Dia yang Akhirnya Memikatku


Saya termasuk orang yang senang belajar bahasa. Dahulu, keinginan saya adalah bisa menguasai banyak bahasa; bahasa daerah maupun mancanegara.

Senang rasanya bisa mengenal beberapa bahasa, walaupun ekspektasi saya di atas tak tercapai.

Bagi setiap individu, termasuk saya tentunya, proses belajar bahasa itu dimulai dari lingkungan keluarga dekat. Bahasa pertama saya sudah pasti bahasa kedua orang tua saya, Bahasa Gorontalo. Keluarga besar saya memang berdarah Gorontalo asli.

Bahasa kedua yang saya kenal adalah Bahasa Bolango. Bahasa ini digunakan masyarakat Molibagu, suatu ibukota kabupaten yang terletak di selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Waktu itu, Papa saya kebetulan dimutasi ke Molibagu, Ibukota Kecamatan Bolaang Uki. Maka mulailah kami sekeluarga mengakrabi Bahasa Bolango tersebut. Saya mulai bersinggungan dengan bahasa ini sejak duduk di bangku kelas 3 SD  sampai kelas 2 SMP

Berhubung teman-teman sepermainan saya di Molibagu berbicara dengan Bahasa Bolango (tepatnya Melayu-Bolango), mau-tidak mau, saya pun latah bertutur dengan bahasa tersebut. Namanya juga masih bocah, kemampuan menyerap bahasa bisa dibilang masih cemerlang. Alhamdulillah tak ada kesulitan dalam beradaptasi dengan bahasa ini. Hanya saja imbasnya, saya perlahan meninggalkan kebiasaan bertutur dengan Bahasa Melayu-Gorontalo.

Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang riang. Pic was taken by Vicky Kembara. Foto-foto lainnya bisa dilihat di http://www.panoramio.com/user/1462290?comment_page=2&photo_page=1
Kampung inilah tempat saya menghabiskan masa kecil yang penuh keriangan.
Gambar milik Vicky Kembara

Saya mengakrabi lagi Bahasa Melayu-Gorontalo ketika pindah SMP ke Kotamadya Gorontalo. Sampai tamat SMA, saya tetap setia dengan bahasa ini. Mulai saat itu pula, saya membiasakan lisan bertutur dengan Bahasa Gorontalo asli, ketika mengobrol dengan orang tua.

Perlu diketahui, Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo itu beda ya. Kalau Melayu-Gorontalo, mudah sekali ditangkap artinya oleh orang-orang yang tidak berbahasa Melayu-Gorntalo. Adapun Bahasa Gorontalo, atau “bahasa planet” kata teman-teman kos saya di Jogja, tidak semua orang bisa paham. Kebanyakan hanya orang-orang tua saja yang masih setia menggunakan bahasa ini. Yang muda-muda, sayangnya, hanya sampai level Melayu-Gorontalo, meski mereka juga paham Bahasa Gorontalo. 

Kalau mau tahu perbedaan pengunaan Bahasa Gorontalo dan Melayu-Gorontalo, ini dia contohnya.

* Saya somo pigi ka Jakarta (Melayu-Gorontalo)

 Artinya: Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

* Watiya ma mona’o de Jakarta  (Gorontalo) ———————> CMIIW

Artinya:  Saya sudah mau pergi ke Jakarta.

Beda jauh kaaan?

Bahasa selanjutnya (baca bahasa asing pertama) yang saya pelajari adalah Bahasa Inggris.  Bahasa ini baru saya pelajari di bangku awal SMP. Saya lumayan tergila-gila waktu itu dengan Bahasa Inggris. Sampai beberapa curhatan saya di diary, saya tulis dengan Bahasa Inggris. Makin kecanduan lagi gara-gara keseringan nonton sala satu saluran TV luar negeri.

Selang kemudian, akhirnya saya sadari, bahwa kanal yang sering saya tonton dulu itu, enggak pantas banget untuk anak SMP (bahkan untuk semua usia, kalau mau pakai prinsip saya sekarang). Sayangnya, waktu tahap “kecanduan” Bahasa Inggris itu, Papa saya tidak sanggup membiayai kursus Bahasa Inggris. Waktu itu tahun 1998, pas banget krisis moneter, kan ya? Lagian, mana bisalah mau kursus, orang di kecamatan saya juga tak ada satupun lembaga kursus Bahasa Inggris. *dijitak massa* Ada sih, les-les gitu, tapi yang ikut mayoritas anak SMA (kawan-kawan kakak saya). Saya kan maluuuuuu, kakak! Pengajarnya juga guru Bahasa Inggris kakak saya di SMA-nya dia.

Sampai sekarang saya tak pernah mencicipi yang namanya les Bahasa Inggris ala lembaga kursus gitu. Kasian amat yak? Eh, tapi pas kuliah, sempatlah satu semester ikut mata kuliah Bahasa Inggris. Makanya, kemampuan Bahasa Inggris saya sampai sekarang, ya segitu-gitu aja. Sampai di level kindergarten ajalah pokoknya.

Tahun 2002, saya berlayar ke Jogja. Kota impian saya sejak di bangku akhir SMA. Kota yang memenuhi lembar-lembar diary saya ketika masih berseragam putih-abu-abu. “Aku haru harus kuliah di sana, pokoknya” begitu salah satu potongan isi buku harian saya. Alhamdulillah, ternyata saya betulan juga terdampar di kota penuh kenangan dan saya cinta itu. *lirik mamas “teman serumah”*

Di Jogja inilah, petualangan saya beradapatasi dengan Bahasa Jawa dimulai. Bahasa yang benar-benar asing buat saya. Proses belajarnya, saya bilang, benar-benar dicekoki paksa. Bayangin aja, di kampus, teman-teman saya yang orang Jawa anti banget berbahasa Indonesia. Saya pikir, mereka itu susah, apa males ya, ngomong berbahasa Indonesia. Tiap ativitas diskusi tugas kelompok, teman-teman Javanese ini, mestiiiii selalu berbahasa Jawa. Saya awal-awal sempat stres dengan masalah bahasa Jawa ini.

