalam hal-hal sepele. Remeh-temeh tapi berpahala insya Allah, karena menyenangkan pasangan.

Kalau jadi navigator ke sini mah saya angkat tangan duluan. "Wadi Hanifah" Photo was taken by Verawaty Lihawa
Kalau jadi navigator ke sini mah saya angkat tangan duluan.
“Wadi Hanifah” Photo was taken by Verawaty Lihawa

Ditulis menjelang tidur.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 28 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

Cerita dari Haramain #4: Tips Ringan Untuk yang Ingin Umroh di Bulan Ramadhan

Tentunya ini bukanlah Masjidl Haram di Bulan Ramadhan. See, tempatnya lapang banget. 
Photo was taken by Verawaty Lihawa

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي 

Jika datang bulan Ramadhan, lakukanlah umroh. Karena umroh di bulan Ramadhan, senilai haji bersamaku. (HR. Bukhari 1782 dan Muslim 1256).

Membaca hadits di atas, kita tentu tak heran lagi mengapa Mekkah selalu dipenuhi jutaan muslimin dari berbagai belahan dunia ketika Ramadhan tiba.

Jika Anda berencana untuk melaksanakan umroh Ramadhan, beberapa tips berikut ini mungkin bisa bermanfaat.

 ***

Sebelum Berangkat

1. Pilih travel yang berdedikasi tinggi mengantarkan jamaah untuk bisa meraih umroh maqbuulah (yang diterima dan dibalas pahala oleh Allah subahanahu wa ta’ala). Travel yang pembimbingnya mengajarkan jamaah tata cara manasik yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Bekali diri dengan ilmu
Jauh-jauh hari sebelum berangkat, pelajari tata cara haji (bagi yang ingin berhaji) dan umroh dari video-video manasik haji, buku-buku, atau artikel terpercaya. Untuk artikelnya bisa dilihat di sini atau di sini.

Perlengkapan

3. Sendal sporty yang nyaman. Tidak merepotkan ketika harus melepas dan memakainya.

Sukaaa sekali dengan sendal ini.
Kalau kata saya, sendal satu ini best recommended-lah untuk dipakai ketika umroh.

4. Kacamata hitam buat jaga-jaga, siapa tahu terpaksa shalat zhuhur di luar masjid, atau seperti cerita saya di sini.
Setelah kejadian itu, saya menyadari bahwa kacamata hitam ternyata perlu juga untuk menjaga mata kita agar tidak silau kena matahari (meski saya sendiri tak pernah juga memakainya. Aslinya sudah pakai kacamata soalnya ^^). Tapi kalau hotelnya nyaman, tentu saya pilih shalat dzuhur-ashar di hotel saja. Menjelang ifthar (buka puasa) baru ke masjid biar bisa merasakan suasana ifthar jama’i di Masjidil Haram.

5.  Lip balm atau lip care untuk menjaga bibir tidak pecah-pecah.
6.  Vaseline atau lotion kulit dengan pelembab ekstra .
7. Kantong sendal (sebagian besar travel biasanya sudah membagikan kantong sendal ini sebelum keberangkatan).
8. Botol kemasan isi ulang untuk air zamzam, semisal Tu**erware (gunanya akan saya tulis di bawah). Saya lebih suka pakai botol refill begini demi menghindari pemakaian botol bekas air mineral. Selain ekonomis dan mengurangi sampah, botol refill juga insya Allah lebih aman dicuci berkali-kali.

tupperware

Tips Lainnya

1. Ketika ke masjid, bawa selalu buku kumpulan doa dan dzikir. Gunakan kesempatan selama di sana untuk selalu berdzikir, berdoa, atau tilawah Al-Qur’an. Untuk buku doa dan dzikir, saya merekomendasikan buku Kumpulan Doa dan Wirid karya Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawaz. Buku ini bisa dibilang lengkap karena doa-doa dan dzikirnya diambil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi yang sahih.
2. Ramadhan bulan bersedekah. Di Masjidil Haram, kita bisa bersedekah kepada peminta-peminta yang banyak ditemui di jalanan sekitar masjid. Atau bersedekah kepada pekerja-pekerja Indonesia yang biasa bersih-bersih di Masjidil Haram. Bisa juga bersedekah kepada saudara-saudara kita yang jadi tukang sapu jalan di sana.
3. Sebaiknya tidak melewatkan shalat jenazah yang selalu ada setiap selesai shalat fardhu. Sebab shalat ini juga banyak keutamaannya. Mengingat shalat jenazah ini berbeda sekali pelaksanaannya dengan shalat umumnya, maka baiknya pelajari tata caranya sebelum berangkat.
4. Jaga pandangan!
Banyak makhluk cantik dan tampan yang lalu-lalang di sana, temaaaaans… Maklumlah, Mekkah tempat berkumpulnya kaum muslimin berbagai bangsa dan ras.
5. Selalu ucapkan maa syaa’a Allah tabarakallaah setiap melihat anak-anak kecil yang menggemaskan. Makhluk imut nan menggemaskan ini juga akan banyak kita temui di sekitar Masjidil Haram. Khususnya anak-anak dari ras Arab dan Turki. Lucu-lucu deh pokoknya.
6. Ucapkan syukraan, atau lebih utama, Jazakallaahu / jazakillahu khairan kepada mereka yang memberi anda hadiah atau makanan. Biasanya musim Ramadhan banyak muhsinin yang selalu bagi-bagi makanan untuk berbuka kepada jamaah.
7. Bekali diri dengan ilmu syar’i biar tidak bingung pas di masjid. Agar ibadahnya tak hanya latah dengan orang banyak. Untuk itulah pentingnya memilih travel yang disebutkan pada poin persiapan di atas. Karena ketika bingung melihat tata cara ibadah orang yang beda dengan kita, kita bisa langsung bertanya pada pembimbing.
8. Jaga lisan untuk tidak ghibah (bergosip) atau banyak mengeluh. Sabar, sabar, sabar, dan tahanlah lisan. Di sana akan banyak dijumpai jamaah dengan kelakuan dan penampilan yang “aneh”. Pun kita akan menemukan pemandangan tata cara ibadah para jamaah yang berasal dari negara-negara yang beda madzhab dengan negara kita. Daripada lisan kita selalu ribut, “Kok i’tidalnya begitu, trus tahiyatnya juga aneh banget”, maka solusinya adalah kembali ke poin persiapan.
9. Jangan ikut-ikutan untuk buang sampah sembarangan di sekitar masjid,  walau di situ banyak petugas kebersihan yang berseliweran. Paling tidak, kurangilah beban kerja mereka agar bisa sedikit “mengambil nafas”.
10. Ketika terpaksa harus pakai toilet masjid dengan kondisi banyak manusia yang antre, maka gunakan toilet seperlunya saja.
11. Jangan malu bertanya agar tidak tersesat di Masjidil Haram. Jika tidak bisa Bahasa Arab, bertanyalah kepada petugas berwajah Indonesia yang biasa melayani kebutuhan jamaah di Masjidil Haram.
12. Konsumsi makanan sehat seperti buah, susu, atau yogurt di luar jam puasa. Barang-barang ini bisa dibeli di mall Bin Dawood, mall terdekat dari Masjidil Haram.
13. Jaga barang-barang anda. Bawa uang secukupnya saja ketika ke masjid. Tidak perlu bawa-bawa kamera. Bukan hanya khawatir disita petugas, namun untuk menghindari kehilangan, disebabkan banyaknya manusia yang berdesak-desakan di dalam maupun luar masjid.

Beberapa jamaah di rombongan kami ketika umroh kemarin sempat kehilangan dompet dan tablet ketika antre masuk masjid.
14. Jika umrohnya lebih dari dua pekan, sebaiknya beli sim-card Arab Saudi (bisa pilih Mobily, STC, atau Zain) untuk komunikasi bertarif murah dengan sesama jamaah atau pembimbing. Ini buat jaga-jaga, siapa tahu tersesat, sementara kita tak bisa Bahasa Arab untuk bertanya arah hotel kepada orang-orang sekitar. Jadi bisa langsung menghubungi pembimbing untuk menjemput ke lokasi kita berada.
15. Kenali rute jalan hotel-masjid-hotel. Beruntung jika dapat hotel di sekitar Masjidil Haram. Yang repot ketika hotelnya jauh. Jamaah manula biasanya sering bermasalah dengan rute jalan ini. Sebaiknya ke masjidnya selalu sama-sama dengan jamaah yang hapal jalan.
Kalaupun harus jalan hanya berdua dengan suami atau mahram, bisa janjian di dekat pintu keluar. Kenali nomor pintu terdekat ke arah hotel anda.
16. Di saat penuh-penuhnya seperti Bulan Ramadhan, semua area masjid selalu dipadati lautan manusia. Kalau mau, Anda bisa coba ke arah basement. Sesuai pengalaman, tempat ini biasanya menyisakan banyak tempat longgar dibanding area lain. Mungkin karena di sini tidak punya banyak mesin pendingin dan hanya mengandalkan kipas angin. Udaranya terasa sangat gerah.

Jika terpaksa shalat tarawih di sini, isi penuh botol refill anda dengan air zam-zam yang tersedia di hampir semua sudut masjid. Lalu konsumsi minimal setiap selesai 2 rakaat shalat agar terhindar dari gejala dehidrasi karena produksi keringat yang berlebih. *Haduh, apa sih ini bahasanya?*

Ada yang mau berbagi tips lain? Silakan share di sini ya.

Tentunya ini bukanlah Masjidl Haram di Bulan Ramadhan. See, tempatnya lapang banget.  Photo was taken by Verawaty Lihawa
Tentunya ini bukan suasana Masjidil Haram di Bulan Ramadhan. Lihat, tempatnya lapang banget.
–Photo was taken by Verawaty Lihawa

 

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 24 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

Suatu Pagi di ad-Dir’iyyah at-Taariikhiyyah

edit11

Beberapa kali hanya mendengar cerita tentang ad-Dir’iyyah at-Tariikhiyyah (historical Dir’iyyah), akhirnya Senin kemarin, bertepatan dengan libur al-Yaum al-Wathani (Hari Kebangsaan Arab Saudi, CMIIW), saya akhirnya bisa berkunjung ke rumah asal dinasti Kerajaan Arab Saudi ini.

Hari masih terlalu pagi, sekitar jam 6.00, mobil kami menyusuri jalanan lengang menuju Dir’iyyah. Tidak sampai setengah jam, saya dan suami pun sampai di sebuah taman yang dikelilingi situs bersejarah Old Dir’iyyah.

Menikmati pagi dan lengangnya jalan. Segaaar..
Menikmati pagi dan lengangnya jalan. Segaaar..

Pagi itu saya tidak sempat menjelajah situs-situsnya. Cuma sekadar lewat, lalu klak-klik ke beberapa objek pakai kamera saku. Selebihnya duduk menggelar tikar di taman, sambil ngeteh dan menikmati sarapan Roti Maryam bersama mamak-mamak Indonesia, sesama perantau di Riyadh. 

Penasaran dengan Dir’iyyah? Berikut saya sertakan tulisan tentang Dir’iyyah, bersumber dari laman wikipedia. 

=============Salinan dimulai =========================== 

Al-Diriyah (Arab: الدرعية) juga dieja Ad-Dir’iyahAd-Dar’iyah atau Dir’aiyah, adalah sebuah kota di Arab Saudi yang terletak di pinggiran barat laut ibukota Arab SaudiRiyadh. Diriyah adalah rumah asli dari keluarga kerajaan Arab Saudi, dan menjadi ibukota dari dinasti Saudi pertama yaitu pada tahun 17441818. Saat ini, kota ini adalah wilayah dari Provinsi Diriyah, yang juga termasuk Desa Uyayna, Jubayla, dan Al-Ammariyyah dan merupakan bagian dari Provinsi ar-Riyadh.

Beberapa distrik yang masuk dalam wilayah Dir'iyyah.
Beberapa wilayah yang masuk dalam wilayah Provinsi ar-Riyadh; Jubailah, ‘Uyainah, dan ‘Ammaariyyah.

Distrik Turaif di Diriyah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010.

Mulai mendekati tempat tujuan.
700 meter lagi memasuki kawasan Historical Diriyyah.
Sumur bersejarah.
Sumur bersejarah.
Timba sumur yang terbuat dari kulit hewan.
Timba sumur yang terbuat dari kulit hewan.
Nah, ini dia mulut sumurnya. Tapi kini sudah ditutupi palang besi.
Nah, ini dia mulut sumurnya. Tapi kini sudah ditutupi palang besi.

Lokasi

Reruntuhan kota tua Diriyah terletak di kedua sisi lembah sempit yang dikenal dengan Wadi Hanifa, yang terletak di bagian selatan melalui ibukota Riyadh. Struktur bangunan hampir semuanya terbuat dari lumpur bata, reruntuhan dibagi menjadi tiga wilayah,GhussaibahAl-Mulaybeed, dan Turaif, yang dibangun di atas Perbukitan yang menghadap ke Lembah. Dari ketiga wilayah tersebut,Turaif adalah yang tertinggi, dan bagian bawahnya adalah tempat yang mudah diakses oleh wisatawan dengan berjalan kaki, dan di tempat ini masih ada beberapa menara observasi.

