Cerita dari Haramain #1: Dua Sopir


Waktu: 24 Ramadhan 1434 H
Latar: Mekkah Almukarramah

Sopir #1

Sebelumnya saya mau berucap syukur dulu kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada muhsinin yang sudah berbaik hati membiayai perjalanan rombongan umroh kami dari Riyadh hari ini. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Mekkah menjelang waktu sahur tanggal 23 Ramadhan.

Jika Ramadhan tahun ini kami bisa sampai dua kali umroh (alhamdulillah), TENTUNYA itu bukan karena kami yang banyak uangnya. Tapi karena di Saudi banyak sekali muhsinin yang rela mengeluarkan hartanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah semisal ini. Dan insya Allah mereka tak mengharapkan balasan kecuali doa dari orang-orang yang sudah mereka bantu. Jazaahumullahu ahsanal jazaa’.

Meski lokasi funduq (hotel) yang lumayan jauh dari Masjid al-Haram, saya tetap senaaaang sekali. Sudah perjalanannya gratis, dapat hotel pun tak bayar, siapa yang tak bahagia? Ketika diamati, sepertinya ini hotel terjauh yang kami dapati selama berkesempatan ke sini beberapa kali. Kawasannya juga terlihat asing. Yah, bisa dimaklumi karena musim Ramadhan begini, hotel-hotel di sekitar Alharam pasti penuh dan naik juga tarifnya.

Besoknya, setelah makan malam, shalat Isya’, dan kemudian rehat, sekitar jam 24.00 WKSA,kami (saya dan suami) langsung bersiap menuju Masjid al-Haram untuk melaksanakan qiyaamul lail, dan insya Allah setelah shubuh dilanjut dengan prosesi ibadah umroh: thawaf, sa’i, tahallul.

Di lobby kami bertanya ke pegawai hotel jalan ke arah Masjid al-Haram. Sesuai ancer-ancer dari pegawai hotel tadi, kami jalan kaki ke arah Syaari’ (Jalan) ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Sampai disana kami benar-benar asing dengan jalan ini.

Di setiap kesempatan umroh, kami biasanya menjadikan ujung menara Jam Mekkah sebagai acuan arah dari hotel ke Masjid al-Haram. Jika menaranya terlihat dekat, berarti masjidnya juga dekat, sehingga kami bisa memilih jalan kaki ke masjid. Kali ini menaranya sama sekali tak terlihat dari tempat kami berdiri. “Berarti hotel kita benar-benar jauh dari masjid” kata suami.

Kami, tepatnya suami, segera memutuskan untuk mencari bis ke arah masjid. Setelah tanya sana-sini dan mendapatkan penjelasan yang tidak juga mencerahkan dari orang-orang yang kami temui, akhirnya diputuskan untuk pakai jasa taksi saja. Menit-menit terus berlalu, kami harus segera berpacu untuk menyelesaikan manasik.
Tiba-tiba sebuah mobil GMC hitam model Yukon (kalau tidak salah), berhenti di depan kami. Pengemudinya yang berwajah Arab memberi isyarat untuk naik. Di sampingnya duduk seseorang wanita yang juga bercadar seperti saya. Saya duga itu mungkin istrinya, karena di jok belakang duduk pula seorang anak perempuan kira-kira berusia 6 tahun-an,  mungkin anak mereka.

Baik si Bapak Sopir maupun suami, sama sekali tidak membuka obrolan selama perjalanan. Mobil akhirnya melewati sebuah nafaq (terowongan) panjang, yang artinya dugaan kami benar; hotel kami memang jauh dari masjid.

Si Bapak “Arab” itu akhirnya menghentikan mobilnya di salah salah satu sisi jalan yang masih agak jauh dari Masjid al-Haram. Rupanya beliau mau kea rah yang berbeda, jadi kami diturunkan disitu. Kami lantas berterima kasih kepada si Bapak, karena beliau memberi kami tumpangan gratis. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Biasanya di Mekkah memang banyak mobil-mobil pribadi beroperasi sebagai jasa taksi. Tapi yang kami tumpangi tadi benar-benar majjaanan alias gratis.

