#ArabicDiary: Shalih


 

Dalam Bahasa Arab, kata “shaalih” (صالح) memiliki beberapa makna. Di antaranya:

#1. “Shaalih” bermakna “munaasib” (مناسب). Artinya, cocok atau sesuai.

Contoh kalimat: هذا البيت صالح للسكن

– Hadza’l baitu shaalihun lis sakn

– “Rumah ini cocok untuk ditinggali.”

#2. “Shaalih” bermakna “jayyid” dan “naafi'” antonimnya “Faasid” (جيد و نافع عكس فاسد). Artinya, bagus, berguna, dan kebalikan dari kata “rusak”.

Contoh kalimat: مازال هذا الطعام صالحا في الثلاجة بعد أسبوع

 – Maa zaala hadza’th tha’aamu shaalihan fi’ts tsalaajah ba’da usbuu’.

– “Makanan ini masih segar setelah 1 minggu di kulkas”

#3. “Shaalih” bermakna “mustaqiim” (مستقيم). “Mustaqiim” di sini maksudnya, senantiasa mengerjakan perkara yang diperintahkan (يؤدي ما أمر به)

Contoh kalimat: كان أبو سعيد رجلا صالحا 

– Kaana Abuu Sa’iidin rajulan shaalihan

– “Abu Sa’id adalah lelaki yang shalih.”

***

Nah, ada yang mau coba bikin kalimat dengan kata “shaalih” berdasarkan makna-makna yang sudah dijelaskan di atas? Atau mau bagi-bagi faidah? Ditunggu di kolom komentar ya.

Semoga bermanfaat dan jangan segan untuk mengoreksi jika salah. Baarakallaahu fiikum.

*Faidah kitab Bahasa Arab Mustawaa Raabi’, terbitan Madrasah Daarudz Dzikr, Riyadh.

** Gambar ditaut dari sini.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Muharram 1435 H.

Verawaty Lihawa

#ArabicDiary: Shalih

Dia yang Akhirnya Memikatku


Saya termasuk orang yang senang belajar bahasa. Dahulu, keinginan saya adalah bisa menguasai banyak bahasa; bahasa daerah maupun mancanegara.

Senang rasanya bisa mengenal beberapa bahasa, walaupun ekspektasi saya di atas tak tercapai.

Bagi setiap individu, termasuk saya tentunya, proses belajar bahasa itu dimulai dari lingkungan keluarga dekat. Bahasa pertama saya sudah pasti bahasa kedua orang tua saya, Bahasa Gorontalo. Keluarga besar saya memang berdarah Gorontalo asli.

Bahasa kedua yang saya kenal adalah Bahasa Bolango. Bahasa ini digunakan masyarakat Molibagu, suatu ibukota kabupaten yang terletak di selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Waktu itu, Papa saya kebetulan dimutasi ke Molibagu, Ibukota Kecamatan Bolaang Uki. Maka mulailah kami sekeluarga mengakrabi Bahasa Bolango tersebut. Saya mulai bersinggungan dengan bahasa ini sejak duduk di bangku kelas 3 SD  sampai kelas 2 SMP

Berhubung teman-teman sepermainan saya di Molibagu berbicara dengan Bahasa Bolango (tepatnya Melayu-Bolango), mau-tidak mau, saya pun latah bertutur dengan bahasa tersebut. Namanya juga masih bocah, kemampuan menyerap bahasa bisa dibilang masih cemerlang. Alhamdulillah tak ada kesulitan dalam beradaptasi dengan bahasa ini. Hanya saja imbasnya, saya perlahan meninggalkan kebiasaan bertutur dengan Bahasa Melayu-Gorontalo.

Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang riang. Pic was taken by Vicky Kembara. Foto-foto lainnya bisa dilihat di http://www.panoramio.com/user/1462290?comment_page=2&photo_page=1
Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang penuh keriangan.
Gambar milik Vicky Kembara

Saya mengakrabi lagi Bahasa Melayu-Gorontalo ketika pindah SMP ke Kotamadya Gorontalo. Sampai tamat SMA, saya tetap setia dengan bahasa ini. Mulai saat itu pula, saya membiasakan lisan bertutur dengan Bahasa Gorontalo asli, ketika mengobrol dengan orang tua.