Lama-lama, karena punya konco dekat sekos asli Ngawi, yang logat Jawanya medok pake banget, saya jadi banyak paham Bahasa Jawa. Tentunya Bahasa Jawa khas Jawa Timur yang aksennya beda jauh dengan Jogja. Tahu kan, Bahasa Jawa a la Jogja yang halus itu? Akhirnya makin ketagihan berbahasa Jawa pas ikut salah satu UKM di kampus. Soalnya 99% penduduk UKM itu berbahasa Jawa. Tapi Bahasa Jawa saya juga masih yang cetek gitulah. Paling enggak, masih bisa dipakai untuk ngobrol dengan teman-teman Jogja yang ketemu di Riyadh. Jawa Kromo? Jauuuuuhh… 

Di bangku kuliah, saya sempat juga “mencicipi” beberapa program bahasa yang rutin per semester diadakan tetangga fakultas saya (Fakultas Ilmu Budaya), semisal kelas Bahasa Spanyol, Italia, dan Prancis. Sekarang, jangan tanya deh, kemampuan saya di tiga bahasa ini. M.I.N.U.S. (tuh, sampe di-bold dan underlined, lho). Namanya juga mencicipi. Khusus Bahasa Spanyol, sebenarnya sempat juga diseriusin. Soalnya, dulu cita-citanya pengen ke Spanyol. Alhamdulillah enggak kesampaian, malah diganti ke negeri yang lebih baik. *Sujud syukur*

Suatu siang, pas mau cari makan bareng sahabat tercinta, kami lihat mas-mas bercelana cingkrang (istilah celana di atas mata kaki), baru aja nempelin poster info kursus Bahasa Arab di papan informasi, dekat warung makan favorit. Mendekatlah kami ke poster itu.

“Ikut yuk Mba kursus Bahasa Arab yang ini. Asik loh, Bahasa Arab itu.” ajak si Sahabat.

“Enggak ah. Kamu aja yang ikut sana. Kan kamu udah pernah belajar, jadi udah bisa. Aku mau kursus yang lain aja dulu,” jawab saya dodol.

Padahal apa hubungannya coba? Harusnya kan kebalik ya? Saya mestinya yang paling berhak ikut tuh, karena pengetahuan Bahasa Arab saya NOL. Tapi tetap aja, saya belum terpikat sama sekali. Bingung juga, sih, waktu itu. Yang terlintas di kepala,  “Duh, Bahasa Arab ini nanti kepakai di kerjaan apa ya?”.  Maaak…sempitnya pikiran saya.

Lalu, apa kabarnya kelas macam-macam bahasa yang saya cicipi di tetangga fakultas setelah itu? Berhubung, mulai semester berapa gitu, kelas bahasanya sudah berbayar, akhirnya, saya dadah2 bye-bye deh, sama pelajaran-pelajaran itu. Ah, modal gratisan memang saya ini.

Tahun 2008, tahun di mana saya memulai hidup baru yang lebih bermakna (baca masa awal mengenal manhaj as–Salaf as-Shaalih), adalah masa pertama saya belajar Bahasa Arab. Ya, bahasa yang saya tolak mentah-mentah waktu diajak Sahabat untuk mempelajarinya. Bedanya, kali ini saya yang bersemangat. asli tak ada paksaan.

Saya harus mulai belajar sesuatu yang bermanfaat untuk akhirat saya, sebagai bayaran atas waktu yang terbuang percuma di tahun-tahun kemarin. Bahasa Arab bahasa Al-Qur’an, yess? Sudah pasti berhubungan dengan perkara akhirat.

Pagi-pagi, habis salat subuh, dengan perasaan gembira yang tak terlukiskan, saya dan sahabat saya menyusuri Jalan kaliurang KM.5,6 menuju Pogung Kidul, lokasi belajar Bahasa Arab kami ketika itu.

Kitab yang kami pakai judulnya “Al-Muyassar Fii ‘Ilmin Nahwi”. Dari judulnya sudah tahu dong, kalo kitab ini membahas ilmu nahwu. Daaaan…muka saya yang tadinya cerah ceria, mendadak jadi “bingung-face” dengan kening yang harus sering berkerut-kerut, saking tak pahamnya.

Materinya rasanya beraaaaaat bagi saya. Bersyukur Ibu Guru (semoga Allah menjaganya) sabar sekali, mau mengulang-ulang penjelasan. Kejutannya, di antara 4 atau 5 orang yang ikut pelajaran pagi itu, saya aja satu-satunya yang sekali pun belum pernah belajar Bahasa Arab. Kawan-kawan saya ini lulusan pesantren, gituh. Mungkin mereka sempat juga melirik-lirik jengkel ke saya, karena banyak bab yang saya minta untuk diterangkan berkali-kali. Sementara mereka sudah pengen cepat-cepat ganti bab.

Tapi asli, biar dikata judulnya Al-Muyassar (yang dimudahkan), saya merasa materinya itu susah sekali untuk level sangat pemula semacam saya. Qadarullah, belajarnya enggak tamat karena ustadzahnya sibuk ngurus-ngurus pernikahannya. Jazaahallaahu khairaa.

Singkat cerita, dari saat pertama belajar Bahasa Arab itu, proses belajar itu masih terus berlangsung hingga kini. Sejak mengetahui keutamaan dan urgensi Bahasa Arab, saya berusaha memaksa diri, untuk tidak patah semangat mempelajarinya. Yah, walau diakui rasa bosan itu tetap banyak melanda.

Alhamdulillah, rasanya ada sedikit peningkatan dalam bahasa Arab, jika dibandingkan dengan diri saya yang dulu. Walau belum bisa dibilang mahir, hebat, pakar, jago, dan sejenisnya, paling tidak (bifadhlillah), ada perubahan.

Apalagi setelah diberi nikmat bisa hidup di negara yang bahasa tuturnya adalah Bahasa Arab. Di sini, kegiatan belajar Bahasa Arab itu tersaji di mana-mana. Dari TV, radio, kajian di masjid-masjid, toko-toko, pun di sekolah-sekolah. Mata dan telinga kita jadi terbiasa dengan kalimat-kalimat Bahasa Arab.

Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab. Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan  nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).
Media-media yang memperkaya kosakata bahasa Arab.
Searah jarum jam: Struk belanja super market (ayo tebak, belanjaannya apa aja?), Jus favorit saya, papan nama resto dan warung kuliner khas Yaman langganan, papan penanda kran zamzam khusus jamaah perempuan (ini mah udah tahu ya?).