Kota yang modern dibangun pada ketinggian yang lebih rendah di kaki bukit yang berada di atas Turaif. Terletak di sebelah utara kota, di dalam lembah, terapat, Taman, kebun Kelapa Sawit, dan peternakan kecil dan Perkebunan. Sebuah bendungan dikenal sebagai Al-Ilb terletak di sebelah utara.

Bingung, ini istana apa benteng ya? Sudah coba nyari papan petunjuk, tapi  nggak nemu.
Bingung, ini istana apa benteng ya? Sudah coba nyari papan petunjuknya, tapi nggak nemu. Dindingnya asli dari lumpur loh..

edit7

Play ground di tengah taman.
Play ground di tengah taman.

edit9

Eh, ketemu satu pohon kurma yan lengkap dengan buahnya.
Eh, ketemu satu pohon kurma lengkap dengan buahnya.

Sejarah

Meskipun lokasinya kadang-kadang diidentifikasi dengan pemukiman kuno yang disebutkan oleh Yaqut dan Al-Hamadani yang dikenal sebagai “Ghabra”, sejarah Diriyah berawal dari abad ke-15. Menurut penulis sejarah dari Najd, kota ini didirikan pada tahun14461447 oleh Mani Al-Mraydi, nenek moyang keluarga kerajaan Saudi. Manidan pasukannya telah datang dari daerah Al-Qatif di bagian timur Saudi, atas undangan dari Ibnu Dir, yang saat itu penguasa dari kelompok permukiman yang sekarang disebut Riyadh. Ibnu Dir ‘dikabarkan telah menjadi rekan Mani’ Al-Mraydi, dan pasukan Mani diyakini telah meninggalkan wilayah Wadi Hanifa ditanggal yang tidak diketahui.

=====================Salinan selesai====================

edit11

edit12

Piknik selesai, saatnya pulaaaaang...
Piknik selesai, saatnya pulaaaaang…

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 19 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

Terimalah

Photo was taken by Verawaty Lihawa

اللهم تقبل منا صلاتنا، وصيامنا، وقيامنا، وجميع أعمالنا، واجعلها خالصة لوجهك الكريم 

“Ya Allah, terimalah (amalan) shalat kami, puasa (Ramadhan) kami, ibadah shalat malam kami, serta seluruh amalan-amalan kami. Dan jadikanlah amalan-amalan tersebut ikhlas karena mengharapkan wajahMu yang mulia.”

(Di antara doa yang dibaca setelah doa qunut witir,  oleh salah satu imam masjid di Ummul Hamam, Riyadh,Ramadhan 1434 H)

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

Masih “Alergi” Belajar Ilmu Syar’i?

Photo was taken by Verawaty Lihawa

“Eh, ada kabar terbaru apa dari dunia selebritis Indonesia sekarang?”

Itu loh, anak pasangan artis yang udah cerai itu. Udah tau belum sih, kalo anak bungsunya habis kecelakaan pas ngendarai mobil? Ih, lagian, anak umur segitu kok ya dibiarin nyetir mobil sendiri. Bla, bla, bla…”

======================================================

“Mmm, rukun shalat apa aja ya?”

“Errr…apa ya? Seingatku ada takbiratul ihram-nya. Eh, bener nggak ya?”

=======================================================

“Ngomong-ngomong, ada nggak, sih, blush-on yang bisa sekalian dipake buat eye shadow?”

“Halloooo, belum dengar make-up terbaru keluaran merek X, ya?”

=======================================================

“Oh iya, kalo lupa baca doa sujud pas shalat, perlu sujud sahwi nggak ya?”

“Eh, sujud sahwi tuh apaan? “

=======================================================

“Kira-kira tren make-up 2014 gimana ya?”

“Kalo kata pakar tatarias yang aku baca di majalah, sih, tren-nya masih yang natural, tapi ada sentuhan bla bla bla…”

=======================================================

“Doa perlindungan dari empat hal yang dibaca pas tahiyat akhir itu, hukumnya sunnah apa wajib ya?

*Uhuk-uhuk* “Boro-boro. Doanya aja nggak hapal.” *nyengir*

=======================================================

                                                                                                        *****

Ahem, ini baru masalah shalat. Amalan yang akan dihisab pertama kali di hari kiamat. Bagaimana dengan ibadah lainnya?

Semangat belajar ilmu syar’i, yuk, temans!

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 10 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

Yang Terlupa

Photo was taken by Verawaty Lihawa

Suatu kali, ketika sedang ber-blog-walking ria, saya menemukan sebuah tulisan yang sukses membuat saya rindu luar biasa pada orang tua saya. Sampai nangislah pokoknya habis baca itu. Yang saya ingat dari tulisannya kira-kira begini, selama ini kita sering terfokus pada bertambahnya usia kita atau buah hati kita. “Masya Allah si Kakak sudah mau masuk sekolah tahun ini. Enggak terasa ya.” Atau, “aaah…how time flies so fast. Tahun depan usiaku sudah masuk kepala tiga.” Namun kita lupa bahwa Bapak-Ibu kita juga semakin tua. Uban mulai menyebar luas di semua kepala. Keriput mulai menonjol di wajah mereka. Penglihatan mulai berkurang, dll, dll, dll.

Pas baca yang di atas itu saya masih biasa-biasa saja. Karena sebetulnya yang paling menohok itu adalah komentar yang masuk pada tulisan tersebut. Ceritanya, si pemilik komentar ini, sebut Mbak A, termasuk di antara yang jarang bertemu ibunya (Bapaknya sudah meninggal, kalau tidak salah). Mbak A hanya bisa bertemu setahun sekali sebab beliau tinggal beda provinsi dengan sang Ibu. Di situ disebutkan pula usia Ibunya Mbak A, tapi saya lupa. Anggap saja 60 tahun.

Nah, ketika mudik lebaran kemarin, Ibunya Mbak A ini tiba-tiba nyeletuk,

“Nduk, kamu kan pulangnya cuma setahun sekali. Itu berarti, kalau jatah umur Ibu cuma sampai 65 tahun, Ibu cuma punya jatah 5 kali lagi ketemu kamu, ya Nduk.”

Haduh, mata saya berkaca-kaca lagi pas nulis ini. Merindu Mama-Papa yang juga semakin menua, di kampung sana.

Allaahummaghfirli  wa liwaalidayya warhamhuma kama rabbayaani shaghiraa. Wa yassir lahuma ziyaratal haramain, yaa Rabb. Innaka sami’ud du’aa’. 

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 9 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

Bersihkanlah

Photo was taken by Verawaty Lihawa

اللهم طهر قلوبنا من النفاق , وألسنتنا من الكذب , وأعيننا من الخيانة , وأعمالنا من الرياء , وأموالنا من الربا

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, lisan-lisan kami dari perkataan dusta, penglihatan kami dari pandangan khianat, amalan-amalan kami dari (penyakit) riya’, dan harta kami dari riba.”

(Di antara doa yang dibaca salah satu Imam masjid Ummul Hamam, Riyadh,
setelah doa qunut witir, Ramadhan 1434 H)

 

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

 

Cerita dari Haramain #3: Si Mbah

Photo was taken by Verawaty Lihawa

Hingga hari ini, masih terbayang wajah si Mbah, teman sekamar ketika umroh kemarin.

Lisannya yang terlihat selalu berdzikir di antara hiruk-pikuk manusia, bahkan dalam kondisi berdesak-desakan di pintu masjid.

Nasihatnya untuk selalu bersabar ketika kami nyaris putus asa, tak jua menjumpai tempat yang sedikit lapang di dalam masjid.

“Sabar. Banyak-banyak dzikir. “  Medhok Jawanya kental terasa.

Yang dengan kesabaran itu, kaki kami digerakkan Allah menuju tempat yang selalu nyaman.

Beliau yang masih sanggup jalan kaki dari hotel-masjid-hotel di usia 73 tahun. Barakallahu fiik wa fii ‘umrik, Mbah.

Membuat saya terkenang dengan para manula tangguh, pengayuh sepeda dan pemanggul dagangan di Pasar Beringharjo, Jogja.

Kakinya pun masih kokoh berdiri saat qiyaamul lail bersama imam, yang kita tahu betapa panjang bacaan shalat mereka.

Batin saya berbisik sendiri. “Melihat ‘Jenengan, Mbah, saya rasanya makin bangga jadi orang Indonesia.”

Betul, jamaah umroh dan haji yang berusia lanjut dari Indonesia, rata-rata kuat fisiknya. Sedikit sekali dari mereka yang pakai kursi roda.

Tidak seperti jamaah Negara lain. Usia mereka kebanyakan masih separuh baya, namun tak kuat lagi shalat berdiri. Masing-masing bawa kursi sendiri.

Melihat si Mbah yang begitu kuat, membuat saya jadi bersemangat. Pantang berkeluh kesah.

Melihat si Mbah yang begitu tua, para penjaga pintu masjid selalu mendahulukan kami untuk masuk di antara pengantre yang berbadan segar-bugar. Mungkin iba melihat wajah tuanya.

Terkadang, malu juga sama si Mbah. Di saat kesehatan para penghuni kamar mulai drop, si Mbah yang masih terlihat sehat.

Beliaulah yang bahkan memijat saya, serta mengerok semua Ibu-ibu di kamar itu.

Jazakillahu khaira, Mbah.

Photo was taken by Verawaty Lihawa
Photo was taken by Verawaty Lihawa

 

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 1 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

Cerita dari Haramain #2: Wasiat Ummu Zakaria

dendelion

Waktu: 28 Ramadhan 1434 H

Latar: Masjid Al-Haram lantai 2

Siapakah Ummu Zakaria? Sabar dulu. Seperti biasa, saya mau kasih intro dulu sebelum akhirnya memperkenalkan siapa beliau.

Ceritanya, ketika rombongan umroh kami dari Riyadh harus kembali tanggal 25 Ramadhan, saya dan suami memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah sampai 1 Syawwal. Alhamdulillah pemilik travel yang membawa rombongan  dari Balikpapan, mengizinkan kami untuk bergabung dengan teman-teman di hotel yang mereka tempati. Suami bergabung dengan Bapak-bapak, saya pun ditempatkan sekamar dengan 5 Ibu-ibu–eh, satunya sudah sepuh, ding–yang dua di antaranya adalah kenalan baik saya di Balipapan.

Selama tinggal bersama Ibu-ibu ini, saya didaulat untuk menemani mereka ke mana-mana. Salah satunya menemani ke Masjid. Saya tentunya senang-senang aja, karena berasa menemani orang tua sendiri. Nah, di salah satu kunjungan ke  Masjid itulah awal perkenalan saya dengan Ummu Zakaria.

Beliau jamaah dari Irak, khususnya Baghdad, dan lancar berbahasa fushah, alhamdulillah. Sore itu selepas kami shalat ashar, saya terlibat dalam obrolan yang cukup seru dengan beliau. Sekadar info, kebiasaan saya ketika di Masjid Al-Haram atau Nabawi, saya berusaha untuk duduk dekat orang Arab yang tipikal multazimah gitu. Terus “si korban” ini saya ajak kenalan dan ngobrol-ngobrol untuk mengukur kemampuan Bahasa Arab saya. Guru-guru saya di madrasah juga menyarankan begitu. “Pokoknya kalau  kalian ketemu orang Arab, lancar-enggak lancar kalian ngomongnya, ajak ngobrol! Mereka pasti paham Bahasa Fushah, walaupun di antara mereka ada juga yang susah ngomongnya.”  Siap, Bu Guru.

 Balik lagi ke Ummu Zakaria. Jadi beliau ini, ketika tahu saya orang Indonesia, komentar pertamanya, “Masya Allah dari Indonesia. Saya tahu Indonesia adalah negara mayoritas muslim.”

Sebaliknya, pas saya tahu beliau orang Irak, langsung saja saya tanya-tanya kondisi muslimin di sana. Dari ceritanya, ternyata keadaan saudara-saudara muslim di Irak sangat menyedihkan.

“Dunia mungkin hanya tahu bagaimana syi’ah membantai muslimin Suriah. Padahal, di Irak mereka juga bertindak sama. Tapi tak ada media yang memberitakan hal ini.”

Dari Ummu Zakaria ini saya akhirnya tahu bahwa pemerintah di negaranya, yang notabene dikuasai agama syi’ah, mempersulit kaum muslimin yang hendak berhaji.

“Anti (kamu) tahu, yaa Ukhti, saya sampai sekarang belum pernah berhaji. Padahal, berapa lama sih, perjalanan Irak-Saudi Arabia jika ditempuh pakai pesawat. Cuma 2 jam. Kami pun, alhamdulillah, sudah mampu secara finansial dari dulu. Tapi pemerintah tidak mau mengeluarkan visa haji.” 

Kalau dapat cerita begini, jadi tersadar betapa beruntungnya jadi orang Indonesia. Pemerintahnya, yang di berbagai media banyak dicerca itu, ternyata begitu peduli dengan urusan haji dan umroh. Coba bayangkan jika suatu ketika punya pemerintah seperti pemerintahnya si Ummu Zakaria ini. Mau protes pemerintah saja sama dengan cari mati. Wal’iyaadzubillah.

“Lalu bagaimana kalian beribadah di sana? Maksud saya, apakah para lelaki bisa bebas ke masjid? Apakah ada durus (kajian-kajian) masyaikh di masjid-masjid, seperti umumnya di Saudi?” tanya saya penasaran. 