Perlu diketahui, Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo itu beda ya. Kalau Melayu-Gorontalo, mudah sekali ditangkap artinya oleh orang-orang yang tidak berbahasa Melayu-Gorntalo. Adapun Bahasa Gorontalo, atau “bahasa planet” kata teman-teman kos saya di Jogja, tidak semua orang bisa paham. Kebanyakan hanya orang-orang tua saja yang masih setia menggunakan bahasa ini. Yang muda-muda, sayangnya, hanya sampai level Melayu-Gorontalo, meski mereka juga paham Bahasa Gorontalo. 

Kalau mau tahu perbedaan pengunaan Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo, ini dia contohnya.

* Saya somo pigi ka Jakarta (Melayu-Gorontalo)

 Artinya: Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

* Watiya ma mona’o de Jakarta  (Gorontalo) ———————> CMIIW

Artinya:  Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

Beda jauh kaaan?

Bahasa selanjutnya (baca bahasa asing pertama) yang saya pelajari adalah Bahasa Inggris.  Bahasa ini baru saya pelajari di bangku awal SMP. Saya lumayan tergila-gila waktu itu dengan Bahasa Inggris. Sampai beberapa curhatan saya di diary, saya tulis dengan Bahasa Inggris. Makin kecanduan lagi gara-gara keseringan nonton sala satu saluran TV luar negeri.

Selang kemudian, akhirnya saya sadari, bahwa kanal yang sering saya tonton dulu itu, enggak pantas banget untuk anak SMP (bahkan untuk semua usia, kalau mau pakai prinsip saya sekarang). Sayangnya, waktu tahap “kecanduan” Bahasa Inggris itu, Papa saya tidak sanggup membiayai kursus Bahasa Inggris. Waktu itu tahun 1998, pas banget krisis moneter, kan ya? Lagian, mana bisalah mau kursus, orang di kecamatan saya juga tak ada satupun lembaga kursus Bahasa Inggris. *dijitak massa* Ada sih, les-les gitu, tapi yang ikut mayoritas anak SMA (kawan-kawan kakak saya). Saya kan maluuuuuu, kakak! Pengajarnya juga guru Bahasa Inggris kakak saya di SMA-nya dia.

Sampai sekarang saya tak pernah mencicipi yang namanya les Bahasa Inggris ala lembaga kursus gitu. Kasian amat yak? Eh, tapi pas kuliah, sempatlah satu semester ikut mata kuliah Bahasa Inggris. Makanya, kemampuan Bahasa Inggris saya sampai sekarang, ya segitu-gitu aja. Sampai di level kindergarten ajalah pokoknya.

Tahun 2002, saya berlayar ke Jogja. Kota impian saya sejak di bangku akhir SMA. Kota yang memenuhi lembar-lembar diary saya ketika masih berseragam putih-abu-abu. “Aku haru harus kuliah di sana, pokoknya” begitu salah satu potongan isi buku harian saya. Alhamdulillah, ternyata saya betulan juga terdampar di kota penuh kenangan dan saya cinta itu. *lirik mamas “teman serumah”*

Di Jogja inilah, petualangan saya beradapatasi dengan Bahasa Jawa dimulai. Bahasa yang benar-benar asing buat saya. Proses belajarnya, saya bilang, benar-benar dicekoki paksa. Bayangin aja, di kampus, teman-teman saya yang orang Jawa anti banget berbahasa Indonesia. Saya pikir, mereka itu susah, apa males ya, ngomong berbahasa Indonesia. Tiap ativitas diskusi tugas kelompok, teman-teman Javanese ini, mestiiiii selalu berbahasa Jawa. Saya awal-awal sempat stres dengan masalah bahasa Jawa ini.

