Indahnya Persaudaraan di Jalan Allah


card edit

Tiba-tiba saya menemukan kartu ini. kartu yang saya terima hampir sebulan yang lalu. Kartu yang manis dari kawan-kawan sekelas saya di Madrasah Daarudz Dzikr. Baris-baris katanya membuat saya tak mampu menahan air mata ketika membacanya.

card1 edit

Untuk Saudari kami, Verawaty.

Kami memohon kepada Allah, agar Dia memberkahimu senantiasa.

Melimpahkan untukmu kebaikan di dunia dan akhirat.

Aamiin…

Insya Allah kita akan berkumpul di jannah, di bawah naungan Allah.

Aamiin…

Fii aamaanillaah,

#Saudari-saudarimu dari kelas Mustawaa Raabi’#

——————————————

Pagi itu memang hari terakhir saya ke Daar. Dan kawan-kawan saya ini ternyata telah menyiapkan haflah mufaaja’ah (surprise party) untuk perpisahan saya. Ah, terharunya.

Hampir semua mu’allimaat hadir di kelas. Mereka, satu per satu, mendoakan saya. Mengalungkan nasihat dan wasiat indah ke hati saya.

Dua tahun kami bersama di sekolah tercinta. Dari berbagai penjuru negeri, Allah kirim mereka untuk menghiasi lembaran hidup saya selama di Negeri Dua Tanah Suci.

أحبكن في الله يا أخواتي

أستودعكن الله الذي لا تضيع ودائعه

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 12 Shaffar 1435 H

Verawaty Lihawa

Indahnya Persaudaraan di Jalan Allah

#ArabicDiary: Shalih


 

Dalam Bahasa Arab, kata “shaalih” (صالح) memiliki beberapa makna. Di antaranya:

#1. “Shaalih” bermakna “munaasib” (مناسب). Artinya, cocok atau sesuai.

Contoh kalimat: هذا البيت صالح للسكن

– Hadza’l baitu shaalihun lis sakn

– “Rumah ini cocok untuk ditinggali.”

#2. “Shaalih” bermakna “jayyid” dan “naafi'” antonimnya “Faasid” (جيد و نافع عكس فاسد). Artinya, bagus, berguna, dan kebalikan dari kata “rusak”.

Contoh kalimat: مازال هذا الطعام صالحا في الثلاجة بعد أسبوع

 – Maa zaala hadza’th tha’aamu shaalihan fi’ts tsalaajah ba’da usbuu’.

– “Makanan ini masih segar setelah 1 minggu di kulkas”

#3. “Shaalih” bermakna “mustaqiim” (مستقيم). “Mustaqiim” di sini maksudnya, senantiasa mengerjakan perkara yang diperintahkan (يؤدي ما أمر به)

Contoh kalimat: كان أبو سعيد رجلا صالحا 

– Kaana Abuu Sa’iidin rajulan shaalihan

– “Abu Sa’id adalah lelaki yang shalih.”

***

Nah, ada yang mau coba bikin kalimat dengan kata “shaalih” berdasarkan makna-makna yang sudah dijelaskan di atas? Atau mau bagi-bagi faidah? Ditunggu di kolom komentar ya.

Semoga bermanfaat dan jangan segan untuk mengoreksi jika salah. Baarakallaahu fiikum.

*Faidah kitab Bahasa Arab Mustawaa Raabi’, terbitan Madrasah Daarudz Dzikr, Riyadh.

** Gambar ditaut dari sini.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Muharram 1435 H.

Verawaty Lihawa

#ArabicDiary: Shalih

Cerita April


Waktu kayaknya cepat banget berlalu.  Enggak terasa sekarang sudah di awal Mei. Kalau di Riyadh sih penghujung bulannya masih semingguan lagi karena disini berlaku kalender hijriyah. Yang berarti, masih semingguan juga saya baru bisa terima gaji. Hehe…*curcol*

Sebenarnya banyak yang pingin diceritain selama April kemarin. Tapi apa daya, keinginan menulis itu  tidak bisa tersalurkan. Ahirnya cuma bisa saya ringkas aja jadi satu disini.