Kesimpulannya, di antara sedikit bahasa yang pernah bersinggungan dengan hidup saya, Bahasa Arab inilah yang bisa dibilang CANDU. Candunya hanya bisa dirasakan orang-orang yang juga jatuh cinta dengan bahasa ini. Enggak percaya? Coba deh, kenalan mulai sekarang!

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Q.S. Yusuf: 2)

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 20 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Dia yang Akhirnya Memikatku

Menikmati Indahnya Telaga Wadi Hanifah


Mumpung masih di Riyadh, bagi-bagi cerita rihlah dulu, aaahh. Cerita ini udah basi banget sebenarnya. Sekitar setahun lebih kalau enggak salah.

Sebagaimana kebiasaan saya dan suami selama di Riyadh, kalau rihlah hampir enggak pernah berdua. Mesti pikniknya selalu berombongan dengan kawan-kawan Indonesia lainnya. Rasanya seru aja gitu. Sekalian mempererat ukhuwah dengan teman-teman yang memang jarang-jarang ketemu, karena-mungkin-rumahnya jauhan.

Nah, rihlah ke Wadi Hanifah ini pun demikian. Waktu itu berangkatnya dengan tiga keluarga lainnya; keluarga Mba Maryam Ummu Ukasyah, Mba Dela Ummu Aisyah, sama Maya Ummu Rumaisha. Kami menumpang mobil Ummu Aisyah atau Ummu Rumaisha (saya agak lupa), karena suami belum punya mobil waktu itu.

edit2

Sampai di Wadi Hanifah, mata saya cuma bisa menatap takjub. Subhaanallaah! Pemandangannya bagus banget. Namanya juga tinggal di daerah padang pasir, pasti takjub plus norak sangat bisa lihat panorama yang ada air-airnya gini.

edit3

Soal Wadi (lembah) Hanifah ( وادي حنيفة ) ini, menurut Mbah Wiki, ia adalah lembah di wilayah Najd (sekarang bernama Riyadh) yang memanjang sekitar 120 km (75 mil) dari utara ke selatan, memotong Kota Riyadh, yang dikenal sebagai Ibukota Arab Saudi.

Nama lembah ini diambil dari suku Arab kuno, Bani Hanifah, suku paling terpandang yang mendiami wilayah lembah tersebut pada awal datangnya Islam. Sebelum berubah nama menjadi Wadi Hanifah, lembah ini lebih dikenal dengan al- ‘Irdh (العرض). Di sepanjang lembah, berlokasi beberapa kota dan desa, di antaranya Uyaynah, Jubailah, Irqah, Diriyyah, dan Ha’ir.

edit4

Namanya juga piknik keluarga, kegiatannya sudah pasti tak jauh-jauh dari yang namanya ngobrol, ngawasin anak-anak main, bakar-bakar ikan, lalu…makan bareng di tepi telaga sambil mandangin jernih airnya. Masya Allah! Ibu-ibunya, sih, duduk-duduk cantik aja sambil menata makanan dan ngobrol-ngobrol, dari masalah seputar anak, kegiatan sekolah, sampai resep masakan. Bapak-bapak kebagian tugas bakar ikan sambil ngejar anak-anaknya lari-larian, yang enggak takut pengen nyebur ke telaga. *lol*

edit5

Enaknya piknik di Riyadh, atau di Saudi umumnya, perempuan-perempuan bercadar enggak perlu merasa rikuh atau enggak pede untuk gelar tikar di tempat terbuka. Soalnya yang datang ke lokasi-lokasi piknik itu biasanya berkeluarga, juga wanita-wanitanya mayoritas bercadar. Kadang satu grup itu isinya ada kakek-nenek sampe anak-cucu. Khusus di Wadi Hanifah, kegiatan piknik keluarga selalu ada acara bakar ikan dan memancing (bagi yang hobi mancing).

Jujur aja (curcol nih), di Indonesia saya masih harus mikir-mikir kalau ke tempat piknik. Soal saya pakai cadar, sih, saya pede (pake berat) aja dong. Yang jadi masalah, tempat-tempat rihlah di Indonesia itu biasanya dihiasi muda-mudi yang lagi pacaran. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah. Saya jadi ilfil aja gitu kalau piknik malah lihat pemandangan maksiat gini. Wal’iyaadzu billaah.

Kembali ke Wadi Hanifah. Tempat ini benar-benar well recommended untuk jadi tujuan piknik, jika anda kebetulan main ke Riyadh, atau berdomisili di Riyadh tapi belum pernah piknik ke mana-mana. Tempat dan toiletnya bersih. Sayangnya, saya enggak ingat, apakah di situ ada masjid atau tidak. Mungkin ada tapi agak jauh. Karena dulu, bapak-bapak itu harus naik mobil pas mau shalat ashar ke masjid. Ibu-ibu cukup gelarin sajadah di sekitar telaga dan shalat di situ.

Poin pentingnya, masuk Wadi Hanifah itu gratisss. Tinggal bawa bekal makanan sendiri dari rumah untuk dinikmati di sana. Enak kaaaan?

Tertarik ke Wadi Hanifah? Silakan bagi Anda yang di Riyadh untuk klik petanya di sini ya.

فاستمتعوا برحلتكم في وادى حنيفة (so, enjoy your picnic at Wadi Hanifa). 

* All pics were taken and edited by Verawaty Lihawa.

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 20 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa

Menikmati Indahnya Telaga Wadi Hanifah

Berharap UndanganNYA Lagi


Atap Masjidil Haram di waktu sepi jamaah.
Salah satu sudut atap Masjidil Haram di waktu sepi jamaah.

Musim haji akhirnya berakhir. Menyisakan kerinduan teramat dalam di hati.

Qadarullah, saya dan suami tak jadi pergi haji tahun ini. Bukan hanya karena biaya haji meroket tinggi tahun ini. Tapi aturan baru dari Pemerintah Arab Saudi yang membikin nyali ciut untuk nekat ke Tanah Suci.

Di Arab Saudi berlaku larangan bagi warganya untuk pergi haji tanpa tashrih (semisal surat izin haji). Aturan ini sebenarnya sudah diberlakukan bertahun-tahun. Meski toh realitanya, saban tahun masih banyak juga jamaah yang bisa lenggang kangkung, pergi tanpa berbekal tashrih. Di Saudi, orang-orang semisal ini biasa diistilahkan dengan haji koboi.