Sebelum turun suami bertanya arah jalan masuk masjid kepada si Bapak “Arab” tersebut. Reaksinya sungguh tak terduga. Beliau terlihat agak bingung. Padahal suami sepertinya sudah cukup jelas  melafalkan pertanyaannya dalam Bahasa Arab. Istrinya terlihat menjelaskan dalam bentuk gumaman.

Si Bapak malah balik bertanya, “Philippino or Indonesia?”. “Indonesia,” jawab suami. “Kalo gitu lewat jalan bawah situ aja, Pak. Tinggal jalan dikit aja udah nyampe masjid kok.” Si Bapak pun berlalu melewati sisi kiri  atas jalan. Entah kemana.
Kami melotot takjub diakhiri dengan tawa kecil yang tak tertahan.

Sopir #2

Alhamdulillah manasiknya selesai sekitar jam 9 pagi. Agak lama memang karena waktu sa’i tadi, kami sengaja tidak mau terburu-buru karena kaki agak letih setelah thawaf.
Selesai saya tahallul (suami memilih tahallul di hotel), kami mencari sudut sepi yang bisa dipakai untuk tidur sejenak.

Masih di sekitar mas’aa (tempat melaksanakan sa’i), sepasang suami-istri (dari logatnya, sepertinya dari Mesir), menitipkan kepada kami bayi mereka yang sedang terlelap di dekat situ.  Mereka mau melanjutkan kegiatan sa’i-nya. Karena tempatnya memungkinkan untuk tidur, saya akhirnya berbaring di samping si bayi. Badan capai dan rasa kantuk yang luar biasa, membuat saya cukup terlelap sambil dijaga suami yang ikut terkantuk-kantuk di dekat kepala saya.

Bangun-bangun disambut ramainya orang yang bersiap menunggu shalat Jumat. Orang tua si bayi juga sudah duduk mengobrol di dekat kaki saya. Kami akhirnya segera berlalu dari situ untuk mencari area yang nyaman buat shalat Jumat nanti. Kami berhenti di lantai dua masjid, di salah satu area bermesin pendingin. Sejuuuuukk…

Saya teringat harus wudhu lagi. Wudhu saya batal karena tertidur lelap selepas sa’i tadi. Saya minta suami menjaga tempat duduk saya agar tidak diserobot orang, karena jarak toilet-masjid yang lumayan jauh. Jamaah semakin berbondong-bondong masuk.

Singkat cerita, qaddarallaahu wa maa syaa’ fa’al, saya akhirnya harus sholat di pelataran masjid. Tempat saya sudah diambil jamaah lain.

Singkat cerita lagi, saya juga membatalkan puasa hari itu setelah mengalami dehidrasi hebat karena disengat terik matahari Mekkah. Karena Riyadh-Mekkah sudah terhitung safar, jadi saya bisa dapat keringan berbuka kan? Bayangkan sekitar 1 jam sebelum adzan, lanjut khutbah, sampai shalatnya, saya harus duduk di halaman masjid yang hanya beratapkan langit itu. Oh iya, dan sun-bathing tentunya. Selama duduk, keringat saya terus mengalir deras.

Ketika khatib naik mimbar tadi, saya teringat bahwa ini adalah salah satu momen mustajabnya doa. Maka saya pun berharap sekali hujan turun saat itu juga, saking panasnya cuaca. Beberapa kali saya lantas berucap lirih, ” Yaa Rabbi, anzil lanal mathor, anzil lanal mathor”  (Ya Allah, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami).

Sekitar sejam selepas shalat, saya masih saja “setia” mondar-mandir dari pintu masuk #84, #85, dan #86, untuk memastikan apa saya bisa segera masuk ke dalam masjid dan mendapatkan secuil kesejukan dari mesin pendingin di lantai 2. Ternyata NIHIL. Penjaga pintu meminta jamaah yang di luar masjid bersabar untuk tidak masuk dulu, demi menghindari desak-desakan di pintu masuk dengan ribuan jamaah yang mau keluar masjid. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Suami beberapa kali menelpon tapi suaranya tak kedengaran jelas. Mana pulsa saya “sekarat” tak bisa menelpon balik. Karena darurat, akhirnya saya tak malu-malu lagi pinjam handphone si Penjaga Pintu #86. Saya cerita saja kondisi saya waktu itu.