“Masjidnya cuma buka untuk shalat Jumat saja. Saat ini para orang tua tidak berani mengirimkan anaknya ke masjid untuk belajar Al-Qur’an (mungkin semisal TPA). Masjidnya dijaga. Pelajaran agama di madaaris (sekolah-sekolah) juga kurikulumnya diganti pemerintah, harus ada materi tentang pengenalan agama syi’ah. Allahul Musta’aan.”

 Saya hanya bisa mengelus dada.

“Bagaimana kondisi muslimin di Indonesia sendiri?”

“Alhamdulillah, dakwah ahlusunnah mulai marak di Indonesia. Banyak asatidzah lulusan Saudi Arabia, ketika kembali ke Indonesia mereka berdakwah di masyarakat.  Mereka juga membangun pesantren-pesantren bermanhaj salaf. Tapi yang saya sedihkan, syi’ah juga mulai unjuk gigi di sana. Bahkan di salah satu daerah, mereka sempat bertikai dengan muslimin di situ,” terang saya panjang-lebar.

Saya juga menjelaskan kepada beliau, tentang sebagian besar masyarakat yang masih beranggapan bahwa Iran adalah negara Islam.

Ummu Zakaria terkaget-kaget dengan cerita saya. “Laaa, Iran laisat bilaadal muslimiin, hatta Iraq (Tidaaak, Iran itu bukan negara muslim, bahkan Irak). Sebab Irak sekarang pemerintahannya dikuasai orang-orang syi’ah. Tentaranya juga mayoritas syi’ah.”

Di akhir obrolan, Ummu Zakaria berpesan kepada saya, “Saya wasiatkan kepadamu yaa Ukhti, jangan pernah bosan memberitahu masyarakat tentang hakikat syi’ah dan bahayanya. Kamu wajib atas tugas ini. Agar apa yang terjadi di negara saya (Irak) dan Suriah, jangan sampai terjadi di negaramu (Indonesia). Semoga Allah menolong kaum muslimin di manapun mereka berada. Sudah cukup saya jadi saksi langsung, betapa bahayanya syi’ah ini. Dua adik lelaki saya meninggal ketika melawan tentara syi’ah, semoga Allah menerima syahid keduanya. Tolong ingat wasiatku ini, Ukhti.”

Jarum jam mendekati waktu berbuka. Ummu Zakaria, pun para jamaah, terlihat khusyuk berdoa. Ah, saya tentu tak mau pula ketinggalan kesempatan berharga ini. Salah satu waktu diijabahinya (dikabulkannya) doa-doa. Kali ini, tak perlu dituliskan, anda mungkin sudah tahu apa salah satu doa saya.

dendelion

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 24 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Baru Tiga Tahun

wait

Alkisah, tersebutlah sepasang suami-istri yang ingin mengadukan permasalahan mereka kepada salah satu ulama di kota mereka. Pasangan ini, sejak pernikahan sampai kini, belum juga memiliki buah hati yang mereka idamkan. Setelah konsultasi dan diperiksa oleh dokter, mereka dianjurkan untuk melakukan bayi tabung.

Sebenarnya pembahasan masalah bayi tabung dalam tinjauan syari’at sudah pernah mereka baca. Hanya untuk lebih mantapnya dan ingin mencari penjelasan sejelas-jelasnya, berangkatlah sang Suami menemui sopir seorang mufti ternama (yang kebetulan berasal dari negara yang sama dengan sang Suami) di kota tersebut, untuk meminta tolong kepada si Sopir agar menyampaikan pertanyaannya kepada Syaikh.

Akhirnya terjadilah dialog antara Suami dan si Sopir, yang kira-kira begini isinya.

Sp (Sopir) : “Antum sudah berapa lama nikahnya?” 

Sm (Suami): “3 tahun, Ustadz.”

Sp : “Baru tiga tahun..? Masih baru itu, Akhi!!” sambil tersenyum. “Ana juga sampai sekarang belum punya anak sudah 15 tahun nikah. Antum tahu, Syaikh juga belum punya anak padahal Beliau lebiiih… lama lagi nikahnya. Jadi kita belum ada apa-apanya dibanding Syaikh, Akhi. Bersabar aja dulu. Coba cari pengobatan yang lain.”

Adapun jawaban dari Syaikh untuk suami-istri tadi, mengingat dalam proses bayi tabung itu akan memperlihatkan aurat si Istri, sementara hal ini tidak dibolehkan, maka Syaikh memandang bahwa bayi tabung bukanlah sesuatu yang darurat.

wait

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 16 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Cerita dari Haramain #1: Dua Sopir

ramadan in makkah

Waktu: 24 Ramadhan 1434 H
Latar: Mekkah Almukarramah

Sopir #1

Sebelumnya saya mau berucap syukur dulu kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada muhsinin yang sudah berbaik hati membiayai perjalanan rombongan umroh kami dari Riyadh hari ini. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Mekkah menjelang waktu sahur tanggal 23 Ramadhan.

Jika Ramadhan tahun ini kami bisa sampai dua kali umroh (alhamdulillah), TENTUNYA itu bukan karena kami yang banyak uangnya. Tapi karena di Saudi banyak sekali muhsinin yang rela mengeluarkan hartanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah semisal ini. Dan insya Allah mereka tak mengharapkan balasan kecuali doa dari orang-orang yang sudah mereka bantu. Jazaahumullahu ahsanal jazaa’.

Meski lokasi funduq (hotel) yang lumayan jauh dari Masjid al-Haram, saya tetap senaaaang sekali. Sudah perjalanannya gratis, dapat hotel pun tak bayar, siapa yang tak bahagia? Ketika diamati, sepertinya ini hotel terjauh yang kami dapati selama berkesempatan ke sini beberapa kali. Kawasannya juga terlihat asing. Yah, bisa dimaklumi karena musim Ramadhan begini, hotel-hotel di sekitar Alharam pasti penuh dan naik juga tarifnya.

Besoknya, setelah makan malam, shalat Isya’, dan kemudian rehat, sekitar jam 24.00 WKSA,kami (saya dan suami) langsung bersiap menuju Masjid al-Haram untuk melaksanakan qiyaamul lail, dan insya Allah setelah shubuh dilanjut dengan prosesi ibadah umroh: thawaf, sa’i, tahallul.

Di lobby kami bertanya ke pegawai hotel jalan ke arah Masjid al-Haram. Sesuai ancer-ancer dari pegawai hotel tadi, kami jalan kaki ke arah Syaari’ (Jalan) ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Sampai disana kami benar-benar asing dengan jalan ini.

Di setiap kesempatan umroh, kami biasanya menjadikan ujung menara Jam Mekkah sebagai acuan arah dari hotel ke Masjid al-Haram. Jika menaranya terlihat dekat, berarti masjidnya juga dekat, sehingga kami bisa memilih jalan kaki ke masjid. Kali ini menaranya sama sekali tak terlihat dari tempat kami berdiri. “Berarti hotel kita benar-benar jauh dari masjid” kata suami.

Kami, tepatnya suami, segera memutuskan untuk mencari bis ke arah masjid. Setelah tanya sana-sini dan mendapatkan penjelasan yang tidak juga mencerahkan dari orang-orang yang kami temui, akhirnya diputuskan untuk pakai jasa taksi saja. Menit-menit terus berlalu, kami harus segera berpacu untuk menyelesaikan manasik.
Tiba-tiba sebuah mobil GMC hitam model Yukon (kalau tidak salah), berhenti di depan kami. Pengemudinya yang berwajah Arab memberi isyarat untuk naik. Di sampingnya duduk seseorang wanita yang juga bercadar seperti saya. Saya duga itu mungkin istrinya, karena di jok belakang duduk pula seorang anak perempuan kira-kira berusia 6 tahun-an,  mungkin anak mereka.

Baik si Bapak Sopir maupun suami, sama sekali tidak membuka obrolan selama perjalanan. Mobil akhirnya melewati sebuah nafaq (terowongan) panjang, yang artinya dugaan kami benar; hotel kami memang jauh dari masjid.

Si Bapak “Arab” itu akhirnya menghentikan mobilnya di salah salah satu sisi jalan yang masih agak jauh dari Masjid al-Haram. Rupanya beliau mau kea rah yang berbeda, jadi kami diturunkan disitu. Kami lantas berterima kasih kepada si Bapak, karena beliau memberi kami tumpangan gratis. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Biasanya di Mekkah memang banyak mobil-mobil pribadi beroperasi sebagai jasa taksi. Tapi yang kami tumpangi tadi benar-benar majjaanan alias gratis.

Sebelum turun suami bertanya arah jalan masuk masjid kepada si Bapak “Arab” tersebut. Reaksinya sungguh tak terduga. Beliau terlihat agak bingung. Padahal suami sepertinya sudah cukup jelas  melafalkan pertanyaannya dalam Bahasa Arab. Istrinya terlihat menjelaskan dalam bentuk gumaman.

Si Bapak malah balik bertanya, “Philippino or Indonesia?”. “Indonesia,” jawab suami. “Kalo gitu lewat jalan bawah situ aja, Pak. Tinggal jalan dikit aja udah nyampe masjid kok.” Si Bapak pun berlalu melewati sisi kiri  atas jalan. Entah kemana.
Kami melotot takjub diakhiri dengan tawa kecil yang tak tertahan.

Sopir #2

Alhamdulillah manasiknya selesai sekitar jam 9 pagi. Agak lama memang karena waktu sa’i tadi, kami sengaja tidak mau terburu-buru karena kaki agak letih setelah thawaf.
Selesai saya tahallul (suami memilih tahallul di hotel), kami mencari sudut sepi yang bisa dipakai untuk tidur sejenak.

Masih di sekitar mas’aa (tempat melaksanakan sa’i), sepasang suami-istri (dari logatnya, sepertinya dari Mesir), menitipkan kepada kami bayi mereka yang sedang terlelap di dekat situ.  Mereka mau melanjutkan kegiatan sa’i-nya. Karena tempatnya memungkinkan untuk tidur, saya akhirnya berbaring di samping si bayi. Badan capai dan rasa kantuk yang luar biasa, membuat saya cukup terlelap sambil dijaga suami yang ikut terkantuk-kantuk di dekat kepala saya.

Bangun-bangun disambut ramainya orang yang bersiap menunggu shalat Jumat. Orang tua si bayi juga sudah duduk mengobrol di dekat kaki saya. Kami akhirnya segera berlalu dari situ untuk mencari area yang nyaman buat shalat Jumat nanti. Kami berhenti di lantai dua masjid, di salah satu area bermesin pendingin. Sejuuuuukk…

Saya teringat harus wudhu lagi. Wudhu saya batal karena tertidur lelap selepas sa’i tadi. Saya minta suami menjaga tempat duduk saya agar tidak diserobot orang, karena jarak toilet-masjid yang lumayan jauh. Jamaah semakin berbondong-bondong masuk.

Singkat cerita, qaddarallaahu wa maa syaa’ fa’al, saya akhirnya harus sholat di pelataran masjid. Tempat saya sudah diambil jamaah lain.

Singkat cerita lagi, saya juga membatalkan puasa hari itu setelah mengalami dehidrasi hebat karena disengat terik matahari Mekkah. Karena Riyadh-Mekkah sudah terhitung safar, jadi saya bisa dapat keringan berbuka kan? Bayangkan sekitar 1 jam sebelum adzan, lanjut khutbah, sampai shalatnya, saya harus duduk di halaman masjid yang hanya beratapkan langit itu. Oh iya, dan sun-bathing tentunya. Selama duduk, keringat saya terus mengalir deras.

Ketika khatib naik mimbar tadi, saya teringat bahwa ini adalah salah satu momen mustajabnya doa. Maka saya pun berharap sekali hujan turun saat itu juga, saking panasnya cuaca. Beberapa kali saya lantas berucap lirih, ” Yaa Rabbi, anzil lanal mathor, anzil lanal mathor”  (Ya Allah, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami).

Sekitar sejam selepas shalat, saya masih saja “setia” mondar-mandir dari pintu masuk #84, #85, dan #86, untuk memastikan apa saya bisa segera masuk ke dalam masjid dan mendapatkan secuil kesejukan dari mesin pendingin di lantai 2. Ternyata NIHIL. Penjaga pintu meminta jamaah yang di luar masjid bersabar untuk tidak masuk dulu, demi menghindari desak-desakan di pintu masuk dengan ribuan jamaah yang mau keluar masjid. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Suami beberapa kali menelpon tapi suaranya tak kedengaran jelas. Mana pulsa saya “sekarat” tak bisa menelpon balik. Karena darurat, akhirnya saya tak malu-malu lagi pinjam handphone si Penjaga Pintu #86. Saya cerita saja kondisi saya waktu itu.

Penjaganya ternyata ramah sekali. Sangat jauh dari tampang sangar khas mereka ketika harus menertibkan jamaah yang suka ngeyel.

Alhamdulillah, akhirnya suami muncul juga dari pintu #84 tempat kami janjian.
Rencananya hari itu kami mau ketemu teman-teman rombongan umroh dari Balikpapan, sekaligus mau titip beberapa kitab untuk dibawa pulang. Tapi penampilan kami yang sudah semrawut, ditambah bau tak enak, suami juga masih berbalut kain ihram dan masih belum tahallul, jadi kami putuskan untuk balik funduq dulu untuk mandi dan ganti baju, sekalian menjemput kitab-kitab yang mau dititipkan ke Balikpapan.

