Menjadi Muslim “Mubaarakan ayna maa kaana” (Kisah #1)


Dalam Surah Maryam ayat 31, termaktub di sana ucapan Isa ‘alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ .

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”

Dalam Tafsir Jalalain, maksud potongan ayat ini adalah, Dia menjadikan diriku orang yang banyak memberi manfaat kepada manusia. Ungkapan ini merupakan berita tentang kedudukan yang telah dipastikan baginya (Isa ‘alaihissalam).

Syaikh Muhammad al-Khudhariy, Dosen Ilmu Tafsir di King Saud University, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, belum lama ini menyampaikan muhaadharah, yang intinya adalah, bagaimana menjadi seorang muslim yang penuh berkah (baca memberi manfaat kepada manusia) di mana saja dia berada. 

Syaikh lalu bertutur, “Aku memiliki seorang murid, bernama Aiman. Aiman ini berprofesi sebagai dokter di King Khalid University Hospital, Riyadh. Dia menamatkan pendidikan spesialisnya di Kanada. Suatu kali, Aiman bercerita kepadaku tentang dua rekan kerjanya di Kanada.”

Mari kita simak kisah Aiman.

Di Kanada, aku mengenal dua dokter muslim yang akhirnya menjadi rekan dekatku di rumah sakit (mungkin maksudnya tempat Aiman co-as, pen.). Satu hari, aku mengundang keduanya untuk datang ke rumah. Di sela-sela obrolan, aku tiba-tiba tertarik untuk bertanya kisah keislaman mereka berdua.

Dokter pertama pun memulai ceritanya.

Ketika aku lewat di sebuah jalan, kulihat seorang laki-laki negro, badannya tinggi besar, sedang membagi-bagikan beberapa buku kepada setiap pengunjung yang melewatinya. “Bacalah!”, begitu kira-kira pesannya kepada setiap orang yang mendapatkan buku tersebut.

Perasaan tak suka menyelinap dalam hatiku. Aneh saja melihat orang seperti itu membagi-bagikan sebuah buku tebal kepada setiap orang yang lewat. Apalagi kemudian kuketahui bahwa buku itu adalah Al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba buku tersebut sampai juga di tanganku saat itu. Yang pasti, aku sama sekali tak berminat membacanya. Ketika melewati tong sampah, kumasukkan buku tersebut ke dalamnya, lalu segera berlalu dari situ.

Setibanya di rumah, aku pun menyalakan TV. Dan tebak, ternyata laki-laki negro tinggi besar itu, wajahnya muncul di kotak ajaib tersebut. Sepertinya stasiun TV sedang meliput aktivitasnya. Pikiranku sontak melayang ke buku tebal yang tadi kubuang ke tong sampah. Hatiku berkata, “Ah, kan dia hanya menyuruh membaca. Apa salahnya kalau cuma membaca. Toh dia tidak meminta apa-apa.” Kemudian, aku pun bertekad untuk mendapatkan buku itu kembali.
Sekarang aku sudah capek dan mengantuk. Aku pikir, besok pagi saja aku kembali ke tong sampah tadi. Ya, harus pagi-pagi, sebelum truk pengangkut sampah mendahuluiku.

Esok subuhnya, aku bergegas kembali ke tong tersebut. Aku berharap truk sampah belum mengangkutnya. Namun harapanku sia-sia. Aku menemukan tong itu sudah kosong.

“Hmm, mungkin besok aku harus ke sini lagi dan meminta mushaf Al-Qur’an seperti yang kemarin diberikannya,” bisikku dalam hati.

Sayang, ternyata aku tak menemukan lelaki tersebut keesokan harinya. Tiga hari berikutnya, sepekan, sampai berlalu sebulan, aku terus mencarinya di sekitar jalan tersebut, namun tetap tak mendapatinya.

Hingga tiga bulan berikutnya, Allah akhirnya mempertemukanku dengannya. Aku melihatnya di jalan tempat dia tiga bulan lalu membagikan mushaf Al-Qur’an. Lantas aku mendekatinya dan menyapanya. “Tiga bulan lalu kau pernah memberiku sebuah buku. Aku telah menghilangkan buku itu. Bolehkan aku mendapatkannya lagi?” Tentu saja aku tidak bilang bahwa buku itu sudah kubuang ke tong sampah.

“Boleh. Tapi aku tak membawanya sekarang. Hari ini tugasku membagikan selebaran-selebaran ini,” katanya. “Tapi aku benar-benar ingin buku itu lagi,” jawabku.