summer

Program tahfidz-nya sudah mau selesai

Selesainya 3 Rajab insya Allah. *Yak, silakan mencocokkan dengan kalender masehi, hihihi* Sedih juga kalo mikir, “duh, kayaknya nggak bisa menuhin target sampai 7 juz sampe akhir semester deh.” Sudah mo selesai gini, sayanya baru mo masuk juz  lima. Memang susah banget ya yang namanya istiqomah itu. Untuk saya, masih ditambah dengan perkara murojaah hafalan yang kata saya kayak menghafal dari awal lagi. *Nangis seember deh* Habis itu curhat sama Mu’allimah, kata beliau itu mah wajar sekali bagi penghafal pemula seperti saya. Apalagi hafalannya mulai dari halaman depan. Jadi memang beda banget dengan menghafal mulai dari juz 30.

Faktor lainnya yaitu pas bad mood menghafal datang. Pokoknya berurusan sama yang satu ini bikin target-target langsung terbengkalai. Dan anehnya, biar udah jungkir-balik ngafalan, teteeeep aja nggak semangat. Ujung-ujungnya pas maju ke depan Mu’allimah cuma bisa cengengesan aja, sambil ngomong, “Maaf ya Mu’allimah, saya cuma bisa setoran satu halaman sekarang.” Tapi saya beruntuuuung…banget punya Mu’allimah yang penyabar dan murah senyum seperti Mu’allimah kami ini. And you know what? setoran satu halaman aja itu kayaknya aib banget di program yang lagi saya jalani.

Ujian tiga juz

Alhamdulillah bisa lulus juga di ujian tahap satu ini pekan lalu. Dua pekan sebelum ujian saya sudah minta izin sama Mu’allimah enggak mau setoran baru. Pengen konsen murojaah yang buat ujian tersebut. Mungkin itu juga kali ya yang bikin saya nggak bisa menyelesaikan target. Pas saya hitung-hitung, saya telah melewatkan 8 hari yang artinya bisa untuk setoran baru sekitar 16 halaman (bukan lembar loh yaa). Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Sahabat saya mau exit

Berpisah dengan sahabat itu memang menyedihkan ya. Hidup memang masih berjalan seperti biasa. Tapi seperti kehilangan warna. Setelah dipikir-pikir lagi, kepulangan sahabat saya ke Tanah Air nanti mungkin hal terbaik buat dia daripada bertahan di Saudi. Semoga Allah memudahkan urusannya dalam berdakwah, dan tetap istiqomah di jalanNya. Semoga Allah melindungi dia dan keluarganya dan mempertemukan kami kembali di tempat yang terbaik.

Bagi saya, menemukan sahabat di negeri orang adalah hal yang luar biasa. Saya tipikal yang mudah berkawan tapi susah menemukan orang yang bisa sampai ke level sahabat. Maksud saya, yang jadi sahabat itu adalah orang itu bisa ‘klik’ dengan saya, pun sebaliknya. Kami tidak sungkan untuk curhat satu sama lain. Kami sama-sama tahu cara menasihati satu sama lain sehingga tidak menimbulkan ‘percikan’ yang tidak diinginkan. Kami sama-sama mencarikan solusi untuk permasalahan bersama. Yang pasti, dia orang yang selalu memotivasi saya dalam urusan kebaikan.

Mendaftar di Program Muhaadatsah untuk Summer Class di Madrasah Daar Adh-Dhikr

Musim panas di Riyadh adalah waktu yang bertabur banyak pilihan program belajar yang seruseru. Dari program belajar tajwid, Bahasa Arab, hafalan hadits, lomba hafalan Al Quran, dsb. Salah satu yang insya Allah akan saya ikuti nanti adalah program Muhaadatsah atau percakapan yang diadakan almamater saya tercinta, Madrasah Daar Adh-dhikr. Kelasnya akan dimulai 11 Mei nanti dan berlangsung selama 6 pekan.

Tahun kemarin pengen banget ikut tapi keburu harus mudik ke Indonesia. Berhubung tahun ini enggak ada acara pulang kampung, jadi insya Allah bisa ikut program yang jadi favorit banyak siswa ini. Dapat cerita dari beberapa teman, programnya seruuuuu banget. Di kelas aktivitasnya ngomoooooong aja. Bentuknya bisa berupa presentasi tema tertentu, berkisah, sama hiwaar atau percakapan. Nggak ada PR juga. *asiiiiiikk*  Bonusnya adalah hafalan satu surat yang akan disetorkan selama 6 pekan tersebut. Tahun lalu kebagian surat Al Kahfi. Tahun ini masih belum tahu. Can’t wait to meet my classmates there.