Tentunya balik ke funduq kami harus naik taksi lagi. Dari pintu #84, kami harus berjalan sedikit jauh melewati Marwa untuk sampai  ke pangkalan taksi. Baru jalan beberapa langkah, langit tiba-tiba berubah menjadi sangat mendung. Di kejauhan, dari arah belakang Hotel Dar el-Tawheed, terlihat seperti badai debu. Angin pun seketika bertiup sangat kencang. Jilbab saya terasa mau terbang. Kami pun ketakutan lantas lari sekuat tenaga masuk ke masjid lagi, menunggu badai reda.

Doa saya terkabul. Gerimis perlahan-lahan jatuh, membasahi halaman Masjidil Haram.
Sebelum nanti semakin deras, kami segera memacu langkah ke tujuan semula, pangkalan taksi.

Ternyata pangkalan taksi itu tidak seperti bayangan kami. Kami pikir itu kawasan khusus tempat taksi mangkal. Ternyata yang ada hanyalah jalan besar dimana taksi banyak lalu-lalang dan berhenti mencari penumpang. Di seberang kios-kios jasa tukang cukur  yang dekat Marwa itu, kami malah menemukan pangkalan bis yang khusus beroperasi dalam kota.

Gerimis mulai berubah menjadi butiran air yang semakin deras. Kami terpaksa jalan cepat-cepat ke arah pangkalan bis. Di antara puluhan bis yang ada disitu, ternyata tak satupun bis yang melewati kawasan penginapan kami. Qaddarallahu wa maa syaa’ fa’al.

Kata sopir-sopirnya, kami harus jalan lagi beberapa meter sampai perempatan terdekat, disana kami bisa dapati bis yang ke arah funduq.

Hujan bertambah deras. Kami putuskan untuk berteduh di parkiran bis. Tepatnya di dalam salah satu bis yang ada disitu. Sebab parkiran bis ini hanya berupa lapangan luas tanpa bangunan yang bisa dijadikan tempat berteduh. Sopirnya dengan baik hati mengizinkan kami naik ke bis bersama beberapa orang lain menunggu hujan reda.

Cukup lama kami berteduh di bis itu, hingga akhirnya memutuskan untuk segera turun dan mencegat taksi yang lewat. Dan, kejutan!! Hanya karena hujan beberapa jam, tarif taksi langsung naik dua kali lipat, dari SAR 10 menjadi SAR 30. Setiap ditawar para sopir itu berlagak jual mahal. Suami tetap bersikeras tak mau naik dengan tarif begitu.

Alhamdulillah, tak lama setelahnya, ada juga taksi yang tetap pakai tarif  biasa. Kami pun segera naik dengan baju agak kuyup.

Sopirnya orang Saudi, penduduk asli Mekkah. Terlihat baik dan ramah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya bertanya tentang kami. Ketika mobil baru jalan si Sopir membuka obrolan tentang hujan yang sedang turun. “Semoga tadi malam lailatul qadar, ya Akhi. Ini hujan paling deras di Mekkah selama 3 tahun terakhir. Alhamdulillah, ini nikmat dari Allah”. Suami saya mengaminkan.

Si Bapak Sopir kemudian bertanya; “dari mana asal kalian”, “dimana kalian tinggal?”, “berapa lama kalian tinggal di Saudi?”, “bagaimana keadaan Riyadh? Kamu suka tinggal disana?”. “apa pekerjaanmu?”, dlsb.

Begitu tahu suami seorang mahasiswa, tanpa basi-basi beliau tanya berapa mukafa’ah (uang bulanan) yang diterima dari jami’ah (kampus). Suami pun menjawabnya apa adanya, lalu menambahkan, “Sebenarnya kami ke Saudi tujuan utamanya mau belajar ilmu syar’i. Jadi kegiatan saya di Riyadh, pagi ke kampus, sorenya ikut dars masyaikh di masjid. Alhamdulillah di Riyadh istri saya juga bisa belajar Bahasa Arab di madrasah khusus ajnabiyyaat (perempuan non Arab) dan ikut halaqah hapalan Al-Quran.”

Obrolan terus mengalir, sampai tak terasa kami sudah mendekati funduq. Suami memberi isyarat untuk berhenti. Dari bangku belakang saya menyodorkan kepada suami selembar SAR10 untuk diberikan ke Bapak Sopirnya sebagai ongkos taksi.

Tak disangka Bapak Sopir itu tak mau menerima uang tersebut. Suami bahkan sampai memaksa, Beliau tetap tak mau juga. Beliau malah mendoakan kami, dan berucap, ” Yaa Akhi, saya tahu kalian orang baik-baik. Tolong, saya hanya ingin doa dari kalian saja untuk saya.”
“Jangan begitu. Kami jadi tidak enak. Dari masjid kesini kan lumayan jauh, jadi terimalah uang ini,” balas suami.
” Tidak Akhi. Saya hanya ingin doa kalian saja.”
“Jazakallaah khayraa. Tolong doakan kami berdua juga.”
“Hayyakallaah…” Mobil si Bapak itu pun melaju di antara genangan air yang memenuhi Syaari’ ‘Umar Bin Khattab.

Di antara langkah-langkah kaki menuju funduq, lamat-lamat saya merapal doa kepada Sang Pemelihara Negeri yang aman ini, semoga Ia melimpahkan segala kebaikan untuk dua sopir baik hati yang yang kami temui hari ini.

Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahi kami dengan berbagai nikmat.

ramadan in makkah

Diselesaikan menjelang dinihari,
Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 14 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Taubatnya si Penggila Korea (Bagian 2 – Selesai): Saat Hidayah Datang

Jeju Island (1)

Hanya butuh sekitar 1-2 hari bagi D untuk menyelesaikan buku yang dipinjamkan sahabatnya. Entah di halaman keberapa, D mendapati salah satu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cukup panjang menggambarkan tentang Dajjal.[1] Sampai-sampai hadits ini membuatnya ketakutan dan tak bisa terlelap berhari-hari.

Dari buku itu, khususnya di bagian  kisah bertemunya Dajjal dengan salah seorang sahabat Nabi yang terdampar di sebuah pulau, D akhirnya tahu bahwa Dajjal tenyata sudah ada di bumi saat ini. Terbelenggu di sebuah pulau, di tempat persembunyian yang hanya menjadi rahasia Allah ‘Azza wa jalla.

Jeju Island (1)

D disergap rasa ngeri menjadi-jadi, membayangkan jika suatu hari Dajjal tersebut keluar dari persembunyiannya, dimana hal itu merupakan tanda datangnya kiamat besar. Dalam pikirannya, ketika Dajjal itu keluar di saat dia masih hidup, maka bisa saja dia akan jadi kafir disebabkan dahsyatnya fitnah Dajjal tersebut. Apalagi D sadar, dia tak punya bekal ilmu agama yang bisa membentenginya dari fitnah Dajjal.[2]

Cerita Dajjal itu terus saja memenuhi kepala D. Yang paling membekas dari buku itu, hingga membuatnya selalu merenung adalah;

#01. Dajjal itu pengikutnya paling banyak wanita[3] dan yahudi[4].

 Kata D, “Aku kan wanita. Jadi aku bisa-bisa jadi pengikutnya Dajjal juga kalau dia keluar nanti.”

#02. Dajjal bisa memasuki semua negeri, kecuali Mekkah dan Madinah[5].

Kata D, “Lha, aku tinggalnya di Indonesia, berarti si Dajjal itu bisa juga masuk ke Indonesia.”

#03. Hanya orang beriman saja yang bisa mengenali ciri-ciri Dajjal, melalui kabar yang telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Beliau.

Kata D, “Gimana bisa jadi orang beriman, orang akunya aja masih belum pakai jilbab. Ibadahnya juga masih kurang.”

#04. Saking besarnya fitnah yang ditimbulkan Dajjal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, Dajjal ini harus dijauhi sejauh-jauhnya jika diyakini tak bisa melawan fitnahnya. Sebab ketika bertemu Dajjal, ada orang yang tadinya beriman bisa berubah menjadi kafir[6].

Kata D, “Ya Allah, orang beriman aja bisa jadi kafir begitu. Aku yang seperti ini tentu lebih mudah lagi kena fitnahnya Dajjal.”

Akhirnya tak ada lagi “demam’ Korea setelah insiden baca buku tersebut. D memutuskan tak mau lagi menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia. Saat itu, dia bertekad harus mencari tahu bagaimana jalan menjadi orang yang beriman.

Betul, D ingin jadi orang beriman agar bisa mengenali ciri-ciri Dajjal dan terhindar dari fitnahnya. Sungguh fitnah tersebut amatlah besar, sampai bisa membuat orang yang tadinya mukmin menjadi kafir. Sementara  D tahu bahwa orang kafir itu akan kekal selamanya di neraka.

Sekitar dua pekan kemudian, di bawah gerimis hujan senja, Allah Ta’ala akhirnya menuntun kaki D menuju sebuah majelis ilmu. Di sebuah mushalla kecil di dekat kosnya. Disanalah D bertemu muslimah-muslimah yang membuatnya terpesona dengan kelembutan akhlak mereka dan senyum manis yang senantiasa tersungging dari bibir mereka. Tak pernah dia rasakan bahagia seperti bahagianya sore itu.

Dengan taufikNya, tak ada lagi Korean Pop mengisi hari-hari D. Dia pun senantiasa memohon kepada Allah agar tetap istiqomah di atas jalanNya sampai akhir hayat, dan dihindarkan dari jeleknya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.[7]

Selesai

Ummul Hamam menjelang Ramadhan 1434 H
Verawaty Lihawa

——————————————————————————————-

Catatan Kaki

[1] Silakan baca lengkapnya di http://kisahmuslim.com/tanda-kiamat-dajjal-yajuj-dan-majuz-turunnya-nabi-isa/

[2] Baca juga ulasan ilmiah tentang masalah Dajjal ini di http://abiubaidah.com/dajjal-imajinasi-atau-fakta.html/

[3] Disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke isterinya, ibunya, putrinya, saudarinya dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal”. (HR. Ahmad 2: 67. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). [http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3709-munculnya-dajjal-5-siapakah-pengikut-dajjal.html]

[4] Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengikuti Dajjal adalah orang Yahudi dari Ashbahan (Iran) dan jumlahnya ada 70.000 orang dan mereka memakai thilsan (yang menutup pundak dan badan)” (HR. Muslim no. 2944). [Ibid].

[5] Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Tidak ada suatu negeri pun yang tidak akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah, karena tidak ada satu pintu masuk pun dari pintu-pintu gerbangnya kecuali ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Kemudian Madinah akan berguncang sebanyak tiga kali sehingga Allah mengeluarkan orang-orang kafir dan munafiq daripadanya.” (HR. Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943), [http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3274-munculnya-dajjal-3.html]

[6] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal hendaknya menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seorang yang mendatanginya merasa dirinya beriman tapi kemudian mengikuti Dajjal dikarenakan syubhat-syubhat yang dilontarkan Dajjal.” (HR. Ahmad).

[7] Silakan baca http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3758-munculnya-dajjal-6-agar-terhindar-dari-fitnah-dajjal.html

 

Taubatnya si Penggila Korea (Bagian I): Masa-masa Kelam

download

download

Saya selalu takjub dengan cara Allah memberi hidayah kepada setiap hambaNya. Sebutlah Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang dulunya terkenal paling keras memusuhi Islam. Hidayah Allah menyapanya setelah membaca ayat-ayat Al Qur’an dari shahifah (lembaran) yang diberikan adiknya, Fathimah Bintu Khattab.[1] Salman Alfarisi radhiyallahu ‘anhu pun punya kisah masyhur mengharu-biru dalam mencari kebenaran yang dibawa Sang Teladan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di kehidupan saya, saya mengenal muslimah, sebut D,  yang punya cerita sendiri dalam menggapai hidayah Allah subhanahu wa ta’ala.

Sekitar tahun 2007, D menggilai hampir segala hal yang berbau Korea: artis, musik, film, fashion. Tinggal di Kota Pelajar yang berbiaya hidup murah membuatnya bisa memuaskan “kegilaannya” tersebut. Setiap pekan, selalu ada dua-tiga keping DVD film Korea dia bawa dari persewaan video terdekat dari kosnya. Malam-malamnya lantas dihabiskan bersama kawan-kawan sekosnya untuk menikmati film-film Korea yang mereka sewa.

Cara berbusana D ikut berubah. Pakaiannya selalu diusahakan untuk latah dengan mode busana Korea terkini: dress lucu, sepatu imut, kaos dan rok warna-warni. Rainbow-style, begitu istilah dia.

Setiap pagelaran budaya Korea di kampusnya, D selalu berada di deretan terdepan antrean pengunjung. Sebab pada pagelaran ini, ada Festival Film Korea yang kerap dinanti seluruh penggemarnya. Tak ketinggalam bazar makanan Korea dan sesi foto dengan busana khas Korea, hanbok, yang tak pernah dilewatkan seorang “penggila” Korea seperti D.