Lama-lama, karena punya konco dekat sekos asli Ngawi, yang logat Jawanya medok pake banget, saya jadi banyak paham Bahasa Jawa. Tentunya Bahasa Jawa khas Jawa Timur yang aksennya beda jauh dengan Jogja. Tahu kan, Bahasa Jawa a la Jogja yang halus itu? Akhirnya makin ketagihan berbahasa Jawa pas ikut salah satu UKM di kampus. Soalnya 99% penduduk UKM itu berbahasa Jawa. Tapi Bahasa Jawa saya juga masih yang cetek gitulah. Paling enggak, masih bisa dipakai untuk ngobrol dengan teman-teman Jogja yang ketemu di Riyadh. Jawa Kromo? Jauuuuuhh… 

Di bangku kuliah, saya sempat juga “mencicipi” beberapa program bahasa yang rutin per semester diadakan tetangga fakultas saya (Fakultas Ilmu Budaya), semisal kelas Bahasa Spanyol, Italia, dan Prancis. Sekarang, jangan tanya deh, kemampuan saya di tiga bahasa ini. M.I.N.U.S. (tuh, sampe di-bold dan underlined, lho). Namanya juga mencicipi. Khusus Bahasa Spanyol, sebenarnya sempat juga diseriusin. Soalnya, dulu cita-citanya pengen ke Spanyol. Alhamdulillah enggak kesampaian, malah diganti ke negeri yang lebih baik. *Sujud syukur*

Suatu siang, pas mau cari makan bareng sahabat tercinta, kami lihat mas-mas bercelana cingkrang (istilah celana di atas mata kaki), baru aja nempelin poster info kursus Bahasa Arab di papan informasi, dekat warung makan favorit. Mendekatlah kami ke poster itu.

“Ikut yuk Mba kursus Bahasa Arab yang ini. Asik loh, Bahasa Arab itu.” ajak si Sahabat.

“Enggak ah. Kamu aja yang ikut sana. Kan kamu udah pernah belajar, jadi udah bisa. Aku mau kursus yang lain aja dulu,” jawab saya dodol.

Padahal apa hubungannya coba? Harusnya kan kebalik ya? Saya mestinya yang paling berhak ikut tuh, karena pengetahuan Bahasa Arab saya NOL. Tapi tetap aja, saya belum terpikat sama sekali. Bingung juga, sih, waktu itu. Yang terlintas di kepala,  “Duh, Bahasa Arab ini nanti kepakai di kerjaan apa ya?”.  Maaak…sempitnya pikiran saya.

Lalu, apa kabarnya kelas macam-macam bahasa yang saya cicipi di tetangga fakultas setelah itu? Berhubung, mulai semester berapa gitu, kelas bahasanya sudah berbayar, akhirnya, saya dadah2 bye-bye deh, sama pelajaran-pelajaran itu. Ah, modal gratisan memang saya ini.

Tahun 2008, tahun di mana saya memulai hidup baru yang lebih bermakna (baca masa awal mengenal manhaj as–Salaf as-Shaalih), adalah masa pertama saya belajar Bahasa Arab. Ya, bahasa yang saya tolak mentah-mentah waktu diajak Sahabat untuk mempelajarinya. Bedanya, kali ini saya yang bersemangat. asli tak ada paksaan.

Saya harus mulai belajar sesuatu yang bermanfaat untuk akhirat saya, sebagai bayaran atas waktu yang terbuang percuma di tahun-tahun kemarin. Bahasa Arab bahasa Al-Qur’an, yess? Sudah pasti berhubungan dengan perkara akhirat.

Pagi-pagi, habis salat subuh, dengan perasaan gembira yang tak terlukiskan, saya dan sahabat saya menyusuri Jalan kaliurang KM.5,6 menuju Pogung Kidul, lokasi belajar Bahasa Arab kami ketika itu.

Kitab yang kami pakai judulnya “Al-Muyassar Fii ‘Ilmin Nahwi”. Dari judulnya sudah tahu dong, kalo kitab ini membahas ilmu nahwu. Daaaan…muka saya yang tadinya cerah ceria, mendadak jadi “bingung-face” dengan kening yang harus sering berkerut-kerut, saking tak pahamnya.