“Kalau kau mau, ikutlah ke rumahku. Aku akan memberikannya kepadamu. Tapi kau harus tunggu hingga selebaran ini habis,” balasnya.

Kusambut ajakannya dengan sukacita. Tiga bulan mencarinya, rasanya sayang kalau harus kehilangan kesempatan ini lagi. Aku pun menunggunya hingga selesai dari kegiatannya. Kemudian kami menuju rumahnya dan dia pun memberikan sebuah mushaf sebagai hadiah untukku. Bahagianya diriku sewaktu menerimanya. Perjuangan akhirnya berbuah hasil.

Sesampainya di rumah, aku pun membacanya. Kadang aku sampai lupa makan karena asik berkutat dengannya. Hanya butuh sepekan buku itu (terjemahannya, pen.) selesai kubaca. Dadaku sesak. Sesak oleh keimanan yang terasa memenuhi seluruh rongga jiwaku. Aku pun segera mencari nomor telepon Islamic Center terdekat untuk membantuku masuk Islam. Mereka pun mengundangku datang, dan akhirnya aku pun masuk Islam. Allahu akbar!

Dokter pertama mengakhiri ceritanya.

Dokter kedua kemudian berkata, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya?” 

“Ya,” kata dokter pertama,

“”Aku juga masuk Islam dengan jalan si Abdul Majid itu,” timpal Dokter kedua.

Dua dokter ini hanyalah dua di antara sekian banyak orang yang masuk Islam setelah mendapatkan kitab-kitab dari Abdul Majid. Intinya, dengan izin Allah, Abdul Majid telah berhasil mengislamkan banyak orang melalui usahanya.

Kisah Aiman selesai. Kita kembali ke cerita Syaikh al-Khudhariy.

Sekitar tahun 2005, aku berangkat ke tanah Suci untuk membimbing jamaah haji. Tak jauh dari tenda tempatku bertugas, terlihat seorang lelaki negro sedang berdebat dengan petugas untuk bisa masuk ke dalam tenda. Si Petugas tampak kehabisan akal, karena lelaki tersebut sepertinya tak bisa berbahasa Arab. Aku pun berlalu ke tenda. Pemandangan seperti tadi lumrah terjadi ketika haji.

Ketika tiba waktu untuk menuju Muzdalifah, kami masuk ke dalam bus. Karena bus berjalan lambat akibat macet, penat rasanya terlalu lama duduk di dalamnya. Maka kami pun keluar untuk istirahat sejenak. Kami duduk di padang terbuka sambil membuat halaqoh. Aku menyampaikan ceramah di depan jamaah. Waktu itu jamaahnya tidak terlalu banyak. Kami duduk melingkar. Agak terkejut aku mendapati lelaki negro yang kulihat siang tadi kini duduk di hadapanku, bersiap mendengarkan ceramah. Rupanya dia berhasil menembus kawasan tenda. Kala kutanya, ternyata dia jamaah dari Kanada yang kehilangan rombongannya. Mendengar kata Kanada dan perawakannya, aku teringat cerita Aiman. Aku pun menceritakannya di depan mereka.

Di akhir cerita, kala kukutip perkataan dokter kedua, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya? Aku juga masuk Islam melalui dia”, di sudut mataku, kulihat si lelaki negro itu tertunduk menangis. Aku meminta salah satu jamaah yang mengerti bahasa Inggris untuk bertanya siapa namanya. Dia pun menjawab, “Nama saya Abdul Majid.”

Masya Allah, tokoh sentral cerita Aiman ada di hadapanku. Dengan perasaan riang kutanyai dia yang saat itu masih terisak-isak, “Wahai Abdul Majid, apakah kau tahu di luar sana banyak sekali orang yang masuk Islam dengan sebab mushaf dan buku-buku yang engkau bagikan?”

“Aku tidak tahu, Syaikh. Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menangis.

Bersambung insya Allah.

edit5

* Berdasarkan cerita Muflih Safitra (Mahasiswa S2 KSU) yang hadir dalam muhaadharah Syaikh al-Khudhariy di hadapan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, Riyadh.

Mungkin Abdul Majid ini adalah muslim yang mubaarak. Dia memberikan manfaat kepada orang lain melalui hal kecil yang dia lakukan. Dia tidak tahu bahwa saat ini, di tempat ini, kita membicarakan kebaikan-kebaikannya. 

Advertisements