Bagi D, hidup dengan hiburan-hiburan Korea terasa sangat membuai: musik yang memabukkan, aktor dan penyanyi Korea yang innocent dan tampan, juga serial-serial dramanya yang rasanya sayang untuk dilewatkan (meski harus selalu menunda waktu shalat). “Candu” Korea itu dijalaninya hampir dua tahun.

Sebagai pemeluk Islam, sholat lima waktu masih dia laksanakan, Alhamdulillah, meski lebih seringnya tertunda sampai mendekati akhir waktu, karena tak ingin ketinggalan adegan seru dari drama Korea yang biasanya tersisip di akhir setiap serial.

Hingga suatu ketika, pulanglah D dari kos sahabatnya dengan membawa sebuah buku bercerita tentang Dajjal,  yang dipinjamkan sang sahabat tercinta, sebut M.

Dan cerita pun dimulai…

Bersambung ke bagian 2,  insya Allah.

———————————————————————————————————–

1. Perlu diketahui, dua hal paling utama yang menjadikan luluhnya hati Umar hingga akhirnya ia pun mengikrarkan keislamannya, adalah qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian doa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Ya Allah, muliakan Islam dengan salah satu dari dua orang yang engkau cintai yaitu Abu jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattabb.” Maka yang lebih Allah cintai dari keduanya adalah Umar bin Khattab. (Lihat Shahih Sunan Ibnu Hibban 12/305), ditaut dari http://kisahmuslim.com/umar-bin-khattab/

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 16 Ramadhan 1433 H

Verawaty Lihawa

Mendadak Indonesia

Ini dia penampakan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR).

Ahlan!

Senangnya akhirnya bisa merasakan suasana Ramadhan di rumah kontrakan baru. Banyak alasan yang membuat saya lebih suka flat yang baru ini ketimbang yang lama. Di antaranya:

#1 Semua penghuni flat orang Indonesia

Flat ini dihuni sekitar 7 keluarga dan semuanya berkebangsaan Indonesia. Kami menempati rumah di lantai dua bersama tiga keluarga lainnya. Sayangnya belum bisa kenalan dengan semua Ibu-ibu yang disini, karena sebagian mereka sedang liburan ke Tanah Air. Rumah kami bersebelahan dengan sepasang suami-istri dari Jakarta. Istrinya kalau ditaksir usianya mungkin sepantaran Mama saya. Seluruh penghuni flat memanggilnya Enin (artinya nenek; bahasa Sunda).

Sejak pertama pindah kesini, si Enin ini sering sekali ngantar makanan ke kami. Menunya Indonesia pula. Alhamdulillah. Nikmat bertetangga dengan yang sebangsa.

#2 Masjidnya dekat

Kalau yang ini suami saya yang senang. Jarak rumah-masjid dekaaaat banget. Pokoknya enggak sampai 20 langkah orang dewasa insya Allah. Di flat lama masjidnya sebenarnya enggak terlalu jauh.  Sekitar 100 meter gitulah jaraknya dari rumah. Tapi jarak segitu sudah jadi ujian tersendiri buat mereka yang berusaha konsisten sholat lima waktu sehari di masjid, baik ketika musim panas maupun musim dingin.

#3 Dekat jalan raya

Ini benar-benar nikmat sekaligus ujian. Untuk nimatnya karena jadi lebih dekat ke bengkel dan tempat2 reparasi barang elektronik. Ujiannya itu karena ada toko Indonesia yang dekat banget dari rumah. Jalan kaki sebentar aja sudah nyampe. Pokoknya paling enak itu pas habis sholat tarawih trus kesitu cuma untuk beli minuman favorit, teh botol S**ro. Nimaaaatt…

#4 Di seberang flat ada Sekolah Indonesia-Riyadh (SIR)

Bagi komunitas warga Indonesia di Riyadh, SIR bisa dibilang sangat terkenal. Mayoritas orang Indonesia menitipkan anak-anaknya untuk sekolah di sini. Karena itu pula, flat-flat di sekitar SIR banyak dipenuhi orang-orang Indonesia. Termasuk di antara mereka teman saya di sekolah tahfidz Al Qur’an dan kawan-kawan belajar Bahasa Arab. Jadi kapan-kapan kami bisa saling berkunjung di kala luang, insya Allah.

Pun tinggal di seberang SIR itu artinya, saya tinggal nyeberang aja untuk  jajan di kantinnya, kalau pas kangen jajanan Indonesia, sebangsa bakso dan mie ayam. Hehehe…

Anak-anak yang pernah saya jagain pas haji tahun lalu juga banyak yang sekolah di SIR. Jadi sekalian aja saya umumin ke mereka, kami sudah pindah dekat SIR. Dan mereka tentunya boleh main ke rumah sambil nunggu jemputan aabaa’ (jamak ab: ayah) mereka masing-masing.

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tammush shaalihaat.

Ini dia penampakan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR).
Kira-kira beginilah penampakan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR). Penampakan aslinya sih sudah berubah. Maklum, foto pinjaman🙂

——————————————————————————————————————————

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Ramadhan 1434 H

Verawaty Lihawa

Salad Buah dengan Saus Custard-Mayonnaise

salad buah

salad buah

Resep ini bisa jadi menu andalan ketika buka puasa atau dalam momen kumpul keluarga. Rasa buahnya segar dengan paduan mayonnaise yang creamy, cocok untuk menemani suasana santai di rumah.
Tak perlu berpanjang cerita, silakan langsung simak resepnya.

Bahan:

*Untuk saus dressing

2 sdm bubuk custard
3 sdm susu cair untuk melarutkan custard
500 ml susu
80 gr gula pasir
6 sdm mayonnaise

*Untuk saladnya

1 apel merah
250gr melon
1 pear ukuran sdang
2 buah kiwi
1 sachet besar Nutrijell, masak sesuai petunjuk yang tertulis dalam kemasan, potong dadu setelah dingin.

Cara:
*Saus custard
1. Larutkan bubuk custard dengan 3 sdm susu.
2. Panaskan susu dgn api sedang, masukkan gula pasir, tuangi larutan bubuk custard.
3. Aduk-aduk selama 5 menit, matikan api, dinginkan.
4. Masukkan mayonnaise ke saus custard yg sudah didinginkan, kocok pelan dgn whisker sampai tercampur rata dan mayonnaise tidak menggumpal.

*Menyiapkan salad

1. Kupas dan potong semua buah sesuai selera. Tempatkan dalam 1 wadah.
2. Masukkan potongan Nutrijell.
3. Tuangkan saus custard. Aduk smpai semua bahan tercampur rata.
4. Taburi keju parut jika suka.

Enjoy!!!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 28 Sya’ban 1434 H

Verawaty Lihawa

Apakah Kita Lupa?


Tulisan ini khusus untuk mereka yang memilih demonstrasi sebagai solusi atas kenaikan harga BBM.

Tidakkah kita ingat dengan  firman Allah,

 

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

 

Dir’iyyah, Riyadh, KSA, 16 Sya’ban 1434 H

Verawaty Lihawa

Keutamaan Para Penghafal Al-Qur’an

شمضعقشى

Tidak tersembunyi lagi bahwa Al Qur’an adalah kemuliaan yang paling tinggi. Dan tiada pula diragukan manusia terbaik adalah yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya. Sedangkan ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan menghafal. Bahkan menghafal adalah syarat bagi ilmu. Maka, Al Qur’an harus dihafal sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Berikut ini adalah beberapa keutamaan yang akan diperoleh bagi orang yang menghafalkan Al Qur’an, semoga bermanfaat.

شمضعقشى

1. Bahwasanya orang yang hafal Al Qur’an, Allah menjadikan baginya kedudukan di hati-hati manusia dan kemuliaan, tidak sepantasnya tujuan (dia menghafal Al Qur’an) untuk tujuan ini akan tetapi hendaknya tujuannya adalah wajah Allah dan negeri akhirat.

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Kitab ini dan menghinakan yang lain dengannya.” (HR. Muslim)

2. Menghafal Al Qur’an menjadikan ucapan pemiliknya selamat dan benar dan membantu lisannya lancar berbicara dan cepat mengucapkan ayat-ayat Al Qur’an.

3. Membantu terhadap kekuatan daya ingat, dimana hafalan itu bertambah padanya, serta mudah pula bagi dia menghafal apa yang dia inginkan berupa ilmu-ilmu dan faedah-faedah.

4. Menjadikan seorang pelajar memiliki kedudukan yang lebih di antara teman-teman di kelasnya -dengan izin Allah- karena Allah membuka bagi dia dengan sebab hafalannya terhadap Kalam Allah dan menjadikan dia orang yang dicintai.

5. Sesungguhnya menghafal Al Qur’an itu menambah keimanan, pada saat dia membaca Al Qur’an.

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka.” (Al Anfal: 2)

6. Orang yang hafal Al Qur’an termasuk orang yang paling baik di antara manusia dan paling mulia di antara mereka.

Firman Allah Azza wa Jalla:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Faathir: 32)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

7. Bahwa orang yang hafal Al Qur’an dijadikan imam bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Orang yang menjadi imam satu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitab Allah.” (HR. Muslim)

8. Orang yang hafal Al Qur’an termasuk orang yang paling tinggi derajatnya di antara manusia di jannah. Dimana dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an:

“Bacalah dengan baik dan baguskanlah sebagaimana kamu membacanya dengan tartil pada waktu kamu di dunia. Karena sesungguhnya tempatmu tergantung pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dan dia berkata: Hadits Shahih)

9. Orang yang menghafal Al Qur’an akan bersama-sama dengan malaikat yang mulia.

Dari Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Orang yang mahir membaca Al Qur’an, maka nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang kesulitan dan berat jika membaca Al Qur’an, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti utrujjah, harum baunya dan lezat rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti kurma, tidak berbau tetapi manis rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an seperti raihanah, harum baunya tapi pahit rasanya. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti handhalah yang tidak ada baunya dan pahit rasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Sesungguhnya Al Qur’an akan memberi syafaat kepada orang yang membacanya pada hari kiamat dan memasukkannya ke dalam jannah.

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

11. Sesungguhnya menghafal Kitab Allah merupakan sebab untuk menyibukkan dengannya (yakni dengan menghafal Al Qur’an) pada waktu malam dan siang, dan manusia iri hati kepadanya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Tidak diperbolehkan iri hati kecuali di dalam dua hal: yaitu seorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami Al Qur’an kemudian mengamalkannya baik pada waktu malam ataupun siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya di dalam kebaikan baik pada waktu malam maupun siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Sesungguhnya dia mendapat pahala yang paling besar di antara manusia pada hari kiamat.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih)

13. Sesungguhnya orang yang sibuk dengan Al Qur’an akan mendapatkan yang paling baik di antara apa yang diberikan kepada seluruh manusia.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa yang disibukkan oleh Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku (hingga lalai) dari memohon kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan yang lebih utama daripada yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta, dan keutamaan Kalamullah daripada seluruh perkataan lainnya sebagaimana keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits Hasan) [1]

Oleh karena itu, seharusnya bagi kita semuanya untuk menjadikan sesuatu dari Kitab Allah ada pada dada-dada kita, sehingga tidak sebagaimana rumah yang kosong.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang kosong.” (HR. Tirmidzi) [2]

Footnote:

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 2926, dia berkata: ini Hadits Hasan Gharib, dan didhaifkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Al Misykah no. 2136 dan Adh Dhaifah no. 1335. (Lihat Sunan Tirmidzi, Maktabah Al Ma’arif cetakan Pertama halaman 654)

[2] Hadits riwayat Tirmidzi no. 2913, dia berkata: Hadits Hasan Shahih, dan didhaifkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Al Misykah no. 2135. (Lihat Sunan Tirmidzi, Maktabah Al Ma’arif cetakan Pertama halaman 651)

Sumber: Keajaiban Hafalan, Bimbingan bagi yang ingin menghafal Al Qur’an karya Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As Sahaibani dan Muhammad Taqiyul Islam Qaariy (penerjemah: Ummu Abbas, muroja’ah: Al Ustadz Harits Abror Tholib), penerbit: Pustaka Al Haura’, Jogyakarta, hal. 120-127.

 

*Disalin-tempel dari sini.

————————————————————————————————————–

 

 

VL

 

 

Tadabbur Musim Panas

summers

Saat ini di beberapa belahan dunia, termasuk Saudi Arabia, sedang mengalami musim panas. Terkhusus Kota Riyadh, suhu panasnya mulai merangkak naik dari 35 derajat selsius.

Berdiam di rumah memang pilihan yang paling tepat. Sambil menikmati sejuknya udara dari mesin pendingin ruangan. Biasanya panasnya akan mencapai 50 derajat ketika Ramadhan

Dengan kondisi semacam ini, menjalani puasa Ramadhan menjadi ujian kesabaran bagi setiap muslim yang tinggal di Riyadh. Bukan sekadar panasnya yang mebakar, tapi durasi puasa yang juga terasa lebih lama. Subuhnya datang lebih cepat, maghribnya malah terlambat.