Materinya rasanya beraaaaaat bagi saya. Bersyukur Ibu Guru (semoga Allah menjaganya) sabar sekali, mau mengulang-ulang penjelasan. Kejutannya, di antara 4 atau 5 orang yang ikut pelajaran pagi itu, saya aja satu-satunya yang sekali pun belum pernah belajar Bahasa Arab. Kawan-kawan saya ini lulusan pesantren, gituh. Mungkin mereka sempat juga melirik-lirik jengkel ke saya, karena banyak bab yang saya minta untuk diterangkan berkali-kali. Sementara mereka sudah pengen cepat-cepat ganti bab.

Tapi asli, biar dikata judulnya Al-Muyassar (yang dimudahkan), saya merasa materinya itu susah sekali untuk level sangat pemula semacam saya. Qadarullah, belajarnya enggak tamat karena ustadzahnya sibuk ngurus-ngurus pernikahannya. Jazaahallaahu khairaa.

Singkat cerita, dari saat pertama belajar Bahasa Arab itu, proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini. Sejak mengetahui keutamaan dan urgensi Bahasa Arab, saya berusaha memaksa diri, untuk tidak patah semangat mempelajarinya. Yah, walau diakui rasa bosan itu tetap banyak melanda.

Alhamdulillah, rasanya ada sedikit peningkatan dalam bahasa Arab, jika dibandingkan dengan diri saya yang dulu. Walau belum bisa dibilang mahir, hebat, pakar, jago, dan sejenisnya, paling tidak (bifadhlillah), ada perubahan.

Apalagi setelah diberi nikmat bisa hidup di negara yang bahasa tuturnya adalah Bahasa Arab. Di sini, kegiatan belajar Bahasa Arab itu tersaji di mana-mana. Dari TV, radio, kajian di masjid-masjid, toko-toko, pun di sekolah-sekolah. Mata dan telinga kita jadi terbiasa dengan kalimat-kalimat Bahasa Arab.

Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab. Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan  nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).
Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab.
Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).

Kesimpulannya, di antara sedikit bahasa yang pernah bersinggungan dengan hidup saya, Bahasa Arab inilah yang bisa dibilang CANDU. Candunya hanya bisa dirasakan orang-orang yang juga jatuh cinta dengan bahasa ini. Enggak percaya? Coba deh, kenalan mulai sekarang!

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Q.S. Yusuf: 2)

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 20 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Dia yang Akhirnya Memikatku

Cerita April


Waktu kayaknya cepat banget berlalu.  Enggak terasa sekarang sudah di awal Mei. Kalau di Riyadh sih penghujung bulannya masih semingguan lagi karena disini berlaku kalender hijriyah. Yang berarti, masih semingguan juga saya baru bisa terima gaji. Hehe…*curcol*

Sebenarnya banyak yang pingin diceritain selama April kemarin. Tapi apa daya, keinginan menulis itu  tidak bisa tersalurkan. Ahirnya cuma bisa saya ringkas aja jadi satu disini.

summer

Program tahfidz-nya sudah mau selesai

Selesainya 3 Rajab insya Allah. *Yak, silakan mencocokkan dengan kalender masehi, hihihi* Sedih juga kalo mikir, “duh, kayaknya nggak bisa menuhin target sampai 7 juz sampe akhir semester deh.” Sudah mo selesai gini, sayanya baru mo masuk juz  lima. Memang susah banget ya yang namanya istiqomah itu. Untuk saya, masih ditambah dengan perkara murojaah hafalan yang kata saya kayak menghafal dari awal lagi. *Nangis seember deh* Habis itu curhat sama Mu’allimah, kata beliau itu mah wajar sekali bagi penghafal pemula seperti saya. Apalagi hafalannya mulai dari halaman depan. Jadi memang beda banget dengan menghafal mulai dari juz 30.

Faktor lainnya yaitu pas bad mood menghafal datang. Pokoknya berurusan sama yang satu ini bikin target-target langsung terbengkalai. Dan anehnya, biar udah jungkir-balik ngafalan, teteeeep aja nggak semangat. Ujung-ujungnya pas maju ke depan Mu’allimah cuma bisa cengengesan aja, sambil ngomong, “Maaf ya Mu’allimah, saya cuma bisa setoran satu halaman sekarang.” Tapi saya beruntuuuung…banget punya Mu’allimah yang penyabar dan murah senyum seperti Mu’allimah kami ini. And you know what? setoran satu halaman aja itu kayaknya aib banget di program yang lagi saya jalani.