Tahun ini, Arab Saudi rupanya tak main-main. Beberapa bulan sebelum haji sudah beredar kabar di berbagai situs, bahkan di situs resmi haji Saudi, calon jemaah haji Arab Saudi yang berangkat tanpa tashrih akan dikenakan hukuman. Untuk warga asli Saudi, sih, saya kurang tahu apa hukumannya. Mungkin dipenjara. Nah, khusus bagi penduduk ajnabi (asing) seperti kami ini  nih, hukumannya sukses bikin kami takut sampai level tinggi.

Apa hukumannya? Simpel kok, cuma dideportasi langsung, plus dilarang masuk negara Arab Saudi selama 10 tahun. *nyengir kuda*  Suami dengan mantap langsung membatalkan rencana haji begitu tahu risikonya bakalan seperti di atas.

Lha, memangnya Ella dan suami tadinya mau nekat pergi tanpa tashrih? Owh, tentu tidak, kakak, adek, Mba2! Dari dulu kami mengambil pendapat, bahwa berangkat haji tanpa tasrih termasuk melanggar aturan pemerintah, walau hajinya itu sendiri sah.

Terus? Jadi kemarin itu kami punya tiga jalan alternatif untuk berhaji. Pertama, kami pergi sebagai jamaah haji mandiri. Memberikan sejumlah uang tertentu kepada pihak berwenang untuk mendapatkan tashrih. Tapi berhubung biaya haji tahun ini naik sampai 2x lipat, akhirnya kami coret alternatif ini dari list. Enggak sanggup Buuuu, bayar sampe ribuan real. Jelas aja kami tak mau bela-belain bayar, karena ini hanya jadi haji sunnah buat kami.  Kalaupun uangnya tersedia, ada kebutuhan yang lebih penting. Bulan depan, insya Allah, kami akan angkat kaki dari Negeri Padang Pasir ini. Pastilah kebutuhan fulus untuk bayar-bayar biaya pulang, takkan terelakkan. Tiket, sih, kata Suami, akan ditanggung kampus tercinta Beliau. Tapi biaya cargo barang-barang dari Riyadh ke Indonesia, siapa lagi yang mo nanggung kalau bukan kami, eh Suami? *abaikan paragraf ini yang terkesan curcol  ya*

Oke, sekarang alternatif kedua. Sebenarnya Suami ditawari untuk bekerja (sambil bisa berhaji) di Masjidil Haram selama hari-hari haji, untuk bantu Syaikh. Siapa nama Syaikhnya saya juga enggak ingat. Sayangnya, syaratnya enggak boleh bawa istri. Tentunya sebagai Suami sayang istri (uhuk-uhuk), Beliau jadinya urung berangkat. Mungkin enggak tega membayangkan saya di rumah tak bisa tidur berhari-hari karena pingin banget ikut berhaji.

Ketiga, dan ini alternatif terakhir. Ada teman yang punya hamlah (biro perjalanan) haji menawarkan kepada suami untuk jadi pembimbing haji di hamlahnya. Bonusnya, saya juga boleh dibawa untuk jadi pendamping. Masalahnya, Suami tahu hamlah ini sering bermasalah pada tashrih. Banyak jamaah mereka di tahun-tahun sebelumnya diberangkatkan tanpa tashrih.

Walau nanti si pembimbing bisa dapat tashrih, sementara hamlahnya masih nekat bawa rombongan tanpa tashrih, imbasnya nanti jadi enggak bagus buat si pembimbing itu sendiri. Kalau ketahuan, pembimbingnya juga akan kena sanksi, yaitu MASUK PENJARA. Wal’iyaadzu billaah.

Kalau begini, akhirnya tinggal banyak-banyakin berdoa. Semoga tahun-tahun berikutnya, meski kami sudah kembali berdomisil di Indonesia, kami tetap diundang ke sana  lagi untuk jadi tamuNya. Aamiin…

edit5
Suasana tenda di Mina di luar musim haji. Sepi yaa…
Galon Zamzam, salah satu printilan Masjidil Haram yang bikin jamaah haji dan umroh kangen.
Galon Zamzam, salah satu printilan Masjidil Haram yang bikin kangen  jamaah haji.

Ummul Hamam, RIyadh, KSA, 13 Dzulhijjah 1434 H

Verawaty Lihawa 

Berharap UndanganNYA Lagi

Menjadi Muslim “Mubaarakan ayna maa kaana” (Kisah #1)


Dalam Surah Maryam ayat 31, termaktub di sana ucapan Isa ‘alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ .

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”

Dalam Tafsir Jalalain, maksud potongan ayat ini adalah, Dia menjadikan diriku orang yang banyak memberi manfaat kepada manusia. Ungkapan ini merupakan berita tentang kedudukan yang telah dipastikan baginya (Isa ‘alaihissalam).

Syaikh Muhammad al-Khudhariy, Dosen Ilmu Tafsir di King Saud University, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, belum lama ini menyampaikan muhaadharah, yang intinya adalah, bagaimana menjadi seorang muslim yang penuh berkah (baca memberi manfaat kepada manusia) di mana saja dia berada. 

Syaikh lalu bertutur, “Aku memiliki seorang murid, bernama Aiman. Aiman ini berprofesi sebagai dokter di King Khalid University Hospital, Riyadh. Dia menamatkan pendidikan spesialisnya di Kanada. Suatu kali, Aiman bercerita kepadaku tentang dua rekan kerjanya di Kanada.”

Mari kita simak kisah Aiman.

Di Kanada, aku mengenal dua dokter muslim yang akhirnya menjadi rekan dekatku di rumah sakit (mungkin maksudnya tempat Aiman co-as, pen.). Satu hari, aku mengundang keduanya untuk datang ke rumah. Di sela-sela obrolan, aku tiba-tiba tertarik untuk bertanya kisah keislaman mereka berdua.

Dokter pertama pun memulai ceritanya.

Ketika aku lewat di sebuah jalan, kulihat seorang laki-laki negro, badannya tinggi besar, sedang membagi-bagikan beberapa buku kepada setiap pengunjung yang melewatinya. “Bacalah!”, begitu kira-kira pesannya kepada setiap orang yang mendapatkan buku tersebut.