Toko-toko dan pasar moderen dibuka sampai larut malam. Sehingga masyarakat bisa memilih waktu untuk belanja kebutuhannya selepas shalat isya.

summers

 

 

Bersyukurlah mereka yang bisa menikmati sejuknya pendingin ruangan. Sebab, tidak mustahil, ada juga orang yang terpaksa harus bersabar merasakan sengatnya udara musim panas. Bersabar serta mengambil pelajaran dalam keadaan yang demikian, tentunya suatu sikap yang hanya dimiliki orang-orang yang mau berpikir tentang kuasaNya.

Musim panas termasuk ciptaan Allah

Sesungguhnya musim panas, musim dingin, musim gugur, serta musim semi termasuk ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi sebagian hamba-hambaNya. Di balik penciptaan setiap musim tersebut pasti terkandung hikmah yang sangat besar.

Musim panas pendorong untuk giat beribadah

Musim panas harusnya membuat seseorang makin giat beribadah. Sebagaimana tidak sukanya seseorang dengan cuaca panas, pasti dia akan lebih membenci neraka yang panasnya jauuuuuuuuuuh lebih dahsyat dari panasnya dunia. Maka dengan sebab ini, selaiknya kita mulai memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kita. Jika tadinya rajin salat hanya karena ingin dinaikan gajinya oleh majikan, maka mulailah meniatkan bahwa ibadah tersebuat hanya untuk Allah semata. Jika sebelumnya memakai abaya dan niqab hanya karena takut dimarahi majikan, sekarang ubahlah niatnya bahwa semua itu untuk mengikuti perintah Allah dan rasulNya. Panasnya cuaca di dunia masih mampu kita hindari. Tapi panasnya neraka? Siapapun  tak akan mampu bertahan dengan siksaan yang satu ini. Wal’iyaadzubillah.

Musim panas bagi seorang muslim adalah bahan renungan dan pelecut semangat untuk giat beribadah. Adapun bagi orang kafir, musim panas adalah waktu hura-hura. Masa pamer aurat sebebas-bebasnya. Semoga kita dihindarkan dari perbuatan seperti ini.

Musim panas adalah ujian

Bagi muslimah, musim panas adalah ujian kesabaran. Ketika dia butuh keluar rumah, pakaian kebanggaannya tersebut tetap dikenakannya. Tak peduli panas menyengat, dia sabar dan tetap ceria menjalaninya. Sebab dia sadar, bahwa kesabarannya dalam menjalankan perintah Rabbnya, akan membuahkan kesejukan dan kenikmatan tiada tara nan abadi di akhirat nanti. Sebuah hadiah yang pantas diperebutkan oleh setiap orang yang mendambanya.

Untuk para lelaki yang sehari-harinya harus bekerja di luar ruangan, musim panas tidak menghalangi mereka untuk giat bekerja demi menghidupi keluarga. Sebuah sikap ksatria jika dibandingkan dengan mereka yang memilih meminta-minta, padahal jasadnya masih kuat.

Musim Panas, Masa Muhasabah

Betapa sabar dan tekunnya para ulama zaman dahulu dalam melazimi ilmu. Tentu di zaman mereka tak ada yang namanya pendingin ruangan. Tapi mengapa mereka mampu menghasilkan berbagai karya tulis yang monumental? Mereka pun masyhur sebagai ahli ibadah.

Kemudian berkaca dengan kondisi diri kami, sungguh teramat sangat sangat sangat jauh sekali bedanya dengan mereka. Kami yang menikmati sejuknya pendingin ruangan, masih harus selalu berusaha keras agar khusyuk salatnya. Waktu pun masih banyak terbuang percuma. Ilmu juga tak seberapa. Itu pun belum tentu diamalkan. Menghapal juga harus menunggu semangat datang. Benar-benar payah. Semoga musim panas tahun ini akan terhiasi dengan amal ketaatan. Selamat datang musim panas!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 11 Rajab 1434 H

Verawaty Lihawa   

Ummahat oh Ummahat

flowers

Bulan ini kayaknya bakal jadi waktu yang paling sibuk. Belum masuk pertengahan Mei udah punya tiga agenda haflah (pesta). Satunya sih udah selesai Jumat kemarin. Acara haflahnya dibikin

 atas nama grup Permataku Saudia (PS). Sepertinya saya pernah nyinggung nama grup ini di beberapa postingan lama. PS itu grup yang isinya istri-istri mahasiswa dan guru Indonesia yang berdomisili di Riyadh. PS banyak ngadain kegiatan rutin yang berhubungan dengan dunia wanita, semisal pelatihan crochet, beading, bikin mie ayam buat usaha, serta seminar parenting. Selain ngadain agenda rutin, biasanya PS juga bikin acara-acara yg insidental.

Nah, Jumat pekan lalu PS bikin acara dadakan untuk dua momen sekaligus. Acaranya  adalah perpisahan dengan Ummu Maryam Fitria yang insya Allah akhir Mei ini mau exit, sama kunjungan ke rumah Ummu Yahya yang baru saja ngelahirin anak ke enam beliau. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan penuh kesan.

Pekan ini mau ada dua agenda lagi. Temanya sih sama aja sama acara PS kemarin, yaitu perpisahan dengan Ummu Maryam yang mau dibikin di Markaz Tidzkar, Selasa besok, insya Allah, dan kunjungan bersama para mu’allimah ke rumah Ummu Yahya Jumat pekan ini, insya Allah. Haaahh…lagiiii? Iya, kalo yang ini khusus diadakan oleh teman-teman di madrasah saya, Markaz Tidzkar. Berhubung dua kawan di atas adalah teman madrasah kami juga, dan para Ustadzah pengen banget bikin acara khusus sama mereka, jadi dengan senang hati ya bikin lagi.

Enggak bosen apa? Memang sih, temen-temen di PS itu rata-rata juga belajar di daar tahfidz yang sama. Habisnya orang-orangnya udah pada berkurang (banyak yang udah exit, kawan), jadi ya ketemunya sama orang yang sama lagi. Kalo kata orang Betawi, “yah, lo lagi lo lagi,” hehe. Tapi kita senang-senang aja. Tugasnya juga udah dibagi-bagi kok, jadi enggak terlalu mengganggu kegiatan menghafalnya. Oh iya, saya kebagian bawa salad buah nih nanti. *Laporan* Semoga semuanya pada suka dengan hasil karya saya nanti.

flowers

Masya Allah ya dunia ummahat. Salut banget deh buat kawan-kawan yang dengan senang hati ngadain acara kayak gini di sela-sela kesibukannya merawat buah hati, ngurus rumah, dan menghafal Al Qur’an. Jazaanallaahu ahsanal jazaa’ yaa akhawaat.

Kalo kayak gini mah enggak bakalan homesick yaa… Semua riang, semua senang.

*Postingan pulang sekolah…

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 26 Jumadits Tsaniyah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

   

All About Riyadh (updated)

rajhi

Sudah hampir dua tahun di Riyadh, sepertinya saya jarang ya cerita tentang kota ini. Sejauh ini, dengan plus-minusnya- saya cinta kota ini. Adapun yang saya tulis disini, semuanya adalah hasil pengamatan selintas saya secara pribadi. Tidak bisa digeneralisasikan. Kalau ada yang tidak sesuai, monggo disampaikan di kolom komentar ya manteman. Okay?

———————————————————————————————–

* Nyetir mobil di kiri
* Harga bensin per liter lebih murah dari harga air putih. Harga air putih paling murah 1 SAR = kira-kira 2500 IDR, maka harga bensin adalah setengahnya.
* Kalau lagi  musim hujan deras atau pas raja sakit, sekolah-sekolah dliburkan sama pemerintah lewat situs resmi Pemerintah Arab Saudi.
* Di sini ada pasar Batha yang mayoritas pengunjungnya laki-laki. Kata suami, mungkin kalau dibikin perbandingan antara jumlah pengunjung perempuan dengan laki-laki adalah 1:1000. Saya sempat mati gaya juga pas ke pasar ini. Ceritanya mau ke toko emas nyari kado buat teman, ternyata salah ngambil jalan gitu. Suami markir mobilnya kejauhan dari toko emas. Terpaksa kami harus jalan kaki melewati banyak laki-laki. *Duuuuhhh…kapok deh kesini lagi kalau harus jalan kaki*  Alhamdulillah sampai di deretan toko emas ketemu beberapa pengunjung perempuan.

batha
* Di bulan-bulan tertentu banyak kantor dakwah suka ngadain lomba hafalan Al Quran, hadits, atau lomba kitab dengan hadiah ‘gila-gilaan’. Bahkan di beberapa daurah kitab sering ada kuis yang hadiahnya HP atau tablet.*Sangat menguji keikhlasan yaa…*

 * Harga servis mobil mahaaal banget. Ini kayaknya karena kaminya aja yang kere di sini. Maklum, kelas mahasiswa. Tapi enaknya disini enggak ada yang namanya pajak kendaraan.

* Walau termasuk kawasan gurun pasir, di sini ada musim dinginnya loooh. Pas puncak musim dingin suhunya bisa sampai 2 – 1 derajat celcius. Alhamdulillah enggak sampai turun salju.
* Sukaaaaa banget dengan mushola perempuan di masjid-masjid sini. Privasinya sangat terjaga. Sampai suaranya juga enggak kedengaran sampai ke tempat laki-laki. Mushola perempuannya juga dibikin dua ruangan; satu untuk yang bawa anak, satunya lagi buat yang datang enggak bawa momongan (kayak saya nih). Dindingnya dibikin kedap suara biar suara anak-anak enggak mengganggu saudari-saudari yang ada di ruang bebas anak-anak.
* Orang-orang Saudi seneng banget ngasih kurma. *hiks, sampai menggunung aja kurmanya di rumah*  Trus dikasih tahu teman, kurma itu hadiah paling baik bagi mereka dibanding uang.
*  Meski  termasuk daerah padang pasir yang gersang dan jauh dari pantai, tapi yang namanya buah-buahan dan ikan segar alhamdulillah enggak pernah kekurangan.
* Punya kawasan pasar khusus yg menjual barang-barang second hand, dari barang elektronik, garmen, sampai perabot rumah dengan harga muraaaahhh…
* Rasa susu disini saya bilang  jauuuh lebih enak dari susu di Indonesia. Dan murah pula tentunya. Eh, bukan saya aja loh yang bilang begitu. Teman-teman ummahat Indo aja kalau mudik harus bawa banyak susu dari sini buat stok selama liburan, karena anak-anaknya enggak doyan susu di Indonesia. Masa kadaluarsa susu di sini juga cepet banget.
* Harga madu yang bagus saya bilang mahaaaal. Apalagi madu Yaman. Selama ini saya mengonsumsi madu Thailand, yang cukup murah dan rasa madunya mirip madu bunga klengkeng di Indonesia.
* Harga zaitun dan minyaknya muraaaaah banget. Pengen bawa pulang aja rasanya. Mau program hidup sehat disini kayaknya enggak butuh modal banyak.
* Mobil itu seperti kebutuhan utama disini. Enaknya banyak yang jual mobil bekas dengan harga murah. Makanya biar dikata tunjangannya kecil, mahasiswa-mahasiswa di Riyadh masih bisa beli mobil.
* Banyak yang parno naik taksi disini. Saya pribadi juga milih enggak naik taksi . *Pernah hampir jadi korban soalnya*. Alhamdulillah ‘ala salamatina…
* Pengendara mobil disini terutama yang asli Saudi banyak yang suka bikin balap-balapan sembarangan di jalan umum. Sampai saya heran, kok tiap saya jalan mestiiii aja ketemu orang kecelakaan. Padahal masih dalam kota. Jadi tahu kan kenapa perempuan dilarang mengemudi disini?
* Meski masuk kategori negara membangun tapi fasiltasnya kotanya banyak yang oke. Tiap lampu merah dan di titik-titik jalan tertentu sudah dilengkapi kamera.

Update 5 Mei

* Di Riyadh ada masjid, Masjid Arrajhi (masjidnya sang hartawan Syaikh Sulaiman Arrajhi), satu-satunya masjid di Saudi yang menyediakan fasilitas air zam-zam untuk para jamaahnya setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bahkan di masjid ini sering banget dikasih uang kaget pas ada daurah-daurah tertentu.

rajhi
Masjid Arrajhi di malam hari

* Tiap pergantian musim biasanya selalu ditandai dengan badai debu (sandstorm). Makanya di rumah harus selalu sedia masker, terutama yang alergi debu. Debunya dahsyaaaat deh pokoknya.

str
Badai debunya dramatis banget sekaligus nakutin.

* Riyadh punya dua menara kebanggaan kota ini. Kingdom Tower aka Burjul Mamlakah sama Faisal Tower aka Burjul Faishaliyyah. Tapi sampe saat ini saya belum berkesempatan kesana. Kata suami kesana itu buang-buang waktu, buang-buang uang. *Hiks*

kingdom tower
Ini nih yang namanya Kingdom Tower. Mirip pembuka botol ya?

* Wanita-wanita Saudi kalau ketemu perempuan Indonesia kebanyakan disangka TKW (walau si wanita Indonya bukan TKW sekalipun). *Yanasib* Tapi mereka langsung menaruh penghargaan setinggi-tingginya jika si wanita itu bertipikal multazimah (dari segi pakaiannya, syar’i dan bercadar), ngomongnya pakai Bahasa Arab Fushah (soalnya yang kayak gini menurut mereka pasti berpendidikan), bisa baca Al Quran apalagi penghafalnya, sama paham ilmu syar’i. Bisa-bisa banyak yang langsung ngantre deh buat minta kita ngajarin para pembantunya yang WNI.