Ujian tiga juz

Alhamdulillah bisa lulus juga di ujian tahap satu ini pekan lalu. Dua pekan sebelum ujian saya sudah minta izin sama Mu’allimah enggak mau setoran baru. Pengen konsen murojaah yang buat ujian tersebut. Mungkin itu juga kali ya yang bikin saya nggak bisa menyelesaikan target. Pas saya hitung-hitung, saya telah melewatkan 8 hari yang artinya bisa untuk setoran baru sekitar 16 halaman (bukan lembar loh yaa). Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Sahabat saya mau exit

Berpisah dengan sahabat itu memang menyedihkan ya. Hidup memang masih berjalan seperti biasa. Tapi seperti kehilangan warna. Setelah dipikir-pikir lagi, kepulangan sahabat saya ke Tanah Air nanti mungkin hal terbaik buat dia daripada bertahan di Saudi. Semoga Allah memudahkan urusannya dalam berdakwah, dan tetap istiqomah di jalanNya. Semoga Allah melindungi dia dan keluarganya dan mempertemukan kami kembali di tempat yang terbaik.

Bagi saya, menemukan sahabat di negeri orang adalah hal yang luar biasa. Saya tipikal yang mudah berkawan tapi susah menemukan orang yang bisa sampai ke level sahabat. Maksud saya, yang jadi sahabat itu adalah orang itu bisa ‘klik’ dengan saya, pun sebaliknya. Kami tidak sungkan untuk curhat satu sama lain. Kami sama-sama tahu cara menasihati satu sama lain sehingga tidak menimbulkan ‘percikan’ yang tidak diinginkan. Kami sama-sama mencarikan solusi untuk permasalahan bersama. Yang pasti, dia orang yang selalu memotivasi saya dalam urusan kebaikan.

Mendaftar di Program Muhaadatsah untuk Summer Class di Madrasah Daar Adh-Dhikr

Musim panas di Riyadh adalah waktu yang bertabur banyak pilihan program belajar yang seruseru. Dari program belajar tajwid, Bahasa Arab, hafalan hadits, lomba hafalan Al Quran, dsb. Salah satu yang insya Allah akan saya ikuti nanti adalah program Muhaadatsah atau percakapan yang diadakan almamater saya tercinta, Madrasah Daar Adh-dhikr. Kelasnya akan dimulai 11 Mei nanti dan berlangsung selama 6 pekan.

Tahun kemarin pengen banget ikut tapi keburu harus mudik ke Indonesia. Berhubung tahun ini enggak ada acara pulang kampung, jadi insya Allah bisa ikut program yang jadi favorit banyak siswa ini. Dapat cerita dari beberapa teman, programnya seruuuuu banget. Di kelas aktivitasnya ngomoooooong aja. Bentuknya bisa berupa presentasi tema tertentu, berkisah, sama hiwaar atau percakapan. Nggak ada PR juga. *asiiiiiikk*  Bonusnya adalah hafalan satu surat yang akan disetorkan selama 6 pekan tersebut. Tahun lalu kebagian surat Al Kahfi. Tahun ini masih belum tahu. Can’t wait to meet my classmates there.

Bakal ditinggal sendirian

Walau enggak ada acara mudik tahun ini, tapi si Akang Suami rencananya sekitar Juni nanti tetap akan ke Indonesia untuk satu urusan. Di jadwalnya sih cuma 9 hari. Bukan 9 bulan seperti waktu ditinggal beliau di Jogja 2 tahun lalu. Cumaaa, 9 bulan ditinggal di negeri sendiri kan beda sekali dengan 9 hari di tanah orang. Apalagi di Riyadh yang ketemu temen aja susah kalau enggak diantar mahram. Harus nyetok belanjaan buat 9 hari nih ceritanya.  *Masih berharap keajaiban semoga saya bisa ikut juga*

————————————————————————————————–

Selesai deh ceritanya. Alhamdulillah. Pegel juga ya ngetik cerita borongan kayak gini. Tapi senang rasanya masih dapat kesempatan nulis. Semoga bermanfaat, dan tetap saling menyemangati dalam kebaikan yaaa…