Perasaan tak suka menyelinap dalam hatiku. Aneh saja melihat orang seperti itu membagi-bagikan sebuah buku tebal kepada setiap orang yang lewat. Apalagi kemudian kuketahui bahwa buku itu adalah Al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba buku tersebut sampai juga di tanganku saat itu. Yang pasti, aku sama sekali tak berminat membacanya. Ketika melewati tong sampah, kumasukkan buku tersebut ke dalamnya, lalu segera berlalu dari situ.

Setibanya di rumah, aku pun menyalakan TV. Dan tebak, ternyata laki-laki negro tinggi besar itu, wajahnya muncul di kotak ajaib tersebut. Sepertinya stasiun TV sedang meliput aktivitasnya. Pikiranku sontak melayang ke buku tebal yang tadi kubuang ke tong sampah. Hatiku berkata, “Ah, kan dia hanya menyuruh membaca. Apa salahnya kalau cuma membaca. Toh dia tidak meminta apa-apa.” Kemudian, aku pun bertekad untuk mendapatkan buku itu kembali.
Sekarang aku sudah capek dan mengantuk. Aku pikir, besok pagi saja aku kembali ke tong sampah tadi. Ya, harus pagi-pagi, sebelum truk pengangkut sampah mendahuluiku.

Esok subuhnya, aku bergegas kembali ke tong tersebut. Aku berharap truk sampah belum mengangkutnya. Namun harapanku sia-sia. Aku menemukan tong itu sudah kosong.

“Hmm, mungkin besok aku harus ke sini lagi dan meminta mushaf Al-Qur’an seperti yang kemarin diberikannya,” bisikku dalam hati.

Sayang, ternyata aku tak menemukan lelaki tersebut keesokan harinya. Tiga hari berikutnya, sepekan, sampai berlalu sebulan, aku terus mencarinya di sekitar jalan tersebut, namun tetap tak mendapatinya.

Hingga tiga bulan berikutnya, Allah akhirnya mempertemukanku dengannya. Aku melihatnya di jalan tempat dia tiga bulan lalu membagikan mushaf Al-Qur’an. Lantas aku mendekatinya dan menyapanya. “Tiga bulan lalu kau pernah memberiku sebuah buku. Aku telah menghilangkan buku itu. Bolehkan aku mendapatkannya lagi?” Tentu saja aku tidak bilang bahwa buku itu sudah kubuang ke tong sampah.

“Boleh. Tapi aku tak membawanya sekarang. Hari ini tugasku membagikan selebaran-selebaran ini,” katanya. “Tapi aku benar-benar ingin buku itu lagi,” jawabku.

“Kalau kau mau, ikutlah ke rumahku. Aku akan memberikannya kepadamu. Tapi kau harus tunggu hingga selebaran ini habis,” balasnya.

Kusambut ajakannya dengan sukacita. Tiga bulan mencarinya, rasanya sayang kalau harus kehilangan kesempatan ini lagi. Aku pun menunggunya hingga selesai dari kegiatannya. Kemudian kami menuju rumahnya dan dia pun memberikan sebuah mushaf sebagai hadiah untukku. Bahagianya diriku sewaktu menerimanya. Perjuangan akhirnya berbuah hasil.

Sesampainya di rumah, aku pun membacanya. Kadang aku sampai lupa makan karena asik berkutat dengannya. Hanya butuh sepekan buku itu (terjemahannya, pen.) selesai kubaca. Dadaku sesak. Sesak oleh keimanan yang terasa memenuhi seluruh rongga jiwaku. Aku pun segera mencari nomor telepon Islamic Center terdekat untuk membantuku masuk Islam. Mereka pun mengundangku datang, dan akhirnya aku pun masuk Islam. Allahu akbar!

Dokter pertama mengakhiri ceritanya.

Dokter kedua kemudian berkata, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya?” 

“Ya,” kata dokter pertama,

“”Aku juga masuk Islam dengan jalan si Abdul Majid itu,” timpal Dokter kedua.

Dua dokter ini hanyalah dua di antara sekian banyak orang yang masuk Islam setelah mendapatkan kitab-kitab dari Abdul Majid. Intinya, dengan izin Allah, Abdul Majid telah berhasil mengislamkan banyak orang melalui usahanya.

Kisah Aiman selesai. Kita kembali ke cerita Syaikh al-Khudhariy.

Sekitar tahun 2005, aku berangkat ke tanah Suci untuk membimbing jamaah haji. Tak jauh dari tenda tempatku bertugas, terlihat seorang lelaki negro sedang berdebat dengan petugas untuk bisa masuk ke dalam tenda. Si Petugas tampak kehabisan akal, karena lelaki tersebut sepertinya tak bisa berbahasa Arab. Aku pun berlalu ke tenda. Pemandangan seperti tadi lumrah terjadi ketika haji.

Ketika tiba waktu untuk menuju Muzdalifah, kami masuk ke dalam bus. Karena bus berjalan lambat akibat macet, penat rasanya terlalu lama duduk di dalamnya. Maka kami pun keluar untuk istirahat sejenak. Kami duduk di padang terbuka sambil membuat halaqoh. Aku menyampaikan ceramah di depan jamaah. Waktu itu jamaahnya tidak terlalu banyak. Kami duduk melingkar. Agak terkejut aku mendapati lelaki negro yang kulihat siang tadi kini duduk di hadapanku, bersiap mendengarkan ceramah. Rupanya dia berhasil menembus kawasan tenda. Kala kutanya, ternyata dia jamaah dari Kanada yang kehilangan rombongannya. Mendengar kata Kanada dan perawakannya, aku teringat cerita Aiman. Aku pun menceritakannya di depan mereka.

Di akhir cerita, kala kukutip perkataan dokter kedua, “Orang negro itu namanya Abdul Majid ya? Aku juga masuk Islam melalui dia”, di sudut mataku, kulihat si lelaki negro itu tertunduk menangis. Aku meminta salah satu jamaah yang mengerti bahasa Inggris untuk bertanya siapa namanya. Dia pun menjawab, “Nama saya Abdul Majid.”

Masya Allah, tokoh sentral cerita Aiman ada di hadapanku. Dengan perasaan riang kutanyai dia yang saat itu masih terisak-isak, “Wahai Abdul Majid, apakah kau tahu di luar sana banyak sekali orang yang masuk Islam dengan sebab mushaf dan buku-buku yang engkau bagikan?”