* Riyadh Zoo AKA hadiiqah hayawanaat AKA kebun binatang di Riyadh punya hari berkunjung khusus untuk perempuan loh. Jadwalnya tiap Rabu dari pagi sampe sebelum zhuhur. Tempatnya insya Allah “steril” dari laki-laki. Perempuannya bisa bebas buka cadar pas jam-jam itu. Tapi disaranin sejam sebelum beraikhir waktu kunjungan, harus sudah pakai jilbab lengkap dengan niqabnya. Soalnya petugas bersih-bersih kadang tiba-tiba udah nongol aja di situ pas selesai waktu berkunjung.

* Kalau baca isu-isu di media massa yang bilang bahwa perempuan Saudi itu terkungkung saya jadi suka ngikik-ngikik sendiri. Mungkin belum pernah ke Saudi, khususnya Riyadh kali yaa? Yang saya lihat di Riyadh, perempuan Saudi banyak banget yang berkarir dan berkiprah di bidang yang sesuai dengan dunia mereka. Saya disini sudah beberapa kali kenalan dengan wanita Saudi yang berprofesi dokter, dosen, guru, sama direktris kantor-kantor dakwah. Mahasiswi-mahasiswinya juga pada jago Bahasa Inggris. Cumaaaa, mereka memang sangat terkesan membangun ‘tembok’ tebal dengan orang asing. Kata saya, terserah merekalah ya kalau soal itu. Intinya, mereka itu tetap punya andil dalam memajukan negaranya dalam batas-batas yang ditetapkan syariat.

Segitu aja dulu kali ya postingannya. Insya Allah kalau kepikiran lagi yang lain-lainnya bakal ditulis lagi disini. Salam!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 23 Jumadits Tsaniyah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

 .

Cerita April

summer

Waktu kayaknya cepat banget berlalu.  Enggak terasa sekarang sudah di awal Mei. Kalau di Riyadh sih penghujung bulannya masih semingguan lagi karena disini berlaku kalender hijriyah. Yang berarti, masih semingguan juga saya baru bisa terima gaji. Hehe…*curcol*

Sebenarnya banyak yang pingin diceritain selama April kemarin. Tapi apa daya, keinginan menulis itu  tidak bisa tersalurkan. Ahirnya cuma bisa saya ringkas aja jadi satu disini.

summer

Program tahfidz-nya sudah mau selesai

Selesainya 3 Rajab insya Allah. *Yak, silakan mencocokkan dengan kalender masehi, hihihi* Sedih juga kalo mikir, “duh, kayaknya nggak bisa menuhin target sampai 7 juz sampe akhir semester deh.” Sudah mo selesai gini, sayanya baru mo masuk juz  lima. Memang susah banget ya yang namanya istiqomah itu. Untuk saya, masih ditambah dengan perkara murojaah hafalan yang kata saya kayak menghafal dari awal lagi. *Nangis seember deh* Habis itu curhat sama Mu’allimah, kata beliau itu mah wajar sekali bagi penghafal pemula seperti saya. Apalagi hafalannya mulai dari halaman depan. Jadi memang beda banget dengan menghafal mulai dari juz 30.

Faktor lainnya yaitu pas bad mood menghafal datang. Pokoknya berurusan sama yang satu ini bikin target-target langsung terbengkalai. Dan anehnya, biar udah jungkir-balik ngafalan, teteeeep aja nggak semangat. Ujung-ujungnya pas maju ke depan Mu’allimah cuma bisa cengengesan aja, sambil ngomong, “Maaf ya Mu’allimah, saya cuma bisa setoran satu halaman sekarang.” Tapi saya beruntuuuung…banget punya Mu’allimah yang penyabar dan murah senyum seperti Mu’allimah kami ini. And you know what? setoran satu halaman aja itu kayaknya aib banget di program yang lagi saya jalani.

Ujian tiga juz

Alhamdulillah bisa lulus juga di ujian tahap satu ini pekan lalu. Dua pekan sebelum ujian saya sudah minta izin sama Mu’allimah enggak mau setoran baru. Pengen konsen murojaah yang buat ujian tersebut. Mungkin itu juga kali ya yang bikin saya nggak bisa menyelesaikan target. Pas saya hitung-hitung, saya telah melewatkan 8 hari yang artinya bisa untuk setoran baru sekitar 16 halaman (bukan lembar loh yaa). Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Sahabat saya mau exit

Berpisah dengan sahabat itu memang menyedihkan ya. Hidup memang masih berjalan seperti biasa. Tapi seperti kehilangan warna. Setelah dipikir-pikir lagi, kepulangan sahabat saya ke Tanah Air nanti mungkin hal terbaik buat dia daripada bertahan di Saudi. Semoga Allah memudahkan urusannya dalam berdakwah, dan tetap istiqomah di jalanNya. Semoga Allah melindungi dia dan keluarganya dan mempertemukan kami kembali di tempat yang terbaik.

Bagi saya, menemukan sahabat di negeri orang adalah hal yang luar biasa. Saya tipikal yang mudah berkawan tapi susah menemukan orang yang bisa sampai ke level sahabat. Maksud saya, yang jadi sahabat itu adalah orang itu bisa ‘klik’ dengan saya, pun sebaliknya. Kami tidak sungkan untuk curhat satu sama lain. Kami sama-sama tahu cara menasihati satu sama lain sehingga tidak menimbulkan ‘percikan’ yang tidak diinginkan. Kami sama-sama mencarikan solusi untuk permasalahan bersama. Yang pasti, dia orang yang selalu memotivasi saya dalam urusan kebaikan.

Mendaftar di Program Muhaadatsah untuk Summer Class di Madrasah Daar Adh-Dhikr

Musim panas di Riyadh adalah waktu yang bertabur banyak pilihan program belajar yang seruseru. Dari program belajar tajwid, Bahasa Arab, hafalan hadits, lomba hafalan Al Quran, dsb. Salah satu yang insya Allah akan saya ikuti nanti adalah program Muhaadatsah atau percakapan yang diadakan almamater saya tercinta, Madrasah Daar Adh-dhikr. Kelasnya akan dimulai 11 Mei nanti dan berlangsung selama 6 pekan.

Tahun kemarin pengen banget ikut tapi keburu harus mudik ke Indonesia. Berhubung tahun ini enggak ada acara pulang kampung, jadi insya Allah bisa ikut program yang jadi favorit banyak siswa ini. Dapat cerita dari beberapa teman, programnya seruuuuu banget. Di kelas aktivitasnya ngomoooooong aja. Bentuknya bisa berupa presentasi tema tertentu, berkisah, sama hiwaar atau percakapan. Nggak ada PR juga. *asiiiiiikk*  Bonusnya adalah hafalan satu surat yang akan disetorkan selama 6 pekan tersebut. Tahun lalu kebagian surat Al Kahfi. Tahun ini masih belum tahu. Can’t wait to meet my classmates there.

Bakal ditinggal sendirian

Walau enggak ada acara mudik tahun ini, tapi si Akang Suami rencananya sekitar Juni nanti tetap akan ke Indonesia untuk satu urusan. Di jadwalnya sih cuma 9 hari. Bukan 9 bulan seperti waktu ditinggal beliau di Jogja 2 tahun lalu. Cumaaa, 9 bulan ditinggal di negeri sendiri kan beda sekali dengan 9 hari di tanah orang. Apalagi di Riyadh yang ketemu temen aja susah kalau enggak diantar mahram. Harus nyetok belanjaan buat 9 hari nih ceritanya.  *Masih berharap keajaiban semoga saya bisa ikut juga*

————————————————————————————————–

Selesai deh ceritanya. Alhamdulillah. Pegel juga ya ngetik cerita borongan kayak gini. Tapi senang rasanya masih dapat kesempatan nulis. Semoga bermanfaat, dan tetap saling menyemangati dalam kebaikan yaaa…

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Jumadits Tsaniyah 1434 H

Verawaty Lihawa

[Mulai] Menapaki Jalan Mereka (Part 1): Pengantar

quran

Biasanya kalau ada obrolan, “Eh, si Fulanah itu udah hafidzah loh”, Duhrasanya ghibtoh banget ya? Apalagi di Saudi ini, yang namanya hafidzaat Qur’an itu sepertinya tak berbilang jumlahnya. Bagaimana tidak? Tempat tahfidz Quran juga bertebaran di mana-mana di negeri ini. Karena itu akhirnya saya memutuskan memulai jalan saya untuk bisa seperti mereka, para huffazh (penghapal) Quran. Bismillaah…

quran

Sebenarnya sudah lama berkeinginan untuk masuk madrasah tahfidz Quran, tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya lebih mendesak belajar Bahasa Arab. Jadi selama 12 bulan pertama di Riyadh saya manfaatkan untuk lebih fokus ke Bahasa Arab. Toh, hapalan Qur’an tetap bisa dijalankan di sela-sela belajar Bahasa Arab di madrasah. Yah, meski tidak sebanyak yang diharapkan. Sekali setoran hanya 6 sampe 7 ayat. Hapalan dua juz (juz 29 dan 28) untuk jangka 12 bulan tentu terhitung sedikit. Tapi cukup wajar karena porsi dars Bahasa Arab di madrasah lebih banyak ketimbang hapalan Quran.

Menjelang masa-masa akhir Mustawa Raabi’ (level 4) di Daar Adh-Dhikr School, keinginan masuk madrasah Tahfidz itu makin kuat saja. Banyak sekali hal-hal yang membuat keinginan itu sangat menyala-nyala. Misalnya, tiba-tiba saya tak sengaja baca sms saya buat suami sekitar dua tahunan yang lalu (betah amat yaa nyimpan sms? hehe), minta didoakan di Masjidil Haram kalau pas beliau umroh, agar saya bisa jadi hafidzah Quran sebelum umur 30 tahun. Sms tersebut saya kirim pas suami sudah duluan ke Saudi tahun 2010, sementara saya masih ditinggal di Jogja. Usia saya sudah 27 tahun saat itu.

Senangnya ketika saya bisa dibawa ke Riyadh, tiap berkesempatan umroh, saya sudah bisa berdoa langsung di depan Ka’bah untuk doa yang saya inginkan, salah satu doanya ya itu tadi. Padahal umur sudah 28 tahun. Setiap ingat usia saya ini, rasanya sering tidak PD (percaya diri) saja. Eh iya, buka rahasia sedikit, di mushaf saya itu kan banyak terselip kertas-kertas target hapalan dan kata-kata motivasi gitu, lantas ada satu kertas dengan tulisan spidol merah saya temukan, isinya “Terus berjuang jadi hafidzah!” Wuaaa, makin ‘terbakar’ saja rasanya. Padahal tulisan itu dibikin pas masih tinggal di Wisma Raudhatul ‘Ilmi, Jogjakarta.

Sekitar pertengahan Januari 2013, tiba-tiba temen sekelas saya di Daar Adh-Dhikr menghubungi, katanya ada pengumuman dari Kepala Sekolah, madrasah kami mau buka lagi program tahfidz Qur’an untuk dua sampe empat tahun.  Saya pas ‘bolos’ sekolah waktu itu, jadinya ketinggalan infonya. Di lain kesempatan, sahabat saya juga mengabarkan bahwa markaz tempat dia bekerja mau buka program tahfidz dua tahun mulai awal Februari. Subhanallah!!! Saya berharap, mudah-mudahan ini jalan dikabulkannya doa saya.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk tidak lanjut ke Mustawa Khaamis (level 5) Bahasa Arab. Hati saya  sudah mantap untuk ikut program tahfidz. Pilihan saya akhirnya jatuh ke program tahfidz-nya Markaz Tidzkar Ummul Hamam. Tempat yang ditawarkan sahabat saya tadi.

Insya Allah baca lanjutannya yaaa…

Selesai disunting menjelang ashar WKSA

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 19 Jumadil Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Baru Tahu

ummu rumman

Kenal dengan shahabiyah Ummu Rumman? Yup, beliau adalah istri Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-shiddiq, sekaligus ibunda ummil mukminin, Aisyah, radhiyallahu ‘anhum jami’an. Kisahnya silakan baca disini.

ummu rumman

Saya memilih nama Ummu Rumman ini sebagai kun-yah saya. Apa sih kun-yah itu? Silakan tengok di laman ini.

Sebetulnya tidak banyak yang memanggil saya dengan nama Ummu Rumman. Kawan-kawan dan sahabat2 saya lebih banyak memanggil saya, Ella. Di keluarga Sulawesi, saya biasa dipanggil Lako. Tapi sejak masuk madrasah Daarudz Dzikr Riyadh, nama saya ma’ruf dengan Verawaty, disesuaikan dengan nama iqamah atau KTP. #Fiirowaatii sih tepatnya. Kecuali untuk teman2 Indonesia di Riyadh, nama Ella tetap berlaku.

Berbeda dengan madrasah, tetangga2 Mesir yang se-flat malah lebih senang menyapa dengan nama Ummu Rumman. Pun di sekolah baru, Markaz Tidzkaar, mu’allimah-nya ternyata memanggil para siswa dengan kun-yah masing-masing.  Maka, nama Ummu Rumman  akhirnya lekat dengan saya belakangan ini.