Penjaganya ternyata ramah sekali. Sangat jauh dari tampang sangar khas mereka ketika harus menertibkan jamaah yang suka ngeyel.

Alhamdulillah, akhirnya suami muncul juga dari pintu #84 tempat kami janjian.
Rencananya hari itu kami mau ketemu teman-teman rombongan umroh dari Balikpapan, sekaligus mau titip beberapa kitab untuk dibawa pulang. Tapi penampilan kami yang sudah semrawut, ditambah bau tak enak, suami juga masih berbalut kain ihram dan masih belum tahallul, jadi kami putuskan untuk balik funduq dulu untuk mandi dan ganti baju, sekalian menjemput kitab-kitab yang mau dititipkan ke Balikpapan.

Tentunya balik ke funduq kami harus naik taksi lagi. Dari pintu #84, kami harus berjalan sedikit jauh melewati Marwa untuk sampai  ke pangkalan taksi. Baru jalan beberapa langkah, langit tiba-tiba berubah menjadi sangat mendung. Di kejauhan, dari arah belakang Hotel Dar el-Tawheed, terlihat seperti badai debu. Angin pun seketika bertiup sangat kencang. Jilbab saya terasa mau terbang. Kami pun ketakutan lantas lari sekuat tenaga masuk ke masjid lagi, menunggu badai reda.

Doa saya terkabul. Gerimis perlahan-lahan jatuh, membasahi halaman Masjidil Haram.
Sebelum nanti semakin deras, kami segera memacu langkah ke tujuan semula, pangkalan taksi.

Ternyata pangkalan taksi itu tidak seperti bayangan kami. Kami pikir itu kawasan khusus tempat taksi mangkal. Ternyata yang ada hanyalah jalan besar dimana taksi banyak lalu-lalang dan berhenti mencari penumpang. Di seberang kios-kios jasa tukang cukur  yang dekat Marwa itu, kami malah menemukan pangkalan bis yang khusus beroperasi dalam kota.

Gerimis mulai berubah menjadi butiran air yang semakin deras. Kami terpaksa jalan cepat-cepat ke arah pangkalan bis. Di antara puluhan bis yang ada disitu, ternyata tak satupun bis yang melewati kawasan penginapan kami. Qaddarallahu wa maa syaa’ fa’al.

Kata sopir-sopirnya, kami harus jalan lagi beberapa meter sampai perempatan terdekat, disana kami bisa dapati bis yang ke arah funduq.

Hujan bertambah deras. Kami putuskan untuk berteduh di parkiran bis. Tepatnya di dalam salah satu bis yang ada disitu. Sebab parkiran bis ini hanya berupa lapangan luas tanpa bangunan yang bisa dijadikan tempat berteduh. Sopirnya dengan baik hati mengizinkan kami naik ke bis bersama beberapa orang lain menunggu hujan reda.

Cukup lama kami berteduh di bis itu, hingga akhirnya memutuskan untuk segera turun dan mencegat taksi yang lewat. Dan, kejutan!! Hanya karena hujan beberapa jam, tarif taksi langsung naik dua kali lipat, dari SAR 10 menjadi SAR 30. Setiap ditawar para sopir itu berlagak jual mahal. Suami tetap bersikeras tak mau naik dengan tarif begitu.

Alhamdulillah, tak lama setelahnya, ada juga taksi yang tetap pakai tarif  biasa. Kami pun segera naik dengan baju agak kuyup.

Sopirnya orang Saudi, penduduk asli Mekkah. Terlihat baik dan ramah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya bertanya tentang kami. Ketika mobil baru jalan si Sopir membuka obrolan tentang hujan yang sedang turun. “Semoga tadi malam lailatul qadar, ya Akhi. Ini hujan paling deras di Mekkah selama 3 tahun terakhir. Alhamdulillah, ini nikmat dari Allah”. Suami saya mengaminkan.

Si Bapak Sopir kemudian bertanya; “dari mana asal kalian”, “dimana kalian tinggal?”, “berapa lama kalian tinggal di Saudi?”, “bagaimana keadaan Riyadh? Kamu suka tinggal disana?”. “apa pekerjaanmu?”, dlsb.