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Jumadits Tsaniyah 1434 H

Verawaty Lihawa

Cerita April

CINTA BAHASA ARAB


Untuk bisa bahasa Arab, seseorang harus menumbuhkan rasa cinta di dalam dirinya. Dia harus hadirkan kecintaan kepada bahasa Arab di hatinya. Dan rasa cinta itu tidak cukup diungkapkan dalam ucapan. Tapi harus diekspresikan dalam bentuk amaliah.

love arabic

Diantara bentuk rasa cinta seseorang  kepada bahasa Arab adalah:

>>>  Punya PERHATIAN kepada bahasa Arab

Ibarat orang yang sangat mencintai kekasihnya tentu dia akan punya perhatian yang besar kepada kekasihnya itu. Untuk bahasa Arab pun mestinya begitu. Seseorang yang mengaku cinta bahasa Arab harus punya perhatian yang besar kepada bahasa Arab. Dimanapun dia berada, jika dia mendapati bahasa Arab, maka perhatiannya harus tertuju kepadanya.

Misalnya, saat dia jalan-jalan ke puncak Bogor dan dia melihat banyak tulisan bahasa Arab terpampang di pinggir-pinggir jalan (terutama di restoran Arab), dia berusaha untuk memperhatikannya. Dia coba fahami artinya. Kemudian dia hubung-hubungkan dengan kaidah-kaidah Nahwu-Shorof yang sudah dia pelajari. Kemudian, dia coba cari tahu: Apa pola katanya? Apa kedudukannya? Dll.

Kemudian juga, misalnya, saat dia melihat bungkus mie instant terdapat cara penyajian menggunakan bahasa Arab, dia juga coba memperhatikannya dengan seksama. Ini contoh gampangnya.

>>> Mau BERKORBAN untuk bahasa Arab.

Seseorang yang mengaku cinta bahasa Arab, dia juga harus mau berkorban. Dia harus tunjukkan jiwa pengorbanannya itu. Misalnya dengan berkorban harta. Dia infakkn uangnya tanpa rasa berat untuk membeli buku-buku panduan, ikutan kursus, ikutan dauroh/pelatihan bahasa Arab, dll.

Dia juga harus mau berkorban waktu. Sisihkan waktu minimal satu jam sehari untuk belajar bahasa Arab. Syukur-syukur sehari bisa lebih dari tiga jam belajar bahasa Arab.

Demikian kira-kira penjelasan singkatnya.

Jadi, jika memang Anda ingin bisa bahasa Arab, maka cintailah bahasa Arab. Kemudian, buktikan cinta Anda itu.

Wallahu a’lam.

——————————————————————————

Disalin dari http://pustakalaka.wordpress.com/2013/03/14/cinta-bahasa-arab/

CINTA BAHASA ARAB

Dilema


Lebih dari dua bulan ini, Suami saya sedang semangat-semangatnya mengerjakan tesis. He’s on fire. Mungkin karena teman-teman Indonesia beliau banyak yang sudah lulus. Sebagai istri, harusnya saya tidak kalah semangat juga untuk memberikan dorongan, agar beliau segera menyelesaikan tugas akhirnya tersebut.

dilema

Realitanya, saya dilema. Di satu sisi masih ingin tinggal lebih lama di Saudi. Kalau suami cepat lulus, itu alamat harus segera exit dari negeri padang pasir ini. Sementara saya masih harus banyak mengisi ‘kantong amunisi’ ilmu disini, untuk bekal pulang ke tanah air tercinta.

Bahasa Arab dan halaqah Qur’an-nya itu yang beraaaat…ditinggalkan. Dimana lagi bisa dengar percakapan dengan bahasa Rasulullah kalau bukan di madrasah tercinta, Daar Adz-dzikr. Saya tulis madrasah, karena cuma di tempat ini, saya menyaksikan bahasa Arab fushah menjadi bahasa sehari-hari antara guru-murid. Untuk durus masyaikh di masjid-masjid, wajarlah ya pakai fushah.

