Husnul Khatimah: Buah Bakti Kepada Ibu


Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Setiap jiwa akan merasakan mati. Setiap ajal telah tertulis. Dan perpindahan kita dari dunia ini menuju negeri akhirat adalah sesuatu yang pasti.

Betapa banyak berita kematian yang telah sering kita dengar? Si Fulan mati, si Fulanah mati, tetangga dekat kita mati, teman kita mati. Saya, dan juga Anda, pasti akan mati. Suatu saat, kita yang di sini juga akan menjadi berita di antara sekian banyak berita kematian.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 27).

Aku pernah menyampaikan khutbah Jumat di salah satu masjid. Ketika khutbah selesai, aku pun turun dan memulai rakaat pertama. Lalu bangkit dan memulai rakaat kedua. Ketika sampai pada surat al-Fatihah, yaitu pada firman Allah ‘Azza wa Jalla, iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in (hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan),”  tiba-tiba jatuhlah seorang laki-laki di tengah masjid tersebut.

Aku pun menyempurnakan shalat, lalu salam. Setelah salam aku langsung mengambil mikrofon. Saat itu posisi laki-laki tersebut berada cukup jauh dari tempatku. Dia tergeletak di tengah masjid. Sementara masjid itu besar.

Melalui mikrofon tersebut, kukatakan pada para jamaah yang sedang ramai memadati laki-laki yang jatuh tadi,  “tolong menjauh darinya, biarkan dia. Beri dia udara, beri dia udara. Biarkan udara masuk, wahai saudara-saudaraku.” Aku terus saja berkata begini dan begitu.

Segera kuajak beberapa jamaah untuk membawa lelaki tersebut ke klinik terdekat. Petugas klinik pun langsung membawanya ke Unit Gawat Darurat (UGD).

Selepas memeriksa si lelaki tersebut, dokter di klinik itu berkata, “sesungguhnya lelaki ini telah wafat  ketika jatuh di masjid tadi.”

Dia meninggal di hari Jumat, wahai saudaraku. Sementara dia masih dalam kondisi berwudhu. Dalam keadaan mandi. Juga meninggal dalam keadaan berdiri di antara dua tangan Allah.

Aku meminta nomor salah satu kerabat si mayit, dari salah seorang ikhwan (yang ada di masjid).

Lelaki yang meninggal itu bernama Muhammad (semoga Allah merahmatinya, menerima amalan-amalannya, dan memperberat timbangan kebaikannya).

Aku lalu menghubungi nomor saudaranya, Khalid, dan berbicara kepadanya, “Wahai Khalid, dengan nama Allah, aku meminta kepadamu. Lelaki ini sudah jauh-jauh datang ke masjid ini untuk shalat Jumat bersamaku. Jadi aku mohon, tak ada yang boleh memandikannya kecuali aku.” Maka, aku pun bersungguh-sungguh memandikan jenazah tersebut.”

Setelah memandikannya, langsung kupanggil Khalid ke sampingku. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Khalid, dengan nama Allah aku bertanya padamu. Amalan apakah yang paling sering dia lakukan sampai dia meninggal dalam keadaan yang baik seperti ini?”

Jawab Khalid, “Wahai Syaikh, kami memiliki beberapa saudara laki-laki dan saudari perempuan. Akan tetapi, si Muhammad inilah yang paling berbakti kepada orang tua kami, terutama kepada Ibu kami.”

Dialah yang paling banyak menjenguk Ibu dan nyaris tak pernah meninggalkannya. Dia pula yang selalu mengmastikan setiap barang-barang keperluan Ibu, dan semua hal yang Beliau butuhkan. Mulai dari sampo, sabun, minyak wangi, bakhur (dupa khas Arab), qahwah (kopi Arab). Semuanya diperiksa dan tak ada yang terluput. Dia amat berbakti kepada ibu. Sehingga Ibu kami pun paling banyak mendoakan kebaikan untuknya.”

Maka kukatakan pada Khalid, “mungkin sebab inilah yang memperberat timbangan kebaikannya”.

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu-Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan“ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

* Diterjemahkan dengan perubahan bahasa seperlunya, dari kisah yang dibawakan Syaikh Qasim Bin Muhammad al-Fadha’il , pada potongan video muhadharah Beliau  hafizhahullaah.

edit4

Ummul Hamam, Riyadh, KSA 1 Dzulhijjah 1434 H (menjelang tidur)

Verawaty Lihawa

Advertisements