“Aku tidak tahu, Syaikh. Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menangis.

Bersambung insya Allah.

edit5

* Berdasarkan cerita Muflih Safitra (Mahasiswa S2 KSU) yang hadir dalam muhaadharah Syaikh al-Khudhariy di hadapan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, Riyadh.

Mungkin Abdul Majid ini adalah muslim yang mubaarak. Dia memberikan manfaat kepada orang lain melalui hal kecil yang dia lakukan. Dia tidak tahu bahwa saat ini, di tempat ini, kita membicarakan kebaikan-kebaikannya. 

Menjadi Muslim “Mubaarakan ayna maa kaana” (Kisah #1)

Sejatinya Pengingat


Kamis pagi kemarin, saya dikabari, bahwa Bapak F, calon tetangga yang sedianya akan menempati lantai atas flat kami meninggal. Beliau (semoga Allah merahmatinya), sempat masuk Rumah Sakit dulu untuk operasi jantung, pada hari Sabtu, pekan lalu. Padahal, menurut kawan saya, beliau Jumat malamnya masih sempat hadir di pengajian rutin Bapak-bapak, yang kebetulan bertempat di rumah kawan saya tadi.

Kematian memang sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Siapa sangka Bapak F, yang [mungkin] sebelum menjelang kematiannya, sedang berbahagia sebab permohonannya untuk mendatangkan Istri dan anaknya dari Tanah Air setelah haji dikabulkan. Beliau bahkan sudah mendapatkan rumah yang akan beliau tinggali bersama Istri dan anaknya di Riyadh.

Istri dan anaknya pun bisa jadi sudah tak sabar menunggu momen berkumpul kembali dengan Bapak F di negeri gurun pasir ini. Namun, siapa sangka takdir Allah berkata lain.

Benar, kematian selalu mewariskan kesedihan bagi kerabat yang ditinggalkan. Tapi dialah sejatinya pengingat bagi yang masih hidup, bahwa kedatangannya tak pernah mengenal ruang dan waktu. Dialah gerbang kehidupan yang kekal; kekal dalam kenikmatan atau dalam kesengsaraan.

Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yangmenipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

edit5

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 29 Dzulqa’dah 1434 H

Verawaty Lihawa

 

Sejatinya Pengingat

Baru Tiga Tahun


Alkisah, tersebutlah sepasang suami-istri yang ingin mengadukan permasalahan mereka kepada salah satu ulama di kota mereka. Pasangan ini, sejak pernikahan sampai kini, belum juga memiliki buah hati yang mereka idamkan. Setelah konsultasi dan diperiksa oleh dokter, mereka dianjurkan untuk melakukan bayi tabung.

Sebenarnya pembahasan masalah bayi tabung dalam tinjauan syari’at sudah pernah mereka baca. Hanya untuk lebih mantapnya dan ingin mencari penjelasan sejelas-jelasnya, berangkatlah sang Suami menemui sopir seorang mufti ternama (yang kebetulan berasal dari negara yang sama dengan sang Suami) di kota tersebut, untuk meminta tolong kepada si Sopir agar menyampaikan pertanyaannya kepada Syaikh.

Akhirnya terjadilah dialog antara Suami dan si Sopir, yang kira-kira begini isinya.

Sp (Sopir) : “Antum sudah berapa lama nikahnya?” 

Sm (Suami): “3 tahun, Ustadz.”

Sp : “Baru tiga tahun..? Masih baru itu, Akhi!!” sambil tersenyum. “Ana juga sampai sekarang belum punya anak sudah 15 tahun nikah. Antum tahu, Syaikh juga belum punya anak padahal Beliau lebiiih… lama lagi nikahnya. Jadi kita belum ada apa-apanya dibanding Syaikh, Akhi. Bersabar aja dulu. Coba cari pengobatan yang lain.”

Adapun jawaban dari Syaikh untuk suami-istri tadi, mengingat dalam proses bayi tabung itu akan memperlihatkan aurat si Istri, sementara hal ini tidak dibolehkan, maka Syaikh memandang bahwa bayi tabung bukanlah sesuatu yang darurat.

wait

Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 16 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Baru Tiga Tahun

Cerita dari Haramain #1: Dua Sopir


Waktu: 24 Ramadhan 1434 H
Latar: Mekkah Almukarramah

Sopir #1

Sebelumnya saya mau berucap syukur dulu kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada muhsinin yang sudah berbaik hati membiayai perjalanan rombongan umroh kami dari Riyadh hari ini. Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Mekkah menjelang waktu sahur tanggal 23 Ramadhan.

Jika Ramadhan tahun ini kami bisa sampai dua kali umroh (alhamdulillah), TENTUNYA itu bukan karena kami yang banyak uangnya. Tapi karena di Saudi banyak sekali muhsinin yang rela mengeluarkan hartanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah semisal ini. Dan insya Allah mereka tak mengharapkan balasan kecuali doa dari orang-orang yang sudah mereka bantu. Jazaahumullahu ahsanal jazaa’.

Meski lokasi funduq (hotel) yang lumayan jauh dari Masjid al-Haram, saya tetap senaaaang sekali. Sudah perjalanannya gratis, dapat hotel pun tak bayar, siapa yang tak bahagia? Ketika diamati, sepertinya ini hotel terjauh yang kami dapati selama berkesempatan ke sini beberapa kali. Kawasannya juga terlihat asing. Yah, bisa dimaklumi karena musim Ramadhan begini, hotel-hotel di sekitar Alharam pasti penuh dan naik juga tarifnya.

Besoknya, setelah makan malam, shalat Isya’, dan kemudian rehat, sekitar jam 24.00 WKSA,kami (saya dan suami) langsung bersiap menuju Masjid al-Haram untuk melaksanakan qiyaamul lail, dan insya Allah setelah shubuh dilanjut dengan prosesi ibadah umroh: thawaf, sa’i, tahallul.

Di lobby kami bertanya ke pegawai hotel jalan ke arah Masjid al-Haram. Sesuai ancer-ancer dari pegawai hotel tadi, kami jalan kaki ke arah Syaari’ (Jalan) ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Sampai disana kami benar-benar asing dengan jalan ini.