Bakal ditinggal sendirian

Walau enggak ada acara mudik tahun ini, tapi si Akang Suami rencananya sekitar Juni nanti tetap akan ke Indonesia untuk satu urusan. Di jadwalnya sih cuma 9 hari. Bukan 9 bulan seperti waktu ditinggal beliau di Jogja 2 tahun lalu. Cumaaa, 9 bulan ditinggal di negeri sendiri kan beda sekali dengan 9 hari di tanah orang. Apalagi di Riyadh yang ketemu temen aja susah kalau enggak diantar mahram. Harus nyetok belanjaan buat 9 hari nih ceritanya.  *Masih berharap keajaiban semoga saya bisa ikut juga*

————————————————————————————————–

Selesai deh ceritanya. Alhamdulillah. Pegel juga ya ngetik cerita borongan kayak gini. Tapi senang rasanya masih dapat kesempatan nulis. Semoga bermanfaat, dan tetap saling menyemangati dalam kebaikan yaaa…

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Jumadits Tsaniyah 1434 H

Verawaty Lihawa

Cerita April

[Mulai] Menapaki Jalan Mereka (Part 1): Pengantar


Biasanya kalau ada obrolan, “Eh, si Fulanah itu udah hafidzah loh”, Duhrasanya ghibtoh banget ya? Apalagi di Saudi ini, yang namanya hafidzaat Qur’an itu sepertinya tak berbilang jumlahnya. Bagaimana tidak? Tempat tahfidz Quran juga bertebaran di mana-mana di negeri ini. Karena itu akhirnya saya memutuskan memulai jalan saya untuk bisa seperti mereka, para huffazh (penghapal) Quran. Bismillaah…

quran

Sebenarnya sudah lama berkeinginan untuk masuk madrasah tahfidz Quran, tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya lebih mendesak belajar Bahasa Arab. Jadi selama 12 bulan pertama di Riyadh saya manfaatkan untuk lebih fokus ke Bahasa Arab. Toh, hapalan Qur’an tetap bisa dijalankan di sela-sela belajar Bahasa Arab di madrasah. Yah, meski tidak sebanyak yang diharapkan. Sekali setoran hanya 6 sampe 7 ayat. Hapalan dua juz (juz 29 dan 28) untuk jangka 12 bulan tentu terhitung sedikit. Tapi cukup wajar karena porsi dars Bahasa Arab di madrasah lebih banyak ketimbang hapalan Quran.

Menjelang masa-masa akhir Mustawa Raabi’ (level 4) di Daar Adh-Dhikr School, keinginan masuk madrasah Tahfidz itu makin kuat saja. Banyak sekali hal-hal yang membuat keinginan itu sangat menyala-nyala. Misalnya, tiba-tiba saya tak sengaja baca sms saya buat suami sekitar dua tahunan yang lalu (betah amat yaa nyimpan sms? hehe), minta didoakan di Masjidil Haram kalau pas beliau umroh, agar saya bisa jadi hafidzah Quran sebelum umur 30 tahun. Sms tersebut saya kirim pas suami sudah duluan ke Saudi tahun 2010, sementara saya masih ditinggal di Jogja. Usia saya sudah 27 tahun saat itu.

Senangnya ketika saya bisa dibawa ke Riyadh, tiap berkesempatan umroh, saya sudah bisa berdoa langsung di depan Ka’bah untuk doa yang saya inginkan, salah satu doanya ya itu tadi. Padahal umur sudah 28 tahun. Setiap ingat usia saya ini, rasanya sering tidak PD (percaya diri) saja. Eh iya, buka rahasia sedikit, di mushaf saya itu kan banyak terselip kertas-kertas target hapalan dan kata-kata motivasi gitu, lantas ada satu kertas dengan tulisan spidol merah saya temukan, isinya “Terus berjuang jadi hafidzah!” Wuaaa, makin ‘terbakar’ saja rasanya. Padahal tulisan itu dibikin pas masih tinggal di Wisma Raudhatul ‘Ilmi, Jogjakarta.

