Menyuruh-Melarang-Marah


Mengenai tiga hal ini, selama tahap persiapan sekolah, saya sering melakukan “riset” kecil bagaimana reaksinya jika dilakukan pada anak-anak usia dini. Obyek “risetnya” tentu saja anak-anak teman pengajar.

Contoh kasus menyuruh

ASY (6 th) baru saja menyelesaikan sarapannya. Pagi itu kami makan nasi kuning berjamaah di kantor. IS (salah satu pegawai sekolah), saya, dan ASY beranjak sama-sama ke kran untuk cuci tangan. Akhirnya terjadilah percakapan kurang lebih seperti ini.

IS: Kok cepat-cepat cuci tangannya, sayang? Ayo pakai sabun! Tangannya masih bau ikan lho.

ASY: Enggak mau, ah.

IS: Nanti bau lho tangannya..

ASY: Enggak apa-apa.

Saya (langsung menimpal): Eh, anak shalihah mau tahu bagaimana caranya biar tangan kita wangi?

ASY: Mauu. Gimana?

Saya (sambil cuci tangan): Ini lho, kayak ‘ammah. Tangannya dicuci pakai sabun. Hmmm, wangiii.

ASY pun langsung mencuci lagi tangannya dengan sabun. IS dan saya saling lirik tersenyum.

 

 

De Castarica JE3-2, Balikpapan, 23 Sya’ban 1435 H

Verawaty Lihawa 

Menyuruh-Melarang-Marah