Adapun halaqah tahfidz Qur’an tersebar di seantero kota. Masya Allah! Kadang sampai bingung mau daftar di daar yang mana. Bahkan banyak yang berfasilitas penitipan anak, biar yang punya bayi pun bisa ikut kegiatan menghapal Qur’an. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Kembali lagi ke dilema saya tadi. Di sisi lain, karena kami bersaudara perempuan semua, saya merasa bertanggung jawab untuk berdakwah di keluarga, demi mewujudkan ayat-Nya.

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” QS. Asy-Syu’ara : 214)

Bukan hanya ortu, paman-bibi, sepupu-sepupu saya juga banyak yang masih belum berhijab syar’i. Sedih juga memikirkan Mama saya yang bahkan belum lancar mengaji. Semoga Allah menjaga Mama-Papa saya, menerangi hidup keduanya dengan cahaya hidayah-Nya, dan mengampuni dosa-dosa keduanya. Amin.

Perasaan dilema ini akhirnya membuat saya hanya mampu berucap (sebelum nantinya shalat istikharah), “semoga Allah senantiasa memudahkanku dan dirimu dalam urusan kebaikan, wahai Suamiku. Biarkan Allah memilihkan urusan yang terbaik menurut kehendakNya untuk kita.”  

Just let it flow!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 12 Rabi’ul Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Dilema

Berbahagialah Pelajar Gorontalo


Nemu berita yang bikin saya senang bukan kepalang. Semoga Allah membalas usaha Pemerintah Kota Gorontalo dan memberi hidayahNya kepada mereka.

love arabic

Simak beritanya.

——————————————————————————————————————

Bahasa Arab Masuk Kurikulum Pendidikan di Gorontalo

Kamis,15 Desember 2011, 12:49 WIB 

REPUBLIKA.CO.ID, GORONTALO – Pelajaran Bahasa Arab dimasukan dalam kurikulum pendidikan sekolah-sekolah di Kota Gorontalo pada tahun 2012.

Wali Kota Gorontalo, Adhan Dhambea, Kamis mengatakan, pelajaran Bahasa Arab akan menjadikan pelajaran wajib bagi pelajar beragama Islam mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. “Kurikulum ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Gorontalo untuk memberantas buta huruf hijaiyah atau aksara arab agar semua pelajar beragama Islam dapat baca tulis aksara Alquran,” ucapnya.

Dikatakan, seseorang yang menguaai Bahasa Arab dengan sendirinya dapat membaca Alquran dengan fasih dan lancar.

Sebaliknya, orang yang fasih membaca Alquran belum tentu menguasai bahasa arab, sehingga cukup kesulitan memahami isi kandungan kitab suci umat Islam itu.

Dia menambahkan, dimasukkannya kurikulum pelajaran bahasa Arab ini, merupakan tindak lanjut dari program wajib baca dan tulis AlQuran yang dicanangkan pemerntah Kota Gorontalo.
Pada tahun 2013 mendatang, dirinya berharap tidak ada lagi pelajar di Kota Gorontalo yang masih buta huruf Arab. “Membaca Alquran merupakan pintu masuk seorang Muslim memahami ajaran agamanya,” kata dia.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

——————————————————————————————-

Selesai kutipan.

Berita di atas bukan sekadar isapan jempol. Saya mendengar langsung ceritanya dari kakak saya, pas mudik tahun 2012 kemarin. Kakak saya saat ini ngajar di salah satu SD Negeri di Kota Gorontalo. Kakak yang tadinya ngajar Bahasa Indonesia juga didaulat jadi pengajar Bahasa Arab sementara untuk kelas IV SD (kalo nggak salah ingat).

Soalnya pas saya di Balikpapan, si kakak ini hampir tiap hari nelpon saya, tanya-tanya tentang Bahasa Arab. Masya Allah! Rupanya Bahasa Arab jadi kurikulum sekolah di sana.

Kabarnya, guru-gurunya pun punya program setoran hapalan Quran.

Saluut!!!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 28 Shaffar 1434 H.