Sekitar pertengahan Januari 2013, tiba-tiba temen sekelas saya di Daar Adh-Dhikr menghubungi, katanya ada pengumuman dari Kepala Sekolah, madrasah kami mau buka lagi program tahfidz Qur’an untuk dua sampe empat tahun.  Saya pas ‘bolos’ sekolah waktu itu, jadinya ketinggalan infonya. Di lain kesempatan, sahabat saya juga mengabarkan bahwa markaz tempat dia bekerja mau buka program tahfidz dua tahun mulai awal Februari. Subhanallah!!! Saya berharap, mudah-mudahan ini jalan dikabulkannya doa saya.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk tidak lanjut ke Mustawa Khaamis (level 5) Bahasa Arab. Hati saya  sudah mantap untuk ikut program tahfidz. Pilihan saya akhirnya jatuh ke program tahfidz-nya Markaz Tidzkar Ummul Hamam. Tempat yang ditawarkan sahabat saya tadi.

Insya Allah baca lanjutannya yaaa…

Selesai disunting menjelang ashar WKSA

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 19 Jumadil Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

[Mulai] Menapaki Jalan Mereka (Part 1): Pengantar

Baru Tahu


Kenal dengan shahabiyah Ummu Rumman? Yup, beliau adalah istri Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-shiddiq, sekaligus ibunda ummil mukminin, Aisyah, radhiyallahu ‘anhum jami’an. Kisahnya silakan baca disini.

ummu rumman

Saya memilih nama Ummu Rumman ini sebagai kun-yah saya. Apa sih kun-yah itu? Silakan tengok di laman ini.

Sebetulnya tidak banyak yang memanggil saya dengan nama Ummu Rumman. Kawan-kawan dan sahabat2 saya lebih banyak memanggil saya, Ella. Di keluarga Sulawesi, saya biasa dipanggil Lako. Tapi sejak masuk madrasah Daarudz Dzikr Riyadh, nama saya ma’ruf dengan Verawaty, disesuaikan dengan nama iqamah atau KTP. #Fiirowaatii sih tepatnya. Kecuali untuk teman2 Indonesia di Riyadh, nama Ella tetap berlaku.

Berbeda dengan madrasah, tetangga2 Mesir yang se-flat malah lebih senang menyapa dengan nama Ummu Rumman. Pun di sekolah baru, Markaz Tidzkaar, mu’allimah-nya ternyata memanggil para siswa dengan kun-yah masing-masing.  Maka, nama Ummu Rumman  akhirnya lekat dengan saya belakangan ini.

Mudirah di tempat saya bekerja juga memanggil saya dengan Ummu Rumman. Karena itu, saya lebih memilih nama Ummu Rumman ketika harus berkenalan dengan orang Arab.

Cerita punya cerita, selama ini saya selalu menulis Ummu Rumman dengan أم رمانEh, pas kapan gitu, mu’allimah saya di tahfidz lihat, trus terjadilah dialog antara kami.

Mu’allimah: “hal ‘arafti man hiya Ummu Rumman?”

Saya: “na’am, ‘araftuhaa yaa mu’allimah. Hiya zaujah Abi Bakr Ash-shiddiq wa ummu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum.” 

M: Shahiih. Hal kunyatuki ma’khudzatun minhaa? 

dst, dst.

Singkatnya, kata Mu’allimah, cara saya nulis Ummu Rumman itu salah, jika kunyah itu disandarkan ke shahabiyah Ummu Rumman. Yang benar,   أم رومان. Ooops, kurang huruf Waw ternyata. Syukran yaa Mu’allimah. ^^

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 3 Jumadil Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Baru Tahu

Sedih – Bahagia


Sedih rasanya hari ini nggak bisa berangkat ke Daar Adz-dzikr lagi seperti biasa. Qadarullah wa maa sya’a fa’al, mulai hari ini saya nggak ngelanjutin lagi belajar Bahasa Arab disana. Alasan utamanya, saya tak lagi  punya biaya buat sekolah. #Hehe, kasian banget yaa? Kalau dipaksa, kasihan suami harus mengeluarkan biaya sekitar 1000SR untuk uang sekolah dan sewa bis.