Di setiap kesempatan umroh, kami biasanya menjadikan ujung menara Jam Mekkah sebagai acuan arah dari hotel ke Masjid al-Haram. Jika menaranya terlihat dekat, berarti masjidnya juga dekat, sehingga kami bisa memilih jalan kaki ke masjid. Kali ini menaranya sama sekali tak terlihat dari tempat kami berdiri. “Berarti hotel kita benar-benar jauh dari masjid” kata suami.

Kami, tepatnya suami, segera memutuskan untuk mencari bis ke arah masjid. Setelah tanya sana-sini dan mendapatkan penjelasan yang tidak juga mencerahkan dari orang-orang yang kami temui, akhirnya diputuskan untuk pakai jasa taksi saja. Menit-menit terus berlalu, kami harus segera berpacu untuk menyelesaikan manasik.
Tiba-tiba sebuah mobil GMC hitam model Yukon (kalau tidak salah), berhenti di depan kami. Pengemudinya yang berwajah Arab memberi isyarat untuk naik. Di sampingnya duduk seseorang wanita yang juga bercadar seperti saya. Saya duga itu mungkin istrinya, karena di jok belakang duduk pula seorang anak perempuan kira-kira berusia 6 tahun-an,  mungkin anak mereka.

Baik si Bapak Sopir maupun suami, sama sekali tidak membuka obrolan selama perjalanan. Mobil akhirnya melewati sebuah nafaq (terowongan) panjang, yang artinya dugaan kami benar; hotel kami memang jauh dari masjid.

Si Bapak “Arab” itu akhirnya menghentikan mobilnya di salah salah satu sisi jalan yang masih agak jauh dari Masjid al-Haram. Rupanya beliau mau kea rah yang berbeda, jadi kami diturunkan disitu. Kami lantas berterima kasih kepada si Bapak, karena beliau memberi kami tumpangan gratis. Alhamdulillah, alhamdulillah.

Biasanya di Mekkah memang banyak mobil-mobil pribadi beroperasi sebagai jasa taksi. Tapi yang kami tumpangi tadi benar-benar majjaanan alias gratis.

Sebelum turun suami bertanya arah jalan masuk masjid kepada si Bapak “Arab” tersebut. Reaksinya sungguh tak terduga. Beliau terlihat agak bingung. Padahal suami sepertinya sudah cukup jelas  melafalkan pertanyaannya dalam Bahasa Arab. Istrinya terlihat menjelaskan dalam bentuk gumaman.

Si Bapak malah balik bertanya, “Philippino or Indonesia?”. “Indonesia,” jawab suami. “Kalo gitu lewat jalan bawah situ aja, Pak. Tinggal jalan dikit aja udah nyampe masjid kok.” Si Bapak pun berlalu melewati sisi kiri  atas jalan. Entah kemana.
Kami melotot takjub diakhiri dengan tawa kecil yang tak tertahan.

Sopir #2

Alhamdulillah manasiknya selesai sekitar jam 9 pagi. Agak lama memang karena waktu sa’i tadi, kami sengaja tidak mau terburu-buru karena kaki agak letih setelah thawaf.
Selesai saya tahallul (suami memilih tahallul di hotel), kami mencari sudut sepi yang bisa dipakai untuk tidur sejenak.

Masih di sekitar mas’aa (tempat melaksanakan sa’i), sepasang suami-istri (dari logatnya, sepertinya dari Mesir), menitipkan kepada kami bayi mereka yang sedang terlelap di dekat situ.  Mereka mau melanjutkan kegiatan sa’i-nya. Karena tempatnya memungkinkan untuk tidur, saya akhirnya berbaring di samping si bayi. Badan capai dan rasa kantuk yang luar biasa, membuat saya cukup terlelap sambil dijaga suami yang ikut terkantuk-kantuk di dekat kepala saya.

Bangun-bangun disambut ramainya orang yang bersiap menunggu shalat Jumat. Orang tua si bayi juga sudah duduk mengobrol di dekat kaki saya. Kami akhirnya segera berlalu dari situ untuk mencari area yang nyaman buat shalat Jumat nanti. Kami berhenti di lantai dua masjid, di salah satu area bermesin pendingin. Sejuuuuukk…

Saya teringat harus wudhu lagi. Wudhu saya batal karena tertidur lelap selepas sa’i tadi. Saya minta suami menjaga tempat duduk saya agar tidak diserobot orang, karena jarak toilet-masjid yang lumayan jauh. Jamaah semakin berbondong-bondong masuk.

Singkat cerita, qaddarallaahu wa maa syaa’ fa’al, saya akhirnya harus sholat di pelataran masjid. Tempat saya sudah diambil jamaah lain.

Singkat cerita lagi, saya juga membatalkan puasa hari itu setelah mengalami dehidrasi hebat karena disengat terik matahari Mekkah. Karena Riyadh-Mekkah sudah terhitung safar, jadi saya bisa dapat keringan berbuka kan? Bayangkan sekitar 1 jam sebelum adzan, lanjut khutbah, sampai shalatnya, saya harus duduk di halaman masjid yang hanya beratapkan langit itu. Oh iya, dan sun-bathing tentunya. Selama duduk, keringat saya terus mengalir deras.

Ketika khatib naik mimbar tadi, saya teringat bahwa ini adalah salah satu momen mustajabnya doa. Maka saya pun berharap sekali hujan turun saat itu juga, saking panasnya cuaca. Beberapa kali saya lantas berucap lirih, ” Yaa Rabbi, anzil lanal mathor, anzil lanal mathor”  (Ya Allah, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami).

Sekitar sejam selepas shalat, saya masih saja “setia” mondar-mandir dari pintu masuk #84, #85, dan #86, untuk memastikan apa saya bisa segera masuk ke dalam masjid dan mendapatkan secuil kesejukan dari mesin pendingin di lantai 2. Ternyata NIHIL. Penjaga pintu meminta jamaah yang di luar masjid bersabar untuk tidak masuk dulu, demi menghindari desak-desakan di pintu masuk dengan ribuan jamaah yang mau keluar masjid. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Suami beberapa kali menelpon tapi suaranya tak kedengaran jelas. Mana pulsa saya “sekarat” tak bisa menelpon balik. Karena darurat, akhirnya saya tak malu-malu lagi pinjam handphone si Penjaga Pintu #86. Saya cerita saja kondisi saya waktu itu.