Verawaty Lihawa

Berbahagialah Pelajar Gorontalo

Bis Sekolahku: Tips Perjalanan Agar Tidak Membosankan


Alhamdulillah tepat jam tujuh pagi tadi aku dijemput bis sekolah. Suamiku mengantarku sampai depan pintu. Hihi, lucu, kayak orang tua melepaskan anaknya pergi sekolah. Suamiku biasanya baru berangkat ke  jami’ah (kampus) sekitar pukul 7.30 waktu Riyadh. Seperti perjalanan kemarin siang, bis kami harus keliling ke berbagai tempat untuk menjemput beberapa siswi Daar Adh-Dhikr. Dan, surprised! Pagi ini aku sebis dengan Hawwa, teman sekelasku dari Nigeria. Aku tambah senang lagi karena ternyata rumah kami sangat berdekatan. Mungkin hanya sekitar 10 menit dengan jalan kaki. Terus terang aku senang sekali berkawan dengannya. Meski aslinya berbahasa Inggris, Hawwa termasuk yang paling sering berbahasa Arab denganku. Kami senang berdiskusi beberapa hal dalam Bahasa Arab untuk melatih kemampuan bahasa kami. Di kelas Mustawa Tsalits (level tiga), kemampuan berbicara mulai diarahkan di level ini. Jadi, aku bertekad untuk sesedikit mungkin menggunakan Bahasa Inggris dengan mereka yang berbahasa tersebut.

-Riyadh city-

Cuaca Kota Riyadh pagi tadi cukup cerah. Matahari di penghujung musim dingin terasa sangat bersahabat. Jalan-jalan sudah terlihat ramai dengan kendaraan.Perjalanan kali ini ternyata melewati rute yang berbeda. Bis kami melewati jalan-jalan utama Kota Riyadh, termasuk area Burjul Mamlakah (Kingdom Tower) dan Burjul Faishaliyyah (Faisal Tower). Karena perjalanannya cukup lama, aku memanfaatkannya untuk membaca sekaligus muraja’ah pelajaran Bahasa Arab. Yah, hari ini aku ujian mingguan (ikhtibar usbuu’) Bahasa Arab. Kami sampai di sekolah sekitar pukul 7.50, itu berarti 10 menit lagi pelajaran pertama dimulai. Ujiannya pun ternyata berlangsung di jam pertama.

Oh iya, jika anda termasuk pengguna bis sekolah seperti saya, ada beberapa aktivitas yang bisa anda lakukan agar tidak bosan selama perjalanan. Berikut ini beberapa di antaranya.

  1. Mendengar rekaman murattal Al-Quran dari Ipod, MP3 atau HP anda.
  2. Menghapal atau  mengulang hapalan Al-Quran seperti cara nomor 1/
  3. Membaca buku-buku ringan yang bermanfaat
  4. Mendengar rekaman kajian Islam yang bersifat ringan, semacam kajian tazkiyatun nafs.
  5. Mengulang pelajaran yang akan dibahas hari itu
  6. Berdiskusi dengan teman sebis tentang topik-topik yang menarik dan bermanfaat.
  7. Jika kebetulan di bis anda sebangku dengan salah satu pengajar di sekolah anda, maka jangan ragu untuk bertanya tentang pelajaran yang belum anda pahami.
  8. Berdzikir kepada Allah subahanahu wa ta’ala

Menjelang istirahat aku pergi menemui Jamilah, Pegawai Administrasi Daar. Dia memintaku untuk menemuinya saat itu untuk menyelesaikan urusan sewa-menyewa bis. Rupanya dia masih sibuk, hingga akhirnya kami putuskan untuk dibicarakan lagi ketika selesai jam pelajaran. Kami bertemu lagi di bis dalam perjalanan pulang. Dia memberitahu bahwa sewa bisku hanya 500 Riyal sampai akhir term, karena sebulan sebelumnya aku masih numpang mobil tetangga yang juga orang Indonesia. Oh iya, biasanya untuk full-term dikenakan biaya 600 Riyal. Harga ini khusus untuk tujuan Ummul Hamam Algharbi (jarak rumah sangat menentukan biaya sewa bisnya).

Aku tiba di rumah sebelum waktu zhuhur, alhamdulillah. Semoga perjalanan berikutnya selalu membawa hikmah, insya Allah.

——————————————————————————————————————————————————————

Riyadh, 7 Rabi’uts Tsani 1433 H

Gallery