Mudirah di tempat saya bekerja juga memanggil saya dengan Ummu Rumman. Karena itu, saya lebih memilih nama Ummu Rumman ketika harus berkenalan dengan orang Arab.

Cerita punya cerita, selama ini saya selalu menulis Ummu Rumman dengan أم رمانEh, pas kapan gitu, mu’allimah saya di tahfidz lihat, trus terjadilah dialog antara kami.

Mu’allimah: “hal ‘arafti man hiya Ummu Rumman?”

Saya: “na’am, ‘araftuhaa yaa mu’allimah. Hiya zaujah Abi Bakr Ash-shiddiq wa ummu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum.” 

M: Shahiih. Hal kunyatuki ma’khudzatun minhaa? 

dst, dst.

Singkatnya, kata Mu’allimah, cara saya nulis Ummu Rumman itu salah, jika kunyah itu disandarkan ke shahabiyah Ummu Rumman. Yang benar,   أم رومان. Ooops, kurang huruf Waw ternyata. Syukran yaa Mu’allimah. ^^

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Jumadil Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

CINTA BAHASA ARAB

love arabic

Untuk bisa bahasa Arab, seseorang harus menumbuhkan rasa cinta di dalam dirinya. Dia harus hadirkan kecintaan kepada bahasa Arab di hatinya. Dan rasa cinta itu tidak cukup diungkapkan dalam ucapan. Tapi harus diekspresikan dalam bentuk amaliah.

love arabic

Diantara bentuk rasa cinta seseorang  kepada bahasa Arab adalah:

>>>  Punya PERHATIAN kepada bahasa Arab

Ibarat orang yang sangat mencintai kekasihnya tentu dia akan punya perhatian yang besar kepada kekasihnya itu. Untuk bahasa Arab pun mestinya begitu. Seseorang yang mengaku cinta bahasa Arab harus punya perhatian yang besar kepada bahasa Arab. Dimanapun dia berada, jika dia mendapati bahasa Arab, maka perhatiannya harus tertuju kepadanya.

Misalnya, saat dia jalan-jalan ke puncak Bogor dan dia melihat banyak tulisan bahasa Arab terpampang di pinggir-pinggir jalan (terutama di restoran Arab), dia berusaha untuk memperhatikannya. Dia coba fahami artinya. Kemudian dia hubung-hubungkan dengan kaidah-kaidah Nahwu-Shorof yang sudah dia pelajari. Kemudian, dia coba cari tahu: Apa pola katanya? Apa kedudukannya? Dll.

Kemudian juga, misalnya, saat dia melihat bungkus mie instant terdapat cara penyajian menggunakan bahasa Arab, dia juga coba memperhatikannya dengan seksama. Ini contoh gampangnya.

>>> Mau BERKORBAN untuk bahasa Arab.

Seseorang yang mengaku cinta bahasa Arab, dia juga harus mau berkorban. Dia harus tunjukkan jiwa pengorbanannya itu. Misalnya dengan berkorban harta. Dia infakkn uangnya tanpa rasa berat untuk membeli buku-buku panduan, ikutan kursus, ikutan dauroh/pelatihan bahasa Arab, dll.

Dia juga harus mau berkorban waktu. Sisihkan waktu minimal satu jam sehari untuk belajar bahasa Arab. Syukur-syukur sehari bisa lebih dari tiga jam belajar bahasa Arab.

Demikian kira-kira penjelasan singkatnya.

Jadi, jika memang Anda ingin bisa bahasa Arab, maka cintailah bahasa Arab. Kemudian, buktikan cinta Anda itu.

Wallahu a’lam.

——————————————————————————

Disalin dari http://pustakalaka.wordpress.com/2013/03/14/cinta-bahasa-arab/

Ngeteh dan Kangen

tealove

Sekarang harusnya waktu menghapal buat saya. Tapi entah knapa kpala kok rasanya sakit ya? Akhirnya bikin sgelas teh earl grey buat ngurangin sakitnya. Nggak ada korelasinya sih antara teh sma si nyut2 kpala ini. Cuma pas dri kamar mandi tadi, tiba2 timbul sugesti, kayaknya bakal enakan deh klo ngeteh. Hehehe.  Eh, alhamdulillah memang jadi agak enakan.

tealove

Lha, kok malah ngeblog?* Nggak tau nih,  prasaannya tiba2 jadi melow gini. Kangen rumah sulawesi. Kangen Mama, Papa, Kakak, Adek dan ponakan2 semua. Hiksss… Semoga Allah menjaga mereka semua. #NasibPerantau.

Ya udah deh, mo hapalan dulu. Besok ada setoran di sekolah soalnya. Ma’ssalaamah🙂
———————

*Ngeblog via hp.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Rabi’ul Akhir 1434 H.
♥ Verawaty Lihawa ♥

Perkara Kacamata

kacamata

Ceritanya ketika sedang menulis ini, saya sedang kehilangan kacamata. Sudah dicari kesana-kemari, di tempat-tempat saya biasa meletakkan kacamata, bahkan di tempat yang paling mustahil bagi kacamata untuk teronggok. Nihil. Mungkin Allah ingin memberi saya kesempatan untuk merenung.

Maka hasil permenungan itu akhirnya mendorong saya untuk menulis. Meski dengan wajah yang harus maju beberapa senti mendekati layar laptop, juga mata yang agak terpicing-picing, agar kata-kata yang saya ketik terbaca jelas.
Anda bisa bayangkan bagaimana model saya tersebut di atas? Maka bersyukurlah yang bermata normal, tidak minus atau silinder. Mau ngapa-ngapain, terutama membaca dan mengetik, tidak perlu berkacamata.

Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmush shaalihaat.

Sudah menjadi tabiat manusia, mereka baru bersyukur dengan sebuah nikmat ketika nikmat tersebut dicabut dari mereka. Termasuk saya pun begitu. Bagi saya pribadi, kasus “keselipnya” kacamata ini membuahkan beberapa kesadaran.

# Bahwa kondisi saya jauh jauh lebih baik daripada mereka yang tidak bisa melihat sama sekali. Maka saya pun wajib bersyukur dengan nikmat “hanya mengalami minus 3” ini.

# Adanya penemuan kacamata untuk yang bermasalah pengliahatan, seperti saya, termasuk sebuah nikmat yang patut disyukuri. Dengan kacamata tersebut, keindahan ciptaan Allah bisa dinikmati, aktivitas menulis dan membaca bisa terjabani.

kacamata

Maka, berapa banyak di antara kita yang berkacamata, menyadari nikmat yang satu ini?

“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 15 Rabi’uts Tsaani 1434 H
Verawaty Lihawa

Kembung Kuah Nanonano


Inilah menu ikan andalan saya belakangan ini. Bumbu seadanya, tapi rasanya saya bilang, mantaaaaap!!! Saya kasih nama Kembung Kuah Nanonano, karena rasanya manis asam asin pedes. Resepnya terinspirasi dari resep Cumi Asam Garam-nya Mba Endang justryandtaste.com. 

Bedanya, untuk ikan kembung ini saya menambahkan beberapa butir cabe rawit dan sedikit bubuk kunyit. Komentar suami, rasa kuahnya mirip banget dengan masakan Mama Balikpapan dan Acil-acilnya (Bahasa Banjarnya tante-tante) yang di sana. Bersemu deh jadinya nih pipi karena jerawat, eh dipuji. Hehe

Cobain yuk!

Bahan

4 ekor Ikan kembung yang sudah dibersihkan perutnya.

1 sdt garam (atau sesuai selera)

1 sdt gula (idem)

Air asam secukupnya (saya pakai asam mangga muda kering pemberian mertua)

Bubuk kunyit secukupnya

3 butir cabai rawit (atau sesuai selera)

Air secukupnya (hadeeeh, semua serba secukupnya, ketauan deh gk bisa nakar)

 

How-to

#1. Lumuri ikan kembung dengan bubuk kunyit. Tata ikan di panci.

#2. Masukkan garam, gula, dan air asam. Kasih cabe rawit.

#3. Tambahkan air, tutup panci, lalu didihkan sampai ikan matang dengan api sedang.

#4. Matikan api, tunggu sampai kuahnya hangat. Sajikan!

 

 

 

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Rabi’uts Tsani 1434 H

Verawaty Lihawa

 

 

Sedih – Bahagia

bipolar

Sedih rasanya hari ini nggak bisa berangkat ke Daar Adz-dzikr lagi seperti biasa. Qadarullah wa maa sya’a fa’al, mulai hari ini saya nggak ngelanjutin lagi belajar Bahasa Arab disana. Alasan utamanya, saya tak lagi  punya biaya buat sekolah. #Hehe, kasian banget yaa? Kalau dipaksa, kasihan suami harus mengeluarkan biaya sekitar 1000SR untuk uang sekolah dan sewa bis.

bipolar
Beberapa teman nanya, “kenapa nggak diantar suami aja? Kan udah punya mobil?”  Hm, rasanya nggak tega aja, membebani suami nganter jauh-jauh ke Daar, sementara beliau banyak kerjaan di kampus.
Seribu real itu juga sangat berarti buat kami, karena bulan depan harus bayar sewa kontrakan untuk setengah tahun ke depan. Kira-kira 4000 SR gitulah. Kalo dikurskan ke rupiah, sekitar 10 jutaan. Itu hanya untuk 6 bulan loh ya. #Maaf, nggak bermaksud curhat.

Alhamdulillah, nemu Markaz Tidzkar yang deket banget dari rumah. Suami juga bisa nganter, karena searah ke King Saud University.

Hari pertama di Markaz Tidzkar banyak bahagianya. Selain dekat, banyak teman-teman Indonesianya, sekolahnya gratis, pas datang disediakan sarapan gratis, istirahat juga dapat makanan gratis, yang paling utama, sembari hapalan tetap dapat pelajaran tafsir, walau nggak sebanyak di Daar Adz-dzikr.
Sayangnya, belum bisa cerita banyak soal tempat belajar yang ini. Karena kami jadi angkatan pertama disana. Maksudnya, Markaz Tidzkar baru semester ini buka halaqah tahfidz  buat ajnabiyah (orang asing) seperti kami.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 22 Rabi’ul Awwwal 1434 H
Verawaty Lihawa

Jika Semua Agama Benar


Bantahan terhadap pemikiran “Semua Agama Benar”.

1. Jika semua agama benar, untuk apa Al Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?

2. Jika semua agama benar, untuk apa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus kepada seluruh alam?

3. Jika semua agama benar, untuk apa Rasulullah memerintahkan para sahabat memerangi bangsa Romawi dan Persia?

✅ Di antara faidah kajian Ustadz Firanda Andirja -hafizhahullaah-
@Masjid An Nasa’i Balikpapan, Ahad 1 Dzulqa’dah 1436.

Balikpapan, 24 Syawwal 1437
💜أم رومان💜

Mengenang, Mencintai, dan Mendoakan Mereka Dalam Diam


Ada masa di mana Allah pernah pertemukan aku dengan mereka di taman-taman surga.
Lalu Allah jadikan kami bersahabat.
Hati-hati kami saling terpaut karena Allah dan RasulNya.
Alhamdulillaah, Allah karuniakan kami lisan-lisan untuk bisa saling menasihati karena cinta, saling menguatkan agar terus istiqamah, saling berlomba dalam kebaikan.
Hati-hati kami pun makin tertaut erat.

Sampai akhirnya datang masa perpisahan.
Satu persatu berbenah menyiapkan langkah kemana takdir Allah membawanya.

Airmata & rasa kehilangan pastilah ada.

Namun yang terbaik adalah menerima dan ridha dengan ketetapan Allah.

Mahasuci Dia yang memiliki rahasia di setiap ketetapanNya.
Bertahun-tahun setelahnya, diri ini menyadari…
Betapa indah hasil perpisahan tersebut.
Saat kini kulihat mereka menjadi da’iyyah dgn cara mereka masing-masing.
Dengan jalan yg Allah pilihkan untuk mereka.
Menjadi penebar kebaikan bagi keluarga dan manusia lainnya.
Berharap aku pun termasuk seperti mereka.

Untukku & mereka teruntai sebaris doa, semoga Allah kumpulkan kami di surga firdausNya kelak.

Uhibbuhunna fillaah.

~Verawaty Lihawa~
Balikpapan, 20 Ramadhan 1437

Merindu

Molibagu, March 7, 2013 (2)res

Tetiba merindukan masa-masa hanya pakai HP Nokia 2100.

Masa di mana lembaran-lembaran buku terasa lebih nikmat disentuh ketimbang layar smart phone.

Kala aroma khas kertas pun bisa jadi healing therapy untuk jiwa yg kadang penat.

Dan menyelami barisan-barisan kalimat di dalamnya adalah petualangan yang paling membahagiakan tiada tara.

Tetiba merindukan masa-masa hanya pakai HP Nokia 2100.

Saat kita masih bisa berbincang lepas. Berhadap-hadapan.

Tangan dan pandangan belumlah tersibukkan dengan memeriksa status dan berbagai apdetan di telepon pintar.

Kita bahagia membahas banyak hal; dari bab-bab materi Majalisu Syahri Ramadhan sampai qawa’id nahwu di lembaran Al-Muyassar.

Indahnya…

 

Balikpapan, 16061437

Ummu Rummaan