bipolar
Beberapa teman nanya, “kenapa nggak diantar suami aja? Kan udah punya mobil?”  Hm, rasanya nggak tega aja, membebani suami nganter jauh-jauh ke Daar, sementara beliau banyak kerjaan di kampus.
Seribu real itu juga sangat berarti buat kami, karena bulan depan harus bayar sewa kontrakan untuk setengah tahun ke depan. Kira-kira 4000 SR gitulah. Kalo dikurskan ke rupiah, sekitar 10 jutaan. Itu hanya untuk 6 bulan loh ya. #Maaf, nggak bermaksud curhat.

Alhamdulillah, nemu Markaz Tidzkar yang deket banget dari rumah. Suami juga bisa nganter, karena searah ke King Saud University.

Hari pertama di Markaz Tidzkar banyak bahagianya. Selain dekat, banyak teman-teman Indonesianya, sekolahnya gratis, pas datang disediakan sarapan gratis, istirahat juga dapat makanan gratis, yang paling utama, sembari hapalan tetap dapat pelajaran tafsir, walau nggak sebanyak di Daar Adz-dzikr.
Sayangnya, belum bisa cerita banyak soal tempat belajar yang ini. Karena kami jadi angkatan pertama disana. Maksudnya, Markaz Tidzkar baru semester ini buka halaqah tahfidz  buat ajnabiyah (orang asing) seperti kami.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 22 Rabi’ul Awwwal 1434 H
Verawaty Lihawa

Sedih – Bahagia

Dilema


Lebih dari dua bulan ini, Suami saya sedang semangat-semangatnya mengerjakan tesis. He’s on fire. Mungkin karena teman-teman Indonesia beliau banyak yang sudah lulus. Sebagai istri, harusnya saya tidak kalah semangat juga untuk memberikan dorongan, agar beliau segera menyelesaikan tugas akhirnya tersebut.

dilema

Realitanya, saya dilema. Di satu sisi masih ingin tinggal lebih lama di Saudi. Kalau suami cepat lulus, itu alamat harus segera exit dari negeri padang pasir ini. Sementara saya masih harus banyak mengisi ‘kantong amunisi’ ilmu disini, untuk bekal pulang ke tanah air tercinta.

Bahasa Arab dan halaqah Qur’an-nya itu yang beraaaat…ditinggalkan. Dimana lagi bisa dengar percakapan dengan bahasa Rasulullah kalau bukan di madrasah tercinta, Daar Adz-dzikr. Saya tulis madrasah, karena cuma di tempat ini, saya menyaksikan bahasa Arab fushah menjadi bahasa sehari-hari antara guru-murid. Untuk durus masyaikh di masjid-masjid, wajarlah ya pakai fushah.

Adapun halaqah tahfidz Qur’an tersebar di seantero kota. Masya Allah! Kadang sampai bingung mau daftar di daar yang mana. Bahkan banyak yang berfasilitas penitipan anak, biar yang punya bayi pun bisa ikut kegiatan menghapal Qur’an. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Kembali lagi ke dilema saya tadi. Di sisi lain, karena kami bersaudara perempuan semua, saya merasa bertanggung jawab untuk berdakwah di keluarga, demi mewujudkan ayat-Nya.

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” QS. Asy-Syu’ara : 214)

Bukan hanya ortu, paman-bibi, sepupu-sepupu saya juga banyak yang masih belum berhijab syar’i. Sedih juga memikirkan Mama saya yang bahkan belum lancar mengaji. Semoga Allah menjaga Mama-Papa saya, menerangi hidup keduanya dengan cahaya hidayah-Nya, dan mengampuni dosa-dosa keduanya. Amin.

Perasaan dilema ini akhirnya membuat saya hanya mampu berucap (sebelum nantinya shalat istikharah), “semoga Allah senantiasa memudahkanku dan dirimu dalam urusan kebaikan, wahai Suamiku. Biarkan Allah memilihkan urusan yang terbaik menurut kehendakNya untuk kita.”  

Just let it flow!

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 12 Rabi’ul Awwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Dilema