Penjaganya ternyata ramah sekali. Sangat jauh dari tampang sangar khas mereka ketika harus menertibkan jamaah yang suka ngeyel.

Alhamdulillah, akhirnya suami muncul juga dari pintu #84 tempat kami janjian.
Rencananya hari itu kami mau ketemu teman-teman rombongan umroh dari Balikpapan, sekaligus mau titip beberapa kitab untuk dibawa pulang. Tapi penampilan kami yang sudah semrawut, ditambah bau tak enak, suami juga masih berbalut kain ihram dan masih belum tahallul, jadi kami putuskan untuk balik funduq dulu untuk mandi dan ganti baju, sekalian menjemput kitab-kitab yang mau dititipkan ke Balikpapan.

Tentunya balik ke funduq kami harus naik taksi lagi. Dari pintu #84, kami harus berjalan sedikit jauh melewati Marwa untuk sampai  ke pangkalan taksi. Baru jalan beberapa langkah, langit tiba-tiba berubah menjadi sangat mendung. Di kejauhan, dari arah belakang Hotel Dar el-Tawheed, terlihat seperti badai debu. Angin pun seketika bertiup sangat kencang. Jilbab saya terasa mau terbang. Kami pun ketakutan lantas lari sekuat tenaga masuk ke masjid lagi, menunggu badai reda.

Doa saya terkabul. Gerimis perlahan-lahan jatuh, membasahi halaman Masjidil Haram.
Sebelum nanti semakin deras, kami segera memacu langkah ke tujuan semula, pangkalan taksi.

Ternyata pangkalan taksi itu tidak seperti bayangan kami. Kami pikir itu kawasan khusus tempat taksi mangkal. Ternyata yang ada hanyalah jalan besar dimana taksi banyak lalu-lalang dan berhenti mencari penumpang. Di seberang kios-kios jasa tukang cukur  yang dekat Marwa itu, kami malah menemukan pangkalan bis yang khusus beroperasi dalam kota.

Gerimis mulai berubah menjadi butiran air yang semakin deras. Kami terpaksa jalan cepat-cepat ke arah pangkalan bis. Di antara puluhan bis yang ada disitu, ternyata tak satupun bis yang melewati kawasan penginapan kami. Qaddarallahu wa maa syaa’ fa’al.

Kata sopir-sopirnya, kami harus jalan lagi beberapa meter sampai perempatan terdekat, disana kami bisa dapati bis yang ke arah funduq.

Hujan bertambah deras. Kami putuskan untuk berteduh di parkiran bis. Tepatnya di dalam salah satu bis yang ada disitu. Sebab parkiran bis ini hanya berupa lapangan luas tanpa bangunan yang bisa dijadikan tempat berteduh. Sopirnya dengan baik hati mengizinkan kami naik ke bis bersama beberapa orang lain menunggu hujan reda.

Cukup lama kami berteduh di bis itu, hingga akhirnya memutuskan untuk segera turun dan mencegat taksi yang lewat. Dan, kejutan!! Hanya karena hujan beberapa jam, tarif taksi langsung naik dua kali lipat, dari SAR 10 menjadi SAR 30. Setiap ditawar para sopir itu berlagak jual mahal. Suami tetap bersikeras tak mau naik dengan tarif begitu.

Alhamdulillah, tak lama setelahnya, ada juga taksi yang tetap pakai tarif  biasa. Kami pun segera naik dengan baju agak kuyup.

Sopirnya orang Saudi, penduduk asli Mekkah. Terlihat baik dan ramah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya bertanya tentang kami. Ketika mobil baru jalan si Sopir membuka obrolan tentang hujan yang sedang turun. “Semoga tadi malam lailatul qadar, ya Akhi. Ini hujan paling deras di Mekkah selama 3 tahun terakhir. Alhamdulillah, ini nikmat dari Allah”. Suami saya mengaminkan.

Si Bapak Sopir kemudian bertanya; “dari mana asal kalian”, “dimana kalian tinggal?”, “berapa lama kalian tinggal di Saudi?”, “bagaimana keadaan Riyadh? Kamu suka tinggal disana?”. “apa pekerjaanmu?”, dlsb.

Begitu tahu suami seorang mahasiswa, tanpa basi-basi beliau tanya berapa mukafa’ah (uang bulanan) yang diterima dari jami’ah (kampus). Suami pun menjawabnya apa adanya, lalu menambahkan, “Sebenarnya kami ke Saudi tujuan utamanya mau belajar ilmu syar’i. Jadi kegiatan saya di Riyadh, pagi ke kampus, sorenya ikut dars masyaikh di masjid. Alhamdulillah di Riyadh istri saya juga bisa belajar Bahasa Arab di madrasah khusus ajnabiyyaat (perempuan non Arab) dan ikut halaqah hapalan Al-Quran.”

Obrolan terus mengalir, sampai tak terasa kami sudah mendekati funduq. Suami memberi isyarat untuk berhenti. Dari bangku belakang saya menyodorkan kepada suami selembar SAR10 untuk diberikan ke Bapak Sopirnya sebagai ongkos taksi.

Tak disangka Bapak Sopir itu tak mau menerima uang tersebut. Suami bahkan sampai memaksa, Beliau tetap tak mau juga. Beliau malah mendoakan kami, dan berucap, ” Yaa Akhi, saya tahu kalian orang baik-baik. Tolong, saya hanya ingin doa dari kalian saja untuk saya.”
“Jangan begitu. Kami jadi tidak enak. Dari masjid kesini kan lumayan jauh, jadi terimalah uang ini,” balas suami.
” Tidak Akhi. Saya hanya ingin doa kalian saja.”
“Jazakallaah khayraa. Tolong doakan kami berdua juga.”
“Hayyakallaah…” Mobil si Bapak itu pun melaju di antara genangan air yang memenuhi Syaari’ ‘Umar Bin Khattab.

Di antara langkah-langkah kaki menuju funduq, lamat-lamat saya merapal doa kepada Sang Pemelihara Negeri yang aman ini, semoga Ia melimpahkan segala kebaikan untuk dua sopir baik hati yang yang kami temui hari ini.

Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahi kami dengan berbagai nikmat.

ramadan in makkah

Diselesaikan menjelang dinihari,
Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 14 Syawwal 1434 H

Verawaty Lihawa

Cerita dari Haramain #1: Dua Sopir