Begitu tahu suami seorang mahasiswa, tanpa basi-basi beliau tanya berapa mukafa’ah (uang bulanan) yang diterima dari jami’ah (kampus). Suami pun menjawabnya apa adanya, lalu menambahkan, “Sebenarnya kami ke Saudi tujuan utamanya mau belajar ilmu syar’i. Jadi kegiatan saya di Riyadh, pagi ke kampus, sorenya ikut dars masyaikh di masjid. Alhamdulillah di Riyadh istri saya juga bisa belajar Bahasa Arab di madrasah khusus ajnabiyyaat (perempuan non Arab) dan ikut halaqah hapalan Al-Quran.”

Obrolan terus mengalir, sampai tak terasa kami sudah mendekati funduq. Suami memberi isyarat untuk berhenti. Dari bangku belakang saya menyodorkan kepada suami selembar SAR10 untuk diberikan ke Bapak Sopirnya sebagai ongkos taksi.

Tak disangka Bapak Sopir itu tak mau menerima uang tersebut. Suami bahkan sampai memaksa, Beliau tetap tak mau juga. Beliau malah mendoakan kami, dan berucap, ” Yaa Akhi, saya tahu kalian orang baik-baik. Tolong, saya hanya ingin doa dari kalian saja untuk saya.”
“Jangan begitu. Kami jadi tidak enak. Dari masjid kesini kan lumayan jauh, jadi terimalah uang ini,” balas suami.
” Tidak Akhi. Saya hanya ingin doa kalian saja.”
“Jazakallaah khayraa. Tolong doakan kami berdua juga.”
“Hayyakallaah…” Mobil si Bapak itu pun melaju di antara genangan air yang memenuhi Syaari’ ‘Umar Bin Khattab.

Di antara langkah-langkah kaki menuju funduq, lamat-lamat saya merapal doa kepada Sang Pemelihara Negeri yang aman ini, semoga Ia melimpahkan segala kebaikan untuk dua sopir baik hati yang yang kami temui hari ini.

Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahi kami dengan berbagai nikmat.

ramadan in makkah

Diselesaikan menjelang dinihari,
Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 14 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Advertisements

7 thoughts on “Cerita dari Haramain #1: Dua Sopir

  1. wah…ngeri banget kalo di indonesia…mesti adaptasi lagi berarti ela sama fafa kalo ke indonesia..hehe..takut lupa soalnya.
    Ana mo sholat aja mesti gantian sama suami. Jagain anak-anak..tau sendiri anak-anak kan sukanya seliweran gak jelas. Ngeriii kalo terus dibawa orang..na’udzu billah min dzalik.

    Like

  2. Ngomong2x tentang nitipin bayi…seperti ketika safar begini terkadang suami dan ana turun semua ke KM…jadilah itu si bocil cuma ana gelarin aja karpet dan bantal kecilnya, terus ana taruh di lantai luar kamar mandi (kalau bersih) atau teras luar kamar mandi (kalau lantai KM nya kotor) Alhamdulillaah aman-aman saja (yahh mungkin karena sepi juga sih yahh…

    Like

    1. Alhamdulillah di Saudi kayaknya masih aman ya, Dek Fa. Trus enaknya, kamar mandi rijal-nisaa’ tuh dipisah sejauh-jauhnya (lebay). Jadi masih enaklah ngawasinnya.
      Ana kok jadi ngebayangin si bocil Yazid ditaro di luar KM sih? Hihihi.

      Like

    1. Karena baca komen Mba Ciz yg ini, tiba-tiba nyadar “eh iya, kenapa kok ibu itu kepedean kali nitipin bayinya ke kami ya? Padahal juga ana pake cadar.”
      Banyak penculikan bayi ya Mba di Indo? Ana jarang baca berita2 Indo di sini.

      wa fiiki baarakallaah ^^

      Like

  3. Masya Allah.. Masih ada ya orang yang tulus seperti itu. Semoga Allah memberkahi dan memudahkan urusan kedua sopir tsb. Nice sharing mbak.. Jadi tambah mupeng ke Saudi :))

    Like

Comments are closed.