[Mulai] Menapaki Jalan Mereka (Part 2): Motivasi


Ahlan! Lama nggak nulis jadi agak bingung mulainya. Melanjutkan cerita sebelumnya, kali ini saya mau berkisah tentang alasan saya ingin jadi penghafal Al Quran. *Silakan bikin kopi susu dulu trus duduk yang manis yaa* Hehe..

winding-path

Alasan #01. Hapalan Al Quran saya masih sangat sangat kurang

Betul! Saya termasuk sangat terlambat dalam urusan menghapal Al Qur’an ini. Ketika dapat hidayah di awal 2008, dimana saat itu adalah waktu yang harusnya dimanfaatkan untuk mulai belajar Islam (termasuk ilmu tajwid), qadarullahu wa ma sya’a fa’al, saya malah ‘harus’ tersibukkan dengan kegiatan menulis skripsi. Jelas porsi skripsi lebih banyak ketimbang ngaji ketika itu, karena-cepat- lulus kuliah adalah cara terbaik (menurut kasus saya) untuk mengambil hati orang tua agar saya diizinkan menikah. Lho, kok jadi ke nikah?! Iya, dulu saya pikir menikah akan memberi saya banyak waktu luang untuk belajar dan menghapal. Alhamdulillah April 2009 saya menikah, kemudian pindah ke Balikpapan.
Aura semangat menghapal di Jogja tidak saya rasakan di Balikpapan. Makanya kegiatan menghapal itu akhirnya hanya berkisar di Juz 30 SAJA. Miris. Juni 2010 saya terserang tipus, qadarullahu wa ma sya’a fa’al. Lebih dari dua bulan harus terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang sangat lemah. Bayangan kematian banyak membayangi ketika itu. Yang bisa saya perbuat hanya istighfar, istighfar, dan istighfar. Jangankan menghapal Al Quran, membaca saja susah saya lakukan dengan kondisi seperti itu. Kadang suami juga memperdengarkan murattal dari HPnya.
Akhir 2010, dengan izin Allah, sehat menyapa saya lagi. Alhamdulillah, saya kembali ke Jogja, bertemu kawan-kawan belajar yang semangat, serta tinggal di wisma muslimah yang sangat kondusif untuk belajar. Ini mungkin faktor utama yang membuat hidup saya berwarna lagi, meski harus berjauhan dengan suami. Menghapal pun bisa kembali saya lakoni. Kali ini lebih bersemangat karena ada kawan-kawan tercinta di wisma. Masya Allah!
Dan, ternyata benar, karena saya belum tersibukkan dengan mengurus momongan sampai sekarang (alhamdulillah ‘ala kulli hal), maka waktu saya masih bisa terfokus ke menghapal. Tapi ‘fokus menghapal’ ini baru bisa berjalan ketika di Riyadh, setelah 3 tahun menikah.

Alasan #02. Meretas jalan untuk belajar ilmu-ilmu ushul

Suami saya dari dulu selalu menyarankan dan menyemangati saya untuk mulai belajar ilmu-ilmu ushul, terutama Ushul Fikih. Ini sih masih berkaitan dengan alasan ‘not-yet-a-mom’ di atas. “Mumpung Din. Nanti kalau sudah punya anak bakal sulit nyari waktu nyaman buat belajar,” kira-kira begitulah ucapan Bos saya itu.
Tapi dasar saya ya, suka ngeles aja kalau dibilangin begitu. Eh, tapi saya punya pertimbangan sendiri kenapa program belajar Ushul Fikih itu terpaksa ditunda dulu. *Ah, alasaaaan…*
Biasanya kalau disuruh mulai belajar gitu, alasan saya, “aku* hafalan Al-Quran sambil belajar Bahasa Arab dulu aja ya, Da. Biar pas nemu nash-nash Al Quran di kitab yang dipelajari nanti udah enggak ngerasa asing lagi. Para ulama aja kebanyakan namatin Al-Quran dulu baru mulai mempelajari ilmu-ilmu lainnya.” Si Pak Suami lantas cuma bisa pasrah dengan jawaban yang panjang-lebar dari istrinya ini. ^__^
Mereka yang sering mengakrabi sirah-sirah para ulama saya yakin pernah membaca atau mendengar bahwa mereka rahimahumullah sangat menaruh perhatian dalam hal menghapal Kitabullah ini. Contohnya seperti pada kutipan-kutipan di bawah ini.

Imam Syafi’i rahimahullah

Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Imam Malik rahimahullah

Beliau tumbuh ditengah-tengah ilmu pengetahuan, hidup dilingkungan keluarga yang mencintai ilmu, dikota Darul Hijrah, sumber mata air As Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang masih sangat belia, beliau telah menghapal Al Qur`an, menghapal Sunah Rasulullah, menghadiri majlis para ulama dan berguru kepada salah seorang ulama besar pada masanya yaitu Abdurrahman Bin Hurmuz.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah

Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah.

Alasan #03: Impian buka tempat tahfidz Al Quran untuk kaum perempuan

Kalau yang ini baru terpikir setelah pulang Indonesia tahun kemarin. Ceritanya pas i’tikaf di Masjid Namirah Balikpapan, Ramadhan 2012, saya kenalan dengan mereka yang terlihat bersemangat hapalan Al Qur’an dan menyimpan pertanyaan yang sama seperti saya, “Kapan ya di Balikpapan ada tempat tahfidz buat Ibu Rumah Tangga?”

Sejauh ini, tiga alasan di atas itu adalah di antara sekian banyak alasan yang memotivasi saya untuk ikut kegiatan menghafal Al Quran secara intensif di Riyadh. Saya tak perlu banyak berkicau tentang dalil dan keutamaan menghafal Al Quran disini, karena saya yakin, sebagian besar kita pasti sudah tahu tentang hal ini. Untuk pembahasan lengkap tentang keutamaan menghafal Al Quran silakan dinikmati disini.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 19 Jumadits Tsaniyah 1434 H
Verawaty Lihawa

———————————————

* Kata ‘aku’ disitu menggantikan panggilan suami ke saya. *Malu atuh saya nyebut-nyebut nama sayang di blog* *blush